"Ng! Ich bin Felicia Lombardi. Ich bin Italien. Wie wollen sie tun? Mir geht es gut. Danke,"
"Anak pintar! Kau sudah menguasainya," ujar Jürgen sambil mengusap rambut Felicia.
"Heh, aku ini lebih tua darimu! Wie unverschämt!" Felicia tertawa, sambil mencoba menyingkirkan tangan besar Jürgen dari kepalanya. Reaksinya kembali disambut tawa Jürgen. "Kalau begitu... Kupanggil tante saja, ya? Est tut mir leid für meine frechheit, tante,"
"... Sudahlah. Cukup panggil Feli saja," jawab Felicia sambil menundukkan kepalanya. Jürgen menepuk pundak Felicia. "Sabar,"
"Sekarang giliranmu,"
"Si, si. Sono Jürgen Schultz, sono Germania. Come si fa a fare? Sto bene, grazie," Ucap Jürgen dengan lancar. Felicia mengangguk kagum. "Kau cepat belajar," Felicia mengacungkan jempolnya.
Sudah beberapa minggu mereka menjalani rutinitas seperti ini. Bertemu di bawah pohon Oak, saling bertukar dan belajar bahasa. Entah karena lingkungannya atau apa, Felicia lebih cepat bisa berbahasa Jerman daripada Jürgen yang belajar bahasa Italia. Sekarang, Felicia sudah bisa berbahasa Jerman dengan fasih.
Selain bertukar bahasa, terkadang mereka melakukan kegiatan-kegiatan aneh lainnya. Misalnya, seekor anjing yang kebetulan lewat di depan mereka sering menjadi korban 'pelecehan' Felicia. Begitu kata Jürgen. "Felicia menyentuhnya tanpa izin!" Ayolah Jürgen. Bagaimana caranya dan untuk apa meminta izin dari seekor anjing hanya untuk mengelusnya saja?
"Jürgen, berapa tahun umur kakakmu?" tanya Felicia dengan ceria, seperti biasa. "21 tahun, kenapa?" Jürgen menjawabnya dengan bingung.
"... Dia... Sudah punya pacar?"
"... Eh?! Kau mengincarnya?"
"Bu... Bukan begitu, narr! Aku hanya penasaran,"
"Ng... ada. Teman masa kecilnya, Katharina. Dia cantik... Sepertimu," Jürgen mengucapkan kata 'sepertimu' dengan suara sangat pelan dan malu-malu, sepertinya tak terdengar oleh Felicia.
"He~ mungkin sebaiknya kau cari seorang wanita juga! Di Italia dengan wajah seperti ini, kau bisa mendapatkan yang cantik, lho!" Wajah Jürgen berubah merah padam. "Sikapmu juga. Baik, perhatian... Tipikal bapak rumah tangga! Dan..." Felicia memegang pipi Jürgen. "Kebiasaan wajahmu memerah~!" Ah, anak ini imut sekali, pikir Felicia.
"S... STOP. Kau, kau mulai... Terdengar seperti pedofil..." Jürgen menyingkirkan tangan Felicia dari pipinya. Felicia hanya tertawa kecil.
Namun, hari itu, Jürgen belum tahu apa yang tersembunyi di balik senyuman Felicia.
***
TOK, TOK, TOK.
Seorang pria berbaju serba hitam berjalan dengan gagahnya menyusuri sebuah koridor. Suara tapak sepatunya sampai bergema ke ujung koridor yang sunyi itu. Di tangannya, digenggam sebuah amplop kertas berwarna coklat tua. Setelah beberapa lama berjalan, ia berhenti di depan sebuah pintu kayu yang besar. Ia memegang gagang pintu yang sudah sedikit berkarat, membuka pintu berat itu perlahan sehingga menimbulkan sedikit decitan saat dibuka.
Di dalam ruangan, didapatinya meja panjang untuk rapat yang disusun membentuk sebuah lingkaran, serta kursi-kursi yang sudah ditempati masing-masing pria berbaju serba hitam juga. Kecuali satu, seorang wanita muda dengan sebuah pita bergaris hitam tersemat di dadanya.
Didatanginya wanita itu, lalu diserahkannya amplop kertas coklat tua di tangannya. Wanita itu menerimanya dengan mata hazelnya yang menatap dingin ke arah lawan bicaranya. "Grazie," ucapnya pelan.
"Apapun untuk tunanganku," dipegangnya tangan wanita itu, dan sebuah kecupan hangat didaratkan di pipinya. Wanita itu membuka amplop kertas dan mengeluarkan isinya. Dua buah berkas yang tersusun rapi, masing-masing berisi identitas beserta sebuah foto yang ditempel dengan klip kertas di pojok kiri atas tiap berkas. Ia menangkap sesuatu di salah satu berkas. Tulisan 'Leutnant' tercetak tebal sebelum sebuah nama.
Leutnant Jürgen Fritzmann Schultz.
Terpampang foto Jürgen dalam warna sepia di pojok kiri atas berkas yang dipegang wanita muda tersebut. Seragam luftwaffe dikenakannya, beserta salib besi yang kali ini dikalungkan di lehernya. Sedang satu berkas lainnya berisi tentang Adler Ritterkoenig Schultz, kakak laki-laki Jürgen.
"Kakak-beradik yang hebat, ya? Keduanya memegang peranan penting," ucap lelaki berbaju serba hitam tadi, sembari membalikkan badan dari wanita itu. Wanita tadi masih sibuk membolak-balik berkas kakak-beradik Schultz.
"Pengguna Gewehr 98... Rifle yang digunakan saat Perang Dunia I, sekarang digunakan secara terbatas, bukan? Adler Ritterkoenig Schultz bukan sniper sembarangan. Lalu adiknya... Seorang luftwaffe berpangkat Leutnant, fighter pilot Messerschmitt Bf 110 Nachtjagdgeschwader. Heavy night fighter. Keduanya dijadikan 'senjata rahasia' Jerman," analisis wanita muda tersebut ternyata sangat akurat, dan membuat para peserta rapat di ruangan itu berdecak kagum. Analisisnya pun menuai senyuman puas dari lelaki yang kembali membalikkan badannya ke arah wanita muda tersebut.
"Tak sia-sia sebentar lagi kau akan menjadi seorang Vargas, Feli," sahut Antonio Vargas, lelaki berbaju serba hitam yang membawa berkas tadi. Wanita muda tunangan Antonio pun tak lain adalah Felicia Lombardi, satu-satunya wanita di ruangan rapat La Resistenza Italiana siang itu. Felicia pun kembali merapihkan berkas-berkas tersebut, dan kembali memasukkannya ke dalam amplop kertas coklat tua.
"... Lalu, apa kita akan tindak lanjuti mereka berdua? Kau merencanakan sesuatu, Antonio?'
Sahut sebuah suara dari pojok ruangan. Simone Lombardi, seorang lelaki paruh baya. Ayah Felicia, lebih tepatnya. "Kau tahu, mungkin --- membunuh mereka berdua bisa memberi keuntungan besar 'kan? Jerman akan kehilangan senjata mereka. Saat sedang lengah seperti itulah, kita dapat menggempurnya," lanjut Simone. Sebagian besar peserta rapat Resistenza pun mengiyakan usul Simone. Kecuali Felicia, yang kaget mendengar respon ayahnya.
Bunuh...? Membunuh Jürgen?
"Ta... Tapi, bukankah lebih baik... Jika kita pertimbangkan dulu?"
"Apa maksudmu, Felicia?" Tanya Simone dengan keras.
Tidak --- aku belum ingin berpisah dengan Jürgen. Tidak sekarang. Aku masih ingin melihatnya, bermain dengannya.
"Maksudku... Mungkin kita bisa... Mencuri lebih banyak informasi dulu! Atau, atau, kita... Kita bisa meminta bantuan Inggris! Atau..."
Para peserta rapat Resistenza mulai gelisah. Seumur-umur, mereka belum pernah melihat seorang Felicia Lombardi mengusulkan sebuah pertimbangan untuk menyerang Jerman. Biasanya, Felicia hanya mengiyakan usul-usul dari anggota Resistenza, atau menyusun strategi yang selama ini --- belum pernah gagal sekalipun.
Tidak --- aku tak ingin berada di sini... Tidak... Aku ingin bertemu Jürgen sekarang juga --- SEKARANG!
"... Yang jelas... Kita tak harus membunuh mereka... 'kan? Kumohon --- jangan buat keputusan dengan terburu-buru..." Ucap Felicia terbata-bata. Tangan dan bibirnya bergetar. Ia tahu, tak mungkin ia bisa katakan baik pada ayahnya atau di hadapan anggota Resistenza lainnya... Soal ia berteman dengan Jürgen. Lebih dari teman, mungkin. Apalagi pada Antonio. Resikonya terlalu besar.
Simone langsung menggebrak meja rapat, kesal mendengar alasan konyol putrinya. "SADARLAH! Kita tak bisa seperti itu, Feli---"
"Tunggu," potong Antonio. Antonio mendekati Felicia yang tertunduk diam di bangkunya. "Feli, kau..." Antonio mengangkat dagu Felicia.
"Menangis,"
Mata coklat Antonio menatap lurus mata hazel Felicia yang berkaca-kaca. Suara bisikan-bisikan pelan bergema sampai ke pojok ruangan rapat. "Antonio, maaf, aku..." Felicia menepis tangan Antonio dari dagunya. Ia lalu kembali menundukkan kepalanya dan mengusap matanya. Antonio, yang mengerti alasannya, segera membalikkan badan menghadap para peserta rapat Resistenza.
"Saudara-saudara, saya mohon jangan terjadi kesalahpahaman apapun karena kejadian ini. Kondisi tubuh Felicia sedang kurang baik, itu saja. Jadi, saya mohon pengertian sepenuhnya dari saudara sekalian," Antonio meraih lengan Felicia dan mengangkatnya dari kursinya, membopongnya ke luar ruangan. Tanpa membalikkan badan sedikitpun, tepat sebelum keluar dari ruangan Antonio meninggalkan perintah.
"Kekuasaan atas jalannya rapat La Resistenza Italiana saya alihkan ke Simone Lombardi. Diskusikan strategi penyerangan markas besar Jerman lewat udara. Dan tolong --- tunda pembahasan tentang Schultz bersaudara,"
"Simone Lombardi, siap mengambil alih," jawab Simone.
"Anzio dan Marinotti, pantau keadaan field. Bawa beberapa amunisi untuk berjaga-jaga. Jangan remehkan keadaan field sedikitpun, semuanya harus sempurna. Jika keadaan sudah memungkinkan, lapor ke markas,"
"Felix Anzio dan Lorenzo Marinotti, siap laksanakan," jawab keduanya secara bersamaan.
"De Luca, hubungi Kirkland. Kita harus meminta beberapa bantuan dari sekutu untuk akomodasi serta amunisi,"
"Alfonso De Luca, siap laksanakan," jawabnya.
"Laksanakan segera," kata-kata penutup yang diucapkan Antonio dengan nada datar, membuat orang-orang yang bersangkutan pun langsung menjalankan tugasnya masing-masing. Antonio menutup pintu kayu ruang rapat perlahan.
Di luar ruangan, tepatnya di koridor, Antonio masih mencoba menenangkan Felicia dalam dekapannya. "Feli..." ucap Antonio sambil mengusap rambut Felicia. Felicia menggenggam baju Antonio kuat-kuat.
"... Antonio, kumohon... Jangan bunuh Schultz bersaudara dulu... Jangan..." Badan Felicia bergetar hebat, membuat Antonio semakin khawatir.
"Tapi, ini demi Resiste---" Antonio langsung memotong kata-katanya, tepat sebelum bulir air mata mulai membasahi wajah Felicia. "... Ada sesuatu yang kau simpan, Feli?" tanya Antonio dengan lembut. Felicia hanya menggeleng pelan. Ini tetap menjadi rahasianya dengan Jürgen. Tak ada yang perlu tahu, Antonio sekalipun.
"Aku... hanya tak tega melihat mereka meninggal, Antonio. Mereka juga... Pasti punya orang yang membutuhkan mereka. Posisikan saja dirimu di posisi orang yang membutuhkan mereka, Antonio. Jika saja --- jika yang mati adalah aku, Apa kau tega? Kau tahan melihatnya, Antonio?"
Antonio menggelengkan kepalanya, mengeratkan dekapannya. "Kau kenal salah seorang dari Schultz bersaudara, Feli? Tak biasanya kau sampai mati-matian begini mempertahankan orang Jerman,"
"... Non, Antonio," jawab Felicia singkat. Antonio pun mempercayai Felicia begitu saja.
"... Baiklah. Tak apa, Feli."
To be continued.
***
Italiano
Si, si. Sono Jürgen Schultz, sono Germania. Come si fa a fare? Sto bene, grazie. :
Ya, ya. Aku Jürgen Schultz, seorang Jerman. Apa kabar? Aku baik-baik saja, terima kasih.
Grazie : terima kasih
Non : tidak
Deutsche
Ich bin Felicia Lombardi. Ich bin Italien. Wie wollen sie tun? Mir geht es gut. Danke. :
Aku Felicia Lombardi, seorang Italia. Apa kabar? Aku baik-baik saja, terima kasih.
Wie unverschämt! : tidak sopan!
Est tut mir leid für meine frechheit, tante. : Maaf atas ketidaksopanan saya, bibi.
narr : bodoh
Leutnant : Letnan
Messerschmitt Bf 110 Nachtjagdgeschwader : Sering disebut Me 110 NJG 4, pesawat perang Jerman bermesin ganda saat Perang Dunia II, biasa dipakai untuk menyerang pada malam hari.
***
No comments:
Post a Comment