Apa yang sebenarnya kuinginkan?
Salju terasa membekukan badannya pula, tiap butirnya serasa menusuk ganas tubuhnya. Ia tahu, yang ia lakukan sebenarnya percuma saja. Ia tahu persis, yang ia lakukan hanya menyelamatkan Resistenza, menyelamatkan Inggris, menyelamatkan Sekutu --- bukan untuk menyelamatkan Jürgen dan dirinya juga. Rajutan kepercayaan Resistenza kepadanya, sang burung penyampai pesan --- kini terlanjur terkoyak berantakan. Baik De Luca, Marinotti, Antonio, bahkan ayahnya. Tak satupun akan kembali menaruh kepercayaan padanya, tak satupun akan membalikkan punggungnya untuk melihatnya. Jika misi kali ini keberhasilan akan berada di tangan Resistenza sekalipun, Felicia akan kehilangan nyaris segalanya --- mungkin tidak. Masih ada satu orang di sisinya, yang selalu setia bagaikan seorang pelayan. Hanya Felix seorang yang mau, dan itupun jika Felix rela menanggalkan darah Resistenza yang mengalir dalam tubuhnya.
Inikah yang kucari, keinginanku yang sebenarnya? Yakin akan pilihanku ini? Ya Tuhan, aku, aku...
Di matanya, segala sesuatu di sekitarnya terasa berjalan begitu lambat. Diulurkan tangannya sebisa mungkin, berharap dapat menangkap bayangan punggung Jürgen yang berjalan makin menjauh. Tirai kabut salju menghalangi pandangannya, menyapu semuanya dengan warna putih bersih. Darahnya terasa panas bergejolak. Mata hazelnya berkilat. Dihela nafasnya dengan cepat dalam satu gerakan.
Oh Tuhan --- aku tak bisa membiarkannya mati.
"---Jürgen!" Ia berteriak kencang, demi mendapatkan mata pemuda itu kembali menatapnya. Punggungnya berbalik, namun tetap berdiri terpaku di sana. Felicia beranjak, berdiri di atas topangan kakinya yang lemas, berjalan sempoyongan --- sebisa kakinya menahan bobot tubuhnya. "Jangan..." suaranya parau seperti diseret, nafasnya tersenggal-senggal, terdengar layaknya orang sekarat. Tepat di depan Jürgen nyaris ia jatuh tersungkur, sebelum lengan Jürgen yang terlatih otot-ototnya kembali menangkap tubuh kurusnya.
"Jangan kembali ke markasmu!" Teriak Felicia dengan suara serak --- putus asa. Matanya tetap menatap mata kobalt Jürgen di hadapannya.
Jürgen mendesah lelah. Nalarnya tetap mendorongnya untuk kembali ke markasnya secepat mungkin --- mengurus setumpuk pekerjaan yang sama sekali belum sempat disentuhnya. Ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan markas selangkahpun hari ini, namun entah kenapa perasaannya mengharuskan demikian. Jelas Jürgen tak akan pernah tahu bagaimana nasibnya jika ia tidak pergi menemui Felicia hari ini.
"Felicia, tolong. Aku benar-benar harus---"
"Kau bisa mati, Jürgen! MATI!" Felicia terkejut, tak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh dirinya sendiri. Kata-katanya keluar begitu saja bagaikan peluru dari senapan mesin. Kata-kata yang seharusnya tak pernah ia ucapkan. Jürgen, yang tersentak --- matanya terbelalak lebar, kaget. "Aku... apa?" ucapnya tak percaya. Jelas saja, bagaimana mungkin dan ingin ia percaya --- bahwa dirinya akan mati?
Felicia berpikir secepat mungkin. Terlanjur. Terlanjur, tak akan bisa kembali lagi. Apa yang bisa ia lakukan. Sesuatu, apapun. Apapun, apapun. Felicia hanya bisa berdiri. Tertawa kecil, seakan mengejek --- sedang sebenarnya gemetar menahan tangis. "Jürgen," dipanggilnya nama pemuda yang ia cintai. "Hari ini... tanggal 14 Desember, bukan?" Otaknya mengeluarkan segala yang sudah didengar dan diserapnya saat rapat Resistenza belakangan ini. Rapat penuh siksaan baginya.
Ini saatnya. Saatnya untuk Felicia mengkhianati apa yang sudah ia percayai, apa yang sudah ia perjuangkan, apa yang sudah tumbuh bersamanya, hidup dalam lajur darahnya --- La Resistenza Italiana. Ia telah membuat keputusannya, dan tak akan lari kemanapun lagi. Akan ia hadapi kenyataan yang memang harus ia terima.
Kemudian Felicia mengadahkan wajahnya, menerawang ke langit luas di atasnya. "Saat ini, dibawah langit ini juga -- mungkin atasanmu sedang rapat, ya? Duduk di atas kursi berlapis bahan kulit hitam, membicarakan tentang, entahlah, Operasi Bodenplatte?" Nafas Jürgen tercekat, berhenti sesaat. Terlalu sulit untuknya mempercayai kata-kata gadis ini. Unternehmen Bodenplatte! Um Gottes willen --- bahkan baru orang dalam yang bersangkutan saja yang tahu soal ini. Lalu, bagaimana ia bisa tahu...
"Hari itu juga, hari yang lumayan keras --- kau beserta rekanmu melihat betapa kelabunya langit secara langsung, bersama dengan pilot-pilot Inggris," lanjut Felicia. "Oh, dan luftwaffe gagal. Belakangan, luftwaffe memang sedang krisis, 'kan? Seketika, langitnya berubah menjadi merah, ya," tambahnya dengan santai. Suaranya seperti bukan lagi suaranya sendiri.
Mendengar kejadian hari itu kembali diungkit, refleks saja Jürgen naik pitam. Bagaimana tidak, bukan saja hanya karena Jerman lagi-lagi gagal --- namun gara-gara pilot Inggris kurang ajar itu, ia harus kehilangan sahabatnya, Kaufmann. Sungguh --- kenapa harus diingatkan kembali. "Felicia!" potong Jürgen nyaris berteriak. Ia tak ingin mengingat kembali bagaimana api memakan habis tubuh temannya, lebur bersama badan pesawat yang hancur --- semua terjadi tepat di depan matanya sendiri.
Felicia berhenti sesaat, kembali menghela nafasnya. "Lalu, genap enam hari dari sekarang..." Felicia menutup matanya, letih. Kembali teringat olehnya data mengerikan yang terbungkus rapi oleh amplop cokelat muda, ditutup dengan spidol merah Antonio.
Target kita adalah udara. Luftwaffe.
Ini daftar target utama kita --- Opsir-opsir berpangkat tinggi serta beberapa fighter pilot terbaik luftwaffe.
Penyerangan akan dilakukan hari Rabu, 20 Desember 1944.
Kau tak perlu beritahu aku, informasi yang kudapatkan sudah cukup.
Kau bukan anakku lagi.
Lebih baik kau mati saja.
Mati.
Mereka terserap dalam keheningan terlalu lama. Baik Felicia maupun Jürgen, tak satupun membuka suara. Jürgen masih terlalu kaget meskipun hanya sekedar menanyakan sesuatu --- lidahnya sukses dilumpuhkan serentetan kata-kata Felicia. Sementara Felicia tenggelam dalam ingatannya sendiri. Ia merasa seakan tak ada Jürgen di hadapannya. Ya --- ini adalah rumahnya, ia masih mendengar makian kejam dari ayahnya sekarang.
Namun, Felicia tak ingin keheningan ini berlangsung lebih lama. Ia hanya menginginkan Jürgen tahu apa yang akan menimpanya. Ia hanya ingin Jürgen tahu apa yang dirahasiakan darinya selama ini. Tak lebih tak kurang, hanya itu. Akhirnya, Felicia pun angkat berbicara. "Enam hari dari sekarang, markas besar luftwaffe akan digempur Inggris baik dari udara maupun jalur darat," ia mengucapkannya pelan, nyaris seperti sedang berbisik pada dirinya sendiri. "Target mereka sebenarnya hanyalah orang-orang yang memegang kunci vital kekuatan luftwaffe. Kau juga berada di dalam daftar mereka, Leutnant Schultz,"
"Dan mulai besok, aku tak akan pernah lagi menapakkan kaki di Berlin, bahkan di Jerman --- untuk seumur hidupku, mungkin. Jalan apapun yang kupilih---" Felicia beristirahat, memudarkan senyuman yang dipaksakan di wajahnya. Di mata hazel Felicia tersirat kesedihan yang begitu mendalam, yang akan selalu membekas dalam dirinya.
"Jadi hari ini... Hari terakhir aku bisa bertemu denganmu,"
Felicia membiarkan angin berhembus meniup rambut cokelat gelapnya, berlalu tanpa menyentuh syal merah marun yang masih membalut rapi lehernya. Kembali ia tersenyum simpul, kali ini begitu tulus senyumnya diulas. Senyum terakhir yang ia berikan kepada orang yang benar-benar dicintainya. "Itu sebabnya, aku tak ingin membiarkanmu pergi ke markasmu," jawab Felicia dengan tenang, menutup semua perkataannya.
Jürgen yang masih membisu, mencoba keras meyakinkan bahwa semua hal yang baru saja didengarnya adalah kebohongan. Felicia Lombardi adalah Felicia Lombardi, Felicia yang selama ini ia kenal --- gadis Italia yang senantiasa ceria, gadis polos yang sifatnya seperti laki-laki --- bukan wanita serius yang berdiri tegak di hadapannya sekarang, terlihat begitu kuat di tengah keputusasaannya. "Felicia... Ini semua --- benar? Kau bohong, 'kan? Tidak mungkin, kau --- bagaimana kau tahu..." tanya Jürgen dengan ragu, lidahnya seakan tertancap paku, terlalu kaku untuk berbicara.
Felicia mengangguk pelan dengan begitu menderita. "Sayangnya, aku tidak berbohong. Lagipula, jangan memaksaku untuk mengatakan alasannya," jawabnya tegar. Matanya kini sudah dibukanya, menatap lurus mata kobalt Jürgen yang tinggi, membuatnya harus mengadah sedikit.
Jürgen terdiam sesaat. Ujung alisnya berkerut --- mengerucut ke arah bawah. Air mukanya berubah, terkejut --- betapa tersentaknya ia ketika menyadari sesuatu janggal yang terlintas di pikirannya. Emosi mulai menggerogoti tenggorokannya, membuatnya berteriak dengan suara serak dan kesal.
"Kau --- kau anggota La Resistenza Italiana!"
***
Deutsch
Unternehmen Bodenplatte --- Um Gottes willen! : Operasi Bodenplatte (Eng : Baseplate) --- Demi Tuhan!
Operasi Bodenplatte : Diluncurkan 1 Januari 1945 (termasuk dalam Battle of Bulge), merupakan upaya luftwaffe untuk menjatuhkan kekuatan udara Sekutu di Low Countries : Belgia, Belanda, Utara Perancis dan Jerman bagian barat. Awalnya hendak dilakukan 16 Desember 1944, namun harus ditunda hingga Tahun Baru dikarenakan cuaca buruk. Jerman memang berhasil menghancurkan beberapa aircraft Sekutu, namun Jerman tetap dinilai gagal, serta kehilangan fighter pilot yang tidak bisa digantikan. Operasi Bodenplatte juga dilakukan dengan taktik bantuan penyerangan dari darat oleh long-range bomber. Pada tanggal 14 Desember 1944, para pemimpin-pemimpin dari setiap bagian yang terlibat mengadakan rapat untuk membahas masalah ini.