Friday, December 14, 2012

Fröhliche Weihnachten, Pt. 6

Satu demi satu, keping demi keping salju kembali turun menghujam tanah Berlin. Seakan salju di perasaannya tak bisa mencair, tak setitik air matapun dapat meleleh dari matanya lagi. Felicia melepas kepergian Jürgen dengan senyuman setulus mungkin, membiarkan dirinya tersiksa rasa sakit, mengharapkan Jürgen tewas secepatnya. Entah apa yang merasukinya, akal sehatnya tak lagi bisa bekerja. Dengan teganya ia melepas sang pemuda Jerman yang telah diperjuangkan mati-matian nyawanya oleh tangan dan hati Felicia sendiri --- dan sekarang? Hatinya sendirilah yang menolak nalurinya untuk menyelamatkan Jürgen.

Apa yang sebenarnya kuinginkan?

Salju terasa membekukan badannya pula, tiap butirnya serasa menusuk ganas tubuhnya. Ia tahu, yang ia lakukan sebenarnya percuma saja. Ia tahu persis, yang ia lakukan hanya menyelamatkan Resistenza, menyelamatkan Inggris, menyelamatkan Sekutu --- bukan untuk menyelamatkan Jürgen dan dirinya juga. Rajutan kepercayaan Resistenza kepadanya, sang burung penyampai pesan --- kini terlanjur terkoyak berantakan. Baik De Luca, Marinotti, Antonio, bahkan ayahnya. Tak satupun akan kembali menaruh kepercayaan padanya, tak satupun akan membalikkan punggungnya untuk melihatnya. Jika misi kali ini keberhasilan akan berada di tangan Resistenza sekalipun, Felicia akan kehilangan nyaris segalanya --- mungkin tidak. Masih ada satu orang di sisinya, yang selalu setia bagaikan seorang pelayan. Hanya Felix seorang yang mau, dan itupun jika Felix rela menanggalkan darah Resistenza yang mengalir dalam tubuhnya.

Inikah yang kucari, keinginanku yang sebenarnya? Yakin akan pilihanku ini? Ya Tuhan, aku, aku...

Di matanya, segala sesuatu di sekitarnya terasa berjalan begitu lambat. Diulurkan tangannya sebisa mungkin, berharap dapat menangkap bayangan punggung Jürgen yang berjalan makin menjauh. Tirai kabut salju menghalangi pandangannya, menyapu semuanya dengan warna putih bersih. Darahnya terasa panas bergejolak. Mata hazelnya berkilat. Dihela nafasnya dengan cepat dalam satu gerakan.

Oh Tuhan --- aku tak bisa membiarkannya mati.

"---Jürgen!" Ia berteriak kencang, demi mendapatkan mata pemuda itu kembali menatapnya. Punggungnya berbalik, namun tetap berdiri terpaku di sana. Felicia beranjak, berdiri di atas topangan kakinya yang lemas, berjalan sempoyongan --- sebisa kakinya menahan bobot tubuhnya. "Jangan..." suaranya parau seperti diseret, nafasnya tersenggal-senggal, terdengar layaknya orang sekarat. Tepat di depan Jürgen nyaris ia jatuh tersungkur, sebelum lengan Jürgen yang terlatih otot-ototnya kembali menangkap tubuh kurusnya.

"Jangan kembali ke markasmu!" Teriak Felicia dengan suara serak --- putus asa. Matanya tetap menatap mata kobalt Jürgen di hadapannya.

Jürgen mendesah lelah. Nalarnya tetap mendorongnya untuk kembali ke markasnya secepat mungkin --- mengurus setumpuk pekerjaan yang sama sekali belum sempat disentuhnya. Ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan markas selangkahpun hari ini, namun entah kenapa perasaannya mengharuskan demikian. Jelas Jürgen tak akan pernah tahu bagaimana nasibnya jika ia tidak pergi menemui Felicia hari ini.

"Felicia, tolong. Aku benar-benar harus---"

"Kau bisa mati, Jürgen! MATI!" Felicia terkejut, tak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh dirinya sendiri. Kata-katanya keluar begitu saja bagaikan peluru dari senapan mesin. Kata-kata yang seharusnya tak pernah ia ucapkan. Jürgen, yang tersentak --- matanya terbelalak lebar, kaget. "Aku... apa?" ucapnya tak percaya. Jelas saja, bagaimana mungkin dan ingin ia percaya --- bahwa dirinya akan mati?

Felicia berpikir secepat mungkin. Terlanjur. Terlanjur, tak akan bisa kembali lagi. Apa yang bisa ia lakukan. Sesuatu, apapun. Apapun, apapun. Felicia hanya bisa berdiri. Tertawa kecil, seakan mengejek --- sedang sebenarnya gemetar menahan tangis. "Jürgen," dipanggilnya nama pemuda yang ia cintai. "Hari ini... tanggal 14 Desember, bukan?" Otaknya mengeluarkan segala yang sudah didengar dan diserapnya saat rapat Resistenza belakangan ini. Rapat penuh siksaan baginya.

Ini saatnya. Saatnya untuk Felicia mengkhianati apa yang sudah ia percayai, apa yang sudah ia perjuangkan, apa yang sudah tumbuh bersamanya, hidup dalam lajur darahnya --- La Resistenza Italiana. Ia telah membuat keputusannya, dan tak akan lari kemanapun lagi. Akan ia hadapi kenyataan yang memang harus ia terima.

Kemudian Felicia mengadahkan wajahnya, menerawang ke langit luas di atasnya. "Saat ini, dibawah langit ini juga -- mungkin atasanmu sedang rapat, ya? Duduk di atas kursi berlapis bahan kulit hitam, membicarakan tentang, entahlah, Operasi Bodenplatte?" Nafas Jürgen tercekat, berhenti sesaat. Terlalu sulit untuknya mempercayai kata-kata gadis ini. Unternehmen Bodenplatte! Um Gottes willen --- bahkan baru orang dalam yang bersangkutan saja yang tahu soal ini. Lalu, bagaimana ia bisa tahu...

"Hari itu juga, hari yang lumayan keras --- kau beserta rekanmu melihat betapa kelabunya langit secara langsung, bersama dengan pilot-pilot Inggris," lanjut Felicia. "Oh, dan luftwaffe gagal. Belakangan, luftwaffe memang sedang krisis, 'kan? Seketika, langitnya berubah menjadi merah, ya," tambahnya dengan santai. Suaranya seperti bukan lagi suaranya sendiri.

Mendengar kejadian hari itu kembali diungkit, refleks saja Jürgen naik pitam. Bagaimana tidak, bukan saja hanya karena Jerman lagi-lagi gagal --- namun gara-gara pilot Inggris kurang ajar itu, ia harus kehilangan sahabatnya, Kaufmann. Sungguh --- kenapa harus diingatkan kembali. "Felicia!" potong Jürgen nyaris berteriak. Ia tak ingin mengingat kembali bagaimana api memakan habis tubuh temannya, lebur bersama badan pesawat yang hancur --- semua terjadi tepat di depan matanya sendiri.

Felicia berhenti sesaat, kembali menghela nafasnya. "Lalu, genap enam hari dari sekarang..." Felicia menutup matanya, letih. Kembali teringat olehnya data mengerikan yang terbungkus rapi oleh amplop cokelat muda, ditutup dengan spidol merah Antonio.

Target kita adalah udara. Luftwaffe.

Ini daftar target utama kita --- Opsir-opsir berpangkat tinggi serta beberapa fighter pilot terbaik luftwaffe.

Penyerangan akan dilakukan hari Rabu, 20 Desember 1944.

Kau tak perlu beritahu aku, informasi yang kudapatkan sudah cukup.

Kau bukan anakku lagi.

Lebih baik kau mati saja.

Mati.

Mereka terserap dalam keheningan terlalu lama. Baik Felicia maupun Jürgen, tak satupun membuka suara. Jürgen masih terlalu kaget meskipun hanya sekedar menanyakan sesuatu --- lidahnya sukses dilumpuhkan serentetan kata-kata Felicia. Sementara Felicia tenggelam dalam ingatannya sendiri. Ia merasa seakan tak ada Jürgen di hadapannya. Ya --- ini adalah rumahnya, ia masih mendengar makian kejam dari ayahnya sekarang.

Namun, Felicia tak ingin keheningan ini berlangsung lebih lama. Ia hanya menginginkan Jürgen tahu apa yang akan menimpanya. Ia hanya ingin Jürgen tahu apa yang dirahasiakan darinya selama ini. Tak lebih tak kurang, hanya itu. Akhirnya, Felicia pun angkat berbicara. "Enam hari dari sekarang, markas besar luftwaffe akan digempur Inggris baik dari udara maupun jalur darat," ia mengucapkannya pelan, nyaris seperti sedang berbisik pada dirinya sendiri. "Target mereka sebenarnya hanyalah orang-orang yang memegang kunci vital kekuatan luftwaffe. Kau juga berada di dalam daftar mereka, Leutnant Schultz,"

"Dan mulai besok, aku tak akan pernah lagi menapakkan kaki di Berlin, bahkan di Jerman --- untuk seumur hidupku, mungkin. Jalan apapun yang kupilih---" Felicia beristirahat, memudarkan senyuman yang dipaksakan di wajahnya. Di mata hazel Felicia tersirat kesedihan yang begitu mendalam, yang akan selalu membekas dalam dirinya.

"Jadi hari ini... Hari terakhir aku bisa bertemu denganmu,"

Felicia membiarkan angin berhembus meniup rambut cokelat gelapnya, berlalu tanpa menyentuh syal merah marun yang masih membalut rapi lehernya. Kembali ia tersenyum simpul, kali ini begitu tulus senyumnya diulas. Senyum terakhir yang ia berikan kepada orang yang benar-benar dicintainya. "Itu sebabnya, aku tak ingin membiarkanmu pergi ke markasmu," jawab Felicia dengan tenang, menutup semua perkataannya.

Jürgen yang masih membisu, mencoba keras meyakinkan bahwa semua hal yang baru saja didengarnya adalah kebohongan. Felicia Lombardi adalah Felicia Lombardi, Felicia yang selama ini ia kenal --- gadis Italia yang senantiasa ceria, gadis polos yang sifatnya seperti laki-laki --- bukan wanita serius yang berdiri tegak di hadapannya sekarang, terlihat begitu kuat di tengah keputusasaannya. "Felicia... Ini semua --- benar? Kau bohong, 'kan? Tidak mungkin, kau --- bagaimana kau tahu..." tanya Jürgen dengan ragu, lidahnya seakan tertancap paku, terlalu kaku untuk berbicara.

Felicia mengangguk pelan dengan begitu menderita. "Sayangnya, aku tidak berbohong. Lagipula, jangan memaksaku untuk mengatakan alasannya," jawabnya tegar. Matanya kini sudah dibukanya, menatap lurus mata kobalt Jürgen yang tinggi, membuatnya harus mengadah sedikit.

Jürgen terdiam sesaat. Ujung alisnya berkerut --- mengerucut ke arah bawah. Air mukanya berubah, terkejut --- betapa tersentaknya ia ketika menyadari sesuatu janggal yang terlintas di pikirannya. Emosi mulai menggerogoti tenggorokannya, membuatnya berteriak dengan suara serak dan kesal.

"Kau --- kau anggota La Resistenza Italiana!"

***

Deutsch
Unternehmen Bodenplatte --- Um Gottes willen! : Operasi Bodenplatte (Eng : Baseplate) --- Demi Tuhan!

Operasi Bodenplatte : Diluncurkan 1 Januari 1945 (termasuk dalam Battle of Bulge), merupakan upaya luftwaffe untuk menjatuhkan kekuatan udara Sekutu di Low Countries : Belgia, Belanda, Utara Perancis dan Jerman bagian barat. Awalnya hendak dilakukan 16 Desember 1944, namun harus ditunda hingga Tahun Baru dikarenakan cuaca buruk. Jerman memang berhasil menghancurkan beberapa aircraft Sekutu, namun Jerman tetap dinilai gagal, serta kehilangan fighter pilot yang tidak bisa digantikan. Operasi Bodenplatte juga dilakukan dengan taktik bantuan penyerangan dari darat oleh long-range bomber. Pada tanggal 14 Desember 1944, para pemimpin-pemimpin dari setiap bagian yang terlibat mengadakan rapat untuk membahas masalah ini.

Saturday, November 17, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 5

Di selang tidurnya, secercah cahaya mulai menerobos masuk ke mata Felicia. Sebentuk tangan dingin yang memegang pipinya membangunkan Felicia perlahan dari tidurnya. Felicia membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali, sampai akhirnya dapat dilihatnya dengan jelas; sepasang bola mata kobalt dan rambut pirang yang berkilau keemasan, serta wajah yang baik dan tampan dengan langit keabu-abuan yang luas terbentang di belakangnya. Wajahnya terlihat sedikit kaget.

"Maaf, aku mengganggumu?" tanya Jürgen pelan. Perasaan Felicia yang tadinya kusut kini menjadi lebih ringan, penuh kebahagiaan dan kehangatan. Felicia tersenyum kecil, perlahan, dan terlihat begitu lelah. "Aku bermimpi," jawabnya singkat.

Perkataanya kembali dibalas senyuman ramah dari Jürgen. "Apa itu mimpi buruk?" tanyanya iseng, untuk mengganggu Felicia seperti biasa. Ya, seperti biasa.

Sesaat, kata-kata beserta emosi Felicia tercekat di tenggorokannya. Felicia terlarut dalam tatapan Jürgen yang begitu tak bersalah. "Hm, karena ada kau di dalamnya," ujar Felicia. Jürgen hanya menutup mulutnya, menahan tawa. Felicia masih tersenyum di sana, mencoba bersabar. Memang itu semua mimpi buruk. Dan memang, mimpi itu melibatkan Jürgen. Tentang nasibnya di tangan Resistenza kelak.

Musim dingin Berlin yang jauh lebih dingin daripada di Italia, membuat Felicia yang belum terbiasa dengannya menggigil kedinginan. Hawa dingin yang berhembus melewati lehernya membuat Felicia melilitkan syalnya semakin erat. Jürgen yang sepertinya menyadarinya, langsung berinisiatif membuka jaket biru keabu-abuannya yang besar, lalu menyelimuti Felicia dengan jaketnya. Hangat. 

"Jürgen, ini... Tak usah, aku baik-baik saja..." balas Felicia. Jürgen menggeleng. Ia tahu jelas, Felicia hanya berbohong. "Masih kurang hangat?"

"Um, sedikit..."

Tiba-tiba, dirasakannya tangan Jürgen yang besar dan kuat memegang pundaknya, merangkulnya, sedang tangan kanannya diselipkan di antara helai rambut coklat tua milik Felicia. Dipeluknya Felicia dengan begitu perlahan dan hati-hati. Felicia membenamkan kepalanya ke pundak Jürgen. Mencium harum kemeja putihnya, merasakan kehangatan dari dekapannya.

"Kupikir kau tak akan datang hari ini," Felicia tersentak, seakan-akan baru saja dihujam sebilah pisau tajam. "Ada apa kemarin?" tanya Jürgen. Felicia hanya membenamkan kepalanya semakin dalam ke pundak Jürgen, menyembunyikan mimiknya yang sedih sebisa mungkin.

"Lupakan saja..." bisik Felicia pelan. "Yang penting, aku ada di sini... Sekarang,"

Senyum kecil terpulas di wajah Jürgen. Jürgen mencium rambut Felicia yang sedikit basah karena salju.

"Setidaknya begitu," balasnya.
________________________________________________________________


FLASHBACK
_______________________________________________________________________________

"Dasar tidak berguna!"

PLAK!

Tamparan keras didaratkan di pipinya, meninggalkan bekas merah yang terlihat begitu menyakitkan.

"Tak ingat pernah kubesarkan anak seperti ini! Memalukan!"

Kali ini sebuah tendangan telak mengena di perutnya, membuat korbannya jatuh tersungkur di lantai.

"Kau tak pantas lahir ke dunia ini! Tidak sedikitpun!"
Korbannya yang tersungkur dan merintih kesakitan, perlahan mulai meneteskan bulir-bulir air mata, membasahi lantai kayu dingin yang mengilap di bawahnya. Tiba-tiba terasa rambut coklat gelapnya yang panjang diinjak.

"Untuk apa aku merawatmu jika hasilnya seperti ini? Sampah!"

Kata-kata yang menusuk ditujukan padanya. Hatinya terasa begitu perih dan sesak menahan hinaan bertubi-tubi yang memang ditujukan padanya seorang.

Sedari tadi, ia hanya terdiam mendengarkan kata per kata tiap caci maki yang dilontarkan ayahnya. Tamparan, tendangan, serta pukulan yang diberikan diterimanya tanpa perlawanan, sebagai bentuk penyesalannya yang dalam. Karena dari awal ini semua memang salahnya.

"... Untuk pertama kalinya, aku bersyukur istriku sudah meninggal. Daripada ia harus tersakiti lagi melihat anaknya tumbuh seperti ini,"

Punggungnya langsung bergetar, sebisa mungkin menahan tangis ketika mendengar ibunya disebut.

"Aku tak sudi mengakuimu sebagai anak. Kau dengar itu? Kau bukan anakku lagi. Seharusnya kau mati saja. Mati. Lebih baik lagi kalau kau tak pernah lahir di dunia ini," ujar sang ayah sambil membalikkan badannya.

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sebenarnya ia setuju dengan ayahnya. Lebih baik ia mati. Bahkan tak usah pernah lahir di dunia, jika keberadaannya memang tak berarti bagi siapapun.

Seharusnya aku mati saja.
_______________________________________________________________________________



Ingatan-ingatan tersebut memaksa memenuhi kepalanya, membuka dan membawa kembali rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Semuanya --- meski hanya dalam bentuk kilas balik saja --- rasa sakitnya terasa begitu nyata. Baik di badannya, maupun jauh di dalam hatinya.

Felicia mengadahkan kepalanya, seakan-akan berharap ingatan-ingatan menyakitkan yang memenuhi kepalanya akan memudar saat ia membuka matanya, bertatapan dengan sepasang mata kobalt Jürgen.

Memang ingatan-ingatan tersebut perlahan mulai memudar, tetapi rasa sakit di hatinya malah semakin menjadi-jadi. Dadanya terasa sesak menahan luapan emosinya, sementara kenyataan yang pahit disediakan untuknya. Harus selalu berbohong seperti ini, sebenarnya bukanlah sebuah hal yang mudah untuknya --- bahkan untuk siapapun.

Sebuah bisikan pelan yang terbawa angin terdengar di telinganya, dibisikkan dengan suara yang rendah. "Aku harus pergi," begitulah bisikannya. "Sebenarnya aku hanya punya sedikit waktu untuk hari ini, tapi..." Rasa sakit di dada Felicia dengan cepat berubah menjadi kepanikan, takut --- begitu cepatnya Jürgen akan meninggalkannya, untuk selamanya. "Apa? Jangan ---"

"Feli," tangannya menyibakkan poni panjang yang menutupi kening Felicia, lalu mengecupnya sekilas. "Besok, ja? Aku akan datang besok, janji,"

Besok. Ya, besok. Hanya sehari. Apa bedanya dengan hari-hari sebelumnya? Aku bisa menunggu seperti biasa. Meskipun aku tahu, dia... Tak akan bisa datang lagi. Setelah menahan air mataku sekuat tenaga, akhirnya aku berhasil mengatakan sebuah jawaban --- "Ya, tak apa," jawabku datar.

Wajah Jürgen tetap terlihat khawatir, sepertinya ia menyadari sesuatu yang aneh padaku. "Kau sedikit aneh hari ini, Feli. Ada sesuatu?" Tanyanya dengan polos. Dia memang tidak tahu apapun. Sama sekali.

Aku menenangkan diriku, mencoba untuk menjawab pertanyaannya dengan rasional. "Hm, bukankah biasanya aku memang aneh?" jawabku tak karuan. Malah terdengar irrasional.

"Feli," ujar Jürgen singkat, seperti siap memarahiku jika aku berbohong.

Aku menunduk, menatap hamparan salju putih di bawahku. "Ne--- nein... Yah, mungkin..." tak kuasa lagi kulanjutkan kalimatku. Tanpa kusadari dan tanpa bisa kutahan, sedikit demi sedikit air mata tumpah menuruni wajahku. "Fel--- Felicia?!" Jürgen yang panik segera mengusap air mataku. Tidak --- aku tidak ingin menunjukkan wajah seperti ini ke Jürgen --- ia tak boleh tahu apapun.

Harus kujawab seperti apa lagi pertanyaan Jürgen? Sesuatu? Tentu ada. Pertanyaan yang menyakitkan. Aku yakin, reaksi yang kuberikan tadi hanya akan menambah kecurigaan padaku. Aku belum siap mengatakan semuanya sekarang. 

Sebentar lagi. Kumohon, Tuhan, beri aku waktu sebentar lagi. Masih ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Kalau aku...

"... Küss mich," terucap --- akhirnya dapat kuucapkan juga. Perasaanku yang sebenarnya, apa yang kuinginkan darinya.

Kalau aku benar-benar mencintainya.

Kutunggu sebuah jawaban darinya. Apapun itu, aku siap menerimanya. Namun, tak perlu kutunggu terlalu lama, pandangan matanya mulai melembut.

Tangan kirinya dengan perlahan dan berhati-hati menggenggam tanganku; genggaman kuatnya yang tak pernah sedikitpun melukai tanganku. Dari tanganku yang terbungkus rapat oleh tangannya yang besar, kurasakan sedikit demi sedikit kehangatan mulai menjalar mulai dari ujung jariku hingga ke seluruh tubuhku, mencairkan perasaanku yang membeku, perlahan menjadikan suhu tubuh kami sama.

 Mata biru kobaltnya yang bening seakan-akan menghisap; tatapan yang lebih dalam dari biasanya. Sedikitpun tak bisa kualihkan pandanganku darinya. Ujung jari-jemarinya yang dingin dan kurus mengangkat daguku. Kurasakan wajahnya yang putih pucat mendekat, napasnya yang terasa panas menderu wajahku.

Bersamaan dengan kututup rapat mataku, dengan lembut Jürgen menciumku. Bibirnya yang hangat terasa kontras dengan dinginnya angin yang berhembus.

Aku tak pernah mengira memang --- ciuman pertamaku akan seperti ini. Dengan seorang Jerman yang bahkan sebenarnya musuhku. Dalam kondisi seperti ini --- dimana keloyalanku pada Resistenza, pada Italia, tanah airku; bersamaan dengan perasaanku sendiri, kemauan hati kecilku; diuji hingga pada batasnya. Tak pernah terlintas dalam pikiranku, bahkan dalam kurun waktu dua bulan lalu. Manis sekaligus menyakitkan, ciuman pertamaku --- begitu mirip dengan kenyataan.

Kubuka mataku; mendapatkan mata kobalt Jürgen yang menatapku. Kutempelkan dahiku ke dahinya, bibir kami hampir bersentuhan. "Ich liebe dich, Feli," ucapnya. Ia menciumku lagi sekilas.

"Ich liebe dich zu,"
_______________________________________________________________________________


FLASHBACK
_______________________________________________________________________________




Hening.

Ruangan itu telah kosong sekarang --- Semuanya telah pergi. Tidak semua mungkin, hanya sesosok bayangan dengan setia tetap berada disana --- Felix Anzio. Meskipun masih terkejut dan tak percaya akan apa yang didengarnya tentang Jürgen --- apalagi jelas-jelas dari mulut Felicia sendiri, ia tetap tak tega meninggalkan Felicia sendirian.

Pengkhianatan sebesar apapun yang dilakukannya --- Felicia hanyalah seorang manusia biasa. Mempunyai perasaan, melakukan kesalahan. Ia bukanlah seseorang yang bisa menanggung semuanya. Setidaknya, itulah kepercayaan yang ia pegang selama ini.

Kini, gilirannya untuk melindungi Felicia, berada di sisinya, seperti yang sudah dilakukan Felicia untuk dirinya dulu. Sebuah pilihan yang sulit --- bukan untuk Felicia, namun untuk Felix. Ia harus tahu jalan mana yang terbaik untuk Italia, untuk Resistenza, bahkan untuk Jürgen, khususnya untuk Felicia, tanpap harus melukai fisik ataupun perasaan siapapun. Tapi, itu semua memang tidak mungkin. Hanya ada satu cara.

Felix beranjak dari tempat duduknya. Dengan perlahan ia melangkah mendekati Felicia yang masih tersandar di depan pintu, lemas. Ia menghentikan langkahnya, tepat di depan gadis Italia berambut coklat gelap tersebut. Dilihatnya Felicia meringkuk, menutupi wajahnya dengan lututnya, tangannya yang penuh luka masih memeluk erat lututnya. Meski sangat pelan sekalipun --- masih dapat didengarnya suara bisikan Felicia.

"Tidak... Ma-maafkan... Maafkan aku..." berkali-kali kata-kata itu digumamkannya.

"... Tolong... Seseorang, percayalah..." Masih dapat didengar olehnya dari dalam kepalanya, suara-suara yang membentaknya --- menumpuk semua kesalahan padanya. Tangannya yang bergetar menutupi telinganya, seakan-akan tak ingin mendengar apapun lagi, sama sekali.

Felix duduk di depan Felicia. Dengan penuh perhatian Felix menatap teman masa kecilnya itu. "Feli..." dipanggilnya Felicia dengan perlahan. Sementara orang yang dipanggil namanya mengangkat wajahnya, untuk melihat sesosok lelaki yang ia kenal baik berada tepat di depannya.

Sontak gadis Italia itu langsung menjatuhkan tubuhnya yang kurus ke arah teman masa kecilnya tersebut. Tangannya yang basah karena air matanya sendiri mencengkeram erat pundak lawannya, mengeratkan genggamannya pada rompi hitam yang dikenakan Felix. Balas diusapnya rambut coklat tua Felicia, berusaha menenangkannya.

"Felix... Fel, tolong!" ucapnya dengan suaranya yang parau, disertai isak tangisnya yang memang tidak berhenti sejak tadi.

Felix menutup matanya, menghela napas panjang. Sebenarnya ini bukanlah jalan keluar yang sangat baik. Ini adalah satu-satunya jalan keluar. Sebenarnya bukan seperti ini yang ingin ia berikan untuk membalas budi. Bukan. Namun, hanya ini yang Tuhan berikan kepadanya.

"Siang ini juga, temuilah dia lagi, Feli,"

"... Temuilah Jürgen untuk terakhir kalinya,"

***


Wednesday, November 7, 2012

04.

Dear You. - Higurashi

Where are you now, what are you doing now?
Are you under this endless sky?

Langit biru terbentang luas di atasku. Awan putih kelabu bak biri-biri bergerak pelan. Kutatap lagi langit luas yang membosankan, begitu monoton. Tapi, aku punya satu keyakinan, bahwa dibawah naungan langit yang tak berbatas ini, dia...

"Ita-chan!" suara seorang wanita yang kukenal memanggilku.

"Hungary-san..." aku menoleh ke sumber suara, mendapati Hungary-san, sosok wanita cantik berambut cokelat. Sekuntum bunga putih tersemat di rambutnya yang lembut dan berkilau.

"Ita-chan, sedang apa? Sedari tadi kau hanya menyapu di tempat yang sama," ucapnya sambil tersenyum. Ah iya, benar. Sedari tadi aku hanya menyapu disini. Kalau Austria-san tahu, bisa-bisa hari ini aku tidak dapat makan malam.

Hungary-san. Ya, mungkin jika dengan Hungary-san, aku bisa bercerita. "Aku, aku hanya..." Aku sempat berhenti beberapa saat untuk menghela nafas. "Aku  memikirkan Holy Roman Empire," jawabku. Kumainkan jari-jemari kecilku, dengan lenganku yang masih saja memeluk sapu.

"Kira-kira, apa yang dilakukannya sekarang?" lanjutku sambil berandai-andai.

Saturday, October 13, 2012

03.

Forget-Me Not. 
HRE X Chibitalia.

"Auf Wiedersehen, Sweetheart,"
Aku hanya ingin katakan padamu
Kalau aku baik-baik saja
Lihatlah, aku tersenyum disini.

"Vielen dank,"
Atas semuanya yang telah kau berikan padaku
Atas hari-hari yang telah kita lalui bersama
Kebahagiaan dan air mata

Aku berdiri dengan tegar, menunggumu
Mengusap segala air mataku
Percaya akan semua janjimu
Jadi kumohon


Percayalah
Dimanapun kau berada, siapapun yang ada di sampingmu nanti,
Aku selalu disini, menunggumu dengan tangan yang terbuka
Siap menanggung segala sakit dan air matamu

Aku merindukanmu, menangisimu
Menjerit dalam keputusasaan
Tak sepatah katapun darimu
Tidakkah kau merindukanku?

Kumohon

Kembalilah.

Aku lemah, tak bisa apa-apa
Hanya doa yang keluar dari mulutku
Sebuah harapan, agar kau bahagia
Agar kau selamat

Sehingga aku

Bisa melihat lagi senyummu.

Sebuah buket bunga di tanganku
Berwarna biru seperti matamu
Mengucapkan kata-kataku yang jujur
Yang kutujukan padamu

Jangan lupakan aku

Layaknya aku selalu

Mengingatmu

Sacro Romano Impero.

Monday, September 10, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 4

Felicia kembali terbangun di ranjangnya, bertatapan dengan atap kayu di atasnya. Beberapa kali ia mengusap matanya. Matanya terlihat kosong dan merah, serta kantong mata yang tebal terlihat di bawah matanya, tanda ia kurang tidur semalam.

Sudah cukup. Terlalu banyak yang terjadi kemarin. Aku masih belum ingin bangun. Aku masih ingin bermimpi, mengenang saat-saat itu...

Aku belum sempat bertemu Jürgen kemarin. Aku harus bertemu. Sebelum besok...

Salju tipis terlihat turun perlahan di luar jendela, menciptakan atmosfer dingin di kamar yang kecil dan gelap itu. Pagi bulan Desember yang dingin di Berlin. Kaca jendela kamar Felicia dihalangi embun tipis. Udara dingin berhasil membuat Felicia yang menggigil kedinginan meringkuk di dalam balutan selimut hijau tua yang dipakainya.

Masih pagi begini, sudah terdengar suara ribut orang berdebat dari lantai bawah. Kudengar suara De Luca berteriak dari bawah. Sepertinya berbicara sesuatu tentang penyerangan. Rapat anggota-anggota Resistenza lagi? Biarlah, aku tak peduli. Toh besok juga pasti aku hadir. Harus. Besok...

Konferensi Besar La Resistenza Italiana di Piacenza, Italia. Aku harus pulang ke Italia besok.

Mungkin ini hari terakhirku bisa bertemu Jürgen. Untuk selamanya.

***

Tepat sore hari setelah rapat kemarin. Alec Kirkland, seorang pemuda Skotlandia bertubuh tinggi bermata hijau bening duduk di sebuah kursi di balkon, menyesap teh sambil melihat awan tipis yang menggantung di langit sore yang merah membara. Sebuah rak kue yang kebanyakan berisi scone tertata rapi di atas meja bertaplak merah. Selain itu, sebuah surat tergeletak di atas meja tersebut. Amplopnya sudah disobek di bagian atasnya, menampilkan isinya --- sebuah surat permohonan.

Alec kembali meletakkan cangkir tehnya yang tinggal berisi setengah ke sebuah piring kecil yang berada di dekatnya. Alec pun beranjak dari kursinya, mengambil surat permohonan yang tergeletak di sebelah rak kue, lalu membacanya sambil berdiri di pinggir balkon. Ia meremas helaian rambut merahnya.

Alec menyeringai. "Tak kusangka," gumamnya.

"Resistenza, gerakan penentang sekutunya sendiri itu... Dengan begini cerobohnya meminta bantuan pada Inggris," Alec mulai menyobek surat yang ada di tangannya, membuat tulisan-tulisan yang tercetak rapi di sana terpisah-pisah. Alec melempar potongan-potongan kecil kertas tersebut ke bawah. "De Luca? Yang benar saja. Konyol,"

"Aku sudah salah menilaimu. Padahal kusangka kau hebat," ujar Alec dengan aksen Skotlandianya yang kental, kepada seorang pemuda lain yang sejak tadi duduk di seberang meja, dengan bibirnya yang terkatup rapat --- membentuk sebuah garis lurus yang tegas. "Benarkah?" Tanya pemuda tersebut. Dengan cepat ekspresi datar itu berubah menjadi sebuah senyuman. Senyuman dengan sesuatu yang tersembunyi di sana. Pemuda tersebut berdiri, menghampiri Alec yang masih berdiri di pinggir balkon.

Pemuda itu menarik kerah kemeja Alec. "Kau tahu, Kirkland?" Tanyanya sambil tetap tersenyum. "Jangan pernah remehkan kami," Perlahan senyumannya pudar. Pandangannya berubah dingin. "Meskipun kami pengkhianat Blok Poros, atau apapun mereka menyebut kami..."
"Kami bukan rendahan. Dan kami tidak seperti yang kau kira. Ingat itu," dilepaskanlah tangannya dari kerah Alec. Ia mundur beberapa langkah lalu membalikkan badannya, kembali duduk di kursinya.

"Bloody hell, Vargas. Buktikanlah ucapanmu. Aku tak sabar melihatnya," sahut Alec sambil menyeringai, sembari merapihkan kembali kerah kemejanya.

Mata coklat tua Antonio menyisir rak kue yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong. Tak memedulikan kata-kata Alec. Yang ada dipikirannya hanyalah Konferensi Besar Resistenza yang akan dilaksanakan lusa, serta...

Jürgen Schultz. Ada sesuatu di antara dia dan Felicia.

***
Felicia memutuskan untuk tetap pergi dan menunggu Jürgen di bawah pohon Oak seperti biasa. Toh, besok ia harus kembali ke Italia. Tak apa. Sekali ini saja...

Pandangan Felicia menerawang ke kota Berlin yang hari itu tertutup lapisan tipis benda putih bersih. Salju. Langitnya pun berwarna keabu-abuan, berkesan suram, seperti dirinya sekarang ini. Masih diingatnya kejadian saat rapat tadi pagi.

Apa yang harus kulakukan?

Felicia mengubur wajahnya yang memerah karena dingin dalam balutan syal berwarna merah marun yang dipakainya.

Menyelamatkan Jürgen? Mengkhianati Italia dan memberitahukannya soal rencana ini?

Udara dingin membuat nafas Felicia terlihat putih. Kuku-kukunya mulai memucat.

Bisa saja kulakukan seperti itu. Bisa saja Jürgen selamat. Tapi jika kuberi tahu, Resistenza bisa-bisa...

Apa mungkin sebaiknya aku diam saja, seperti yang Felix bilang? Jika Jürgen meninggal, semua hanya akan kembali seperti semula. Kehidupanku yang biasa, sebelum aku bertemu Jürgen. Tapi...

Tidak, tidak. Aku tak ingin egois. Aku tak ingin semuanya berakhir seperti ini. Pasti ada cara, pasti, agar semuanya bahagia. Tapi bagaimana jika sebelum sempat kutemukan caranya, semua sudah terlambat?

Aku harus bagaimana lagi?

Felicia menghela nafas panjang.

"Apa lagi yang harus kulakukan? Kenapa semua cobaan ini terlalu berat...?"

Perlahan Felicia menutup matanya dengan lembut. Jatuh tertidur di bawah pohon oak yang berselimut salju.

Setidaknya ia berharap sebuah mimpi indah menghampirinya, di mana ia bebas. Tak ada masalah baginya.

________________________________________________________________

FLASHBACK
________________________________________________________________

Felicia menuruni tangga kayu di depannya dengan perlahan. Tangga yang sudah tua tersebut mengeluarkan bunyi berdecit yang mengiringi tiap langkah lunglai Felicia. Rambut coklat gelapnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai begitu saja, bukan diikat rapih seperti biasa. Kepalanya ditundukkan menatap lantai kayu di bawahnya. Ia berjalan sempoyongan.

Anggota-anggota Resistenza yang ada di meja makan masih saja ramai berdebat. Beberapa kali kata-kata kasar dalam bahasa Italia keluar dari mulut mereka. Saat itulah, sebuah suara keras terdengar dari arah tangga. Seluruh pasang mata yang ada di sana terfokus memandang ke arah tangga.

Yang mereka lihat adalah Felicia yang jatuh tergeletak di tangga, yang entah kenapa tidak bisa bangun.

Felix Anzio, teman masa kecil Felicia, langsung beranjak dari kursinya dan meraih lengan Felicia, lalu membantunya berdiri.

"Fate attenzione, Feli," bisiknya pelan.

"Grazie, Felix..." Jawab Felicia.

Tanpa dibalas sepatah kata pun dari Felix, Felix mengantarkan Felicia ke tempat duduknya. "Tenanglah dulu," ujarnya sambil menepuk pundak Felicia. Felicia menghela nafas panjang, lalu mengangguk. Felix tersenyum. Setelah dilihatnya Felicia lebih tenang, Felix kembali ke tempat duduknya.

Felix, putra kedua keluarga Anzio, teman masa kecil Felicia. Lebih tua dari Felicia memang, mungkin seumur dengan kakak Jürgen. Felix yang dulu sering dibully karena sikapnya yang manis dan cengeng seperti kebanyakan anak perempuan, pernah dibela Felicia. Akhirnya, sejak itu mereka bersahabat. Sedikit demi sedikit seiring ia bertumbuh, Felix semakin kuat dan semakin mahir menggunakan senjata. Bahkan saat masuk Resistenza, ia diposisikan sebagai front bersenjata Resistenza sekaligus pengeksekusi para pengkhianat. Dan sekarang, ia sedang ditugaskan di Berlin untuk memantau field, bersama Lorenzo Marinotti. Perubahan yang cukup drastis dari seorang anak laki-laki cengeng.

Bahkan dulu, Felix sempat menyukai Felicia. Hanya saja, ia tak pernah berani menyatakannya, dengan alasan kondisi perekonomian keluarganya buruk. Bisa dibilang, mereka berbeda status. Lagipula, Felix sendiri pun hanya dianggap seperti seorang kakak laki-laki bagi Felicia. Perasaan itu pun tak pernah sampai pada Felicia, karena tiba-tiba Felicia dijodohkan dengan Antonio oleh Simone. Kisah cinta yang berakhir tragis. Beruntung Felix tak pernah tahu hubungan Jürgen dan Felicia.

"Jadi, kita lanjutkan rapat kita," ujar Antonio, memecah keheningan yang tadinya menyelimuti ruangan tersebut.  "Beberapa dari kita mungkin sudah tahu, bahwa beberapa hari lalu Inggris nyaris berhasil melumpuhkan markas besar Landstreitkräfte di Berlin,"

Suara-suara bisikan pelan penuh rasa penasaran terdengar di seluruh penjuru ruangan. "Kecerobohan Inggris adalah menempatkan seorang bomber pilot yang masih baru, menyebabkan kegagalan serangan mereka. Menurutku semua sudah hampir semupurna, sebenarnya," Felicia teringat sesuatu. Beberapa hari lalu, pengalihan perhatian lewat darat yang berani. Sementara di darat para Landstreitkräfte dibuat sibuk dengan serangan tiba-tiba yang agresif, sebuah bom dijatuhkan dari udara untuk meledakkan markas besar yang sedang tanpa pertahanan. Inggris sebenarnya hampir berhasil meledakkan markas besar Landstreitkräfte, yang akhirnya gagal begitu saja karena luput. Konyol. Kakak Jürgen yang seorang Landstreitkräfte pun ikut mempertahankan markas besarnya.

"Dan ini," Antonio membentangkan sebuah map besar kota Berlin ke atas meja, sehingga sebagian besar peserta rapat dapat melihatnya dengan jelas. Antonio mengambil sebuah spidol merah. "Ledakannya terjadi di..." Antonio melingkari sebuah daerah yang terlihat kosong dan luas dengan spidol merahnya. Sebuah lapangan kosong yang besar, tepat di dekat markas Landstreitkräfte. "Sini. Hanya beberapa mil dari markas besar Landstreitkräfte Jerman," lanjut Antonio.

"Apa Inggris akan melakukannya lagi? Bukan kesalahannya maksudku --- tapi strategi yang sama?" Tanya seorang peserta rapat sambil mengangkat tangannya.

"Pertanyaan yang bagus," Antonio menunjuk peserta rapat tersebut dengan spidol merahnya. "Jika mereka bodoh, kemungkinan besar ya. Penyerangan baru-baru ini mungkin sedikit terkesan seperti 'latihan' bagi mereka," jawab Antonio, lalu ia berhenti sebentar. "Tapi, jika menjalankan strategi yang sama, Jerman akan lebih memfokuskan perhatian ke serangan udara. Mereka akan jauh lebih berhati-hati kali ini. Bisa jadi, Inggris akan menggunakan strategi yang sama dengan variasi berbeda. Dan mungkin mereka akan berkoordinasi juga dengan Resistenza untuk back-up, sebab di penyerangan gagal ini pun beberapa anggota Resistenza turut berpartisipasi. Semua sudah kujawab?" Tanya Antonio kembali sambil tersenyum. Peserta rapat itu mengangguk.

"Dan kita, tak akan mengulang kesalahan yang sama dengan Inggris. Lebih baik kita kerahkan kekuatan di bidang terbaik kita," Antonio membuka tutup spidol merahnya, melingkari suatu daerah. Sebuah markas besar lain. Antonio menulis sesuatu di sana : Luftwaffe Headquarters. Markas besar Luftwaffe. "Target kita, udara. Luftwaffe,"

Felicia menunduk, menatap meja di depannya. Ia hanya memain-mainkan jarinya, sementara mendengar penjelasan Antonio. Firasatnya mengatakan, sesuatu yang buruk akan terjadi. Setelah beberapa lama menjelaskan, Antonio mengambil beberapa berkas dari atas meja, lalu membereskannya.

"Ini daftar nama target kita, orang-orang terpenting di Luftwaffe. Opsir berpangkat tinggi, serta beberapa fighter pilot terbaik andalan Luftwaffe. Berkas ini juga akan diserahkan pada pihak Inggris saat konferensi besok," setelah semua dibereskan, Antonio meletakkan kembali berkas itu di meja.

Entah kenapa, Felicia merasa mual. Mual sekali. Sudah pasti pertanda buruk. Dengan perlahan dan diam-diam, Felicia berusaha meraih berkas yang terletak di depan Antonio. Tercetak dengan besar dan tebal tulisan "Primary Target : High-Ranked Officers and Best Fighter Pilots of German Air Force" di bagian berkas tersebut. Felicia membolak-balik berkas tersebut, lembar per lembar diperhatikannya.

Sampai sebuah nama menangkap perhatiannya. Refleks, Felicia langsung menutup mulutnya. Seluruh tubuhnya bergetar menahan tangis. Meskipun ruangan tersebut ramai, ia merasa suara di sekelilingnya makin memudar dan memudar. Hanya suara dari dalam kepalanya yang dapat ia dengar.

Bohong... Ini tak mungkin terjadi. Tak mungkin...

Tangannya yang bergetar tak sengaja menjatuhkan tumpukan berkas itu. Pandangannya mulai terasa kabur karena air mata yang mulai menggenangi kelopak matanya. Berkas itu, daftar nama, huruf-huruf itu... Semuanya membuat Felicia merasa terjatuh. Tak yakin apakah ia masih bisa bangun lagi atau tidak. Cukup empat kalimat yang membuatnya seperti ini.

Leutnant Jürgen Fritzmann Schultz.

Tiba-tiba, kembali dapat didengarnya suara Antonio yang berbicara. 

"Penyerangan ini rencananya akan dilaksanakan sekitar hari Rabu, 20 Desember 1944," kata-kata Antonio kembali terdengar jelas.

20 Desember...? Minggu depan...? Tidak, ini terlalu cepat...

"Informasi yang kita dapatkan ini akan dikonfirmasikan pada Inggris, besok, saat Konferensi Besar La Resistenza Italiana, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya. Target utama baik untuk kita dan Inggris, Luftwaffe,"

Kata-kata yang seakan-akan mengiris hatinya. Semakin dalam menusuk. Sakit yang luar biasa melanda dadanya, sebelum benar-benar menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Dan, besok..."
"HENTIKAN!" Teriakan itu berhasil membuat hening ruangan yang tadinya benar-benar ramai. Begitu keras dan terdengar depresi, sebelum sang peneriak sendiri dapat menghentikannya. Ia pun langsung menutupi mulutnya dengan tangannya, namun terlambat. Kecurigaan sudah terlanjur ditujukan padanya.

"Lombardi? Ada apa lagi?" Tanya Antonio dengan ringan, seakan-akan kejadian ini sudah biasa terjadi. Alih-alih menatap Antonio, Felicia memalingkan pandangannya dengan putus asa ke sekelilingnya. Begitu banyak pasang mata menatapnya dengan penasaran dan curiga. Tak terkecuali Felix, dengan sedikit kekhawatiran tersirat di matanya.

Simone lagi-lagi menatap Felicia dengan sangat kesal. Sungguh, apa yang merasuki putrinya belakangan ini? Benar-benar seperti bukan dia. Berbeda jauh dengan Felicia yang biasanya.

Dipenuhi rasa sedih dan bersalah, Felicia terdiam seribu kata di kursinya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, kecuali isak tangis yang sedikit demi sedikit mulai terdengar.

Antonio berjalan ke arah kursi Felicia, memungut berkas yang tidak sengaja dijatuhkan Felicia sebelumnya. Antonio langsung tahu apa yang membuat tunangannya seperti ini. Tercetak dengan huruf ukuran sedang, tidak terlalu besar ataupun kecil. "Dia lagi, Lombardi? Letnan Schultz?" Tanya Antonio dengan suara yang berat. Entah kenapa kali ini Antonio memanggil Felicia dengan nama keluarganya.

"Dengar, Antonio... Aku bisa jelaskan..." Jawab Felicia dengan suaranya yang parau.

"Kalau begitu, jelaskanlah pada mereka," ujar Antonio, menunjuk ke arah peserta rapat Resistenza di sana. Semakin guguplah Felicia. Ia harus jawab apa? Apa benar-benar tak ada lagi jalan keluar lain selain memberitahukan semuanya pada mereka?

"Aku..." Felicia mengatakannya dengan ragu, sambil menyisir pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Sempat juga ia bertatapan mata dengan Antonio.

"Kenapa? Kau tak perlu beritahu aku, informasi yang kudapat sudah cukup," ucap Antonio, sambil tersenyum simpul. Pandangan matanya menatap dingin mata hazel Felicia.

Perasaan Felicia semakin sakit. Antonio sudah tahu. Ya, tergambar jelas dari ekspresinya, perkataannya. Antonio mengetahui semuanya. Dan sudah sangat jelas --- ia kesal. Antonio, satu-satunya orang yang dapat Felicia percaya, tunangannya sendiri, kini berbalik membencinya.

"Maafkan aku, Antonio... Maaf..." Hanya itulah kata-kata yang dapat keluar dari mulut Felicia sekarang. Beribu kata masih disimpan rapat-rapat di hatinya.

Seluruh anggota rapat Resistenza di sana diliputi rasa penasaran menunggu sebuah jawaban dari Felicia Lombardi. Sedang Felicia sendiri hanya duduk terpaku di kursinya, dengan air mata yang tak henti-hentinya menuruni wajahnya. Tunangannya, Antonio berdiri di sana, dengan sekilas senyumnya yang lebih mirip sebuah senyum psikopat sekarang. Ia juga sedang menunggu jawaban dari Felicia.

"Aku harus pergi," sebuah jawaban singkat yang mengejutkan. Felicia langsung beranjak dari kursinya, berlari ke arah pintu depan. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa ia mencoba membuka pintunya, namun sayang, kali ini tenaganya tidak cukup untuk membuka pintu kayu yang berat itu. Mengetahui tak ada lagi yang bisa ia lakukan, Felicia tersungkur lemas di depan pintu tersebut. Tangan kanannya tetap melekat di handel pintu berwarna hitam legam.

Simone, yang akhirnya tidak tega melihat putrinya seperti itu, menghampiri Felicia. Ia merendahkan posisi berdirinya dan mengelus rambut Felicia. "Sebenarnya kau ini kenapa, Feli..." Ucapnya pelan dengan nada penuh khawatir. Felicia hanya menggelengkan kepalanya. Badannya masih bergetar hebat, isak tangisnya terdengar pelan.

"Jadi, kau belum mampu menceritakan semuanya, Lombardi? Haruskah aku lagi yang menjelaskannya?" Sahut Antonio dari kejauhan. Simone mengalihkan pandangannya ke arah Antonio, menatapnya dingin. "Jangan ikut campur, Vargas. Aku yang paling tahu soal putriku sendiri, dan ia ingin kau mengunci mulutmu itu sekarang," balas Simone.

"Begitukah, tuan Lombardi? Tunangan macam apakah aku jika aku tak mengetahui apa-apa soal calon istriku sendiri?"

"Dan itukah yang kau katakan pada calon mertuamu sendiri? KAU PIKIR ITU SOPAN, HAH?!" Nada bicara Simone mulai meninggi. Emosinya benar-benar diuji hari ini.

"Dan apa anda tahu, bahwa ada laki-laki lain di sisinya selain tunangannya? Bahkan ia lebih mencintai laki-laki itu daripada tunangannya sendiri? Anda tahu itu, 'ayah'?" Jawab Antonio dengan santai, menekankan bagian 'ayah'.

Simone terbelalak kaget, tak mempercayai kata-kata Antonio. Apa benar putrinya seperti itu? Ia kembali berbalik, melihat Felicia yang masih tak bergeming dari posisinya. "Apa itu benar, Feli?" Tanyanya dengan lembut. Namun, tak ada jawaban dari Felicia. "Feli, jawab papa. Apa benar yang dikatakan Antonio?" Kali ini ia bertanya sedikit keras. Masih belum ada respon dari Felicia. Sama sekali.

"FELICIA LOMBARDI! JAWAB! KAU HANYA PERLU JAWAB 'YA' ATAU 'TIDAK'! KAU TAK MENGERTI JUGA, HAH? CEPAT!" Simone, yang sudah benar-benar frustasi, akhirnya berteriak dengan murka. Teriakannya berhasil mengagetkan seluruh anggota Resistenza di meja makan, menciptakan kesunyian di seluruh penjuru ruangan.

Kata-kata Simone benar-benar menusuk bagi Felicia. Sudah cukup kenyataan yang kejam dihadapkan padanya, yang bahkan belum bisa ia terima sepenuhnya. Jangan lagi ayahnya sampai kehilangan kepercayaan padanya. Jangan.

Haruskah ia jujur? Sepertinya menyembunyikan semuanya pun percuma sekarang, Antonio yang sudah tahu segalanya akan bercerita nantinya. Lebih baik mereka mendengarnya dari mulut Felicia sendiri. Mungkin memang sudah saatnya mereka tahu.

"Leutnant... Schultz," Ujarnya di tengah isak tangisnya.

***

Kamus Sejarah :
Blok Poros / Axis Powers 
( GER : Achsenmächte, ITA : Potenze dell'Asse,  JAP : Shujikukoku)

Sebuah blok yang melawan pihak sekutu saat PD II. Terdiri dari tiga anggota utama (Tripartite) : Nazi Jerman, Republik Italia, serta Kekaisaran Jepang. PD II pun berakhir dengan kemenangan sekutu, yang berarti juga membebaskan negara-negara jajahan anggota Blok Poros, termasuk Indonesia.

Italiano
Fate attenzione : Hati-hati

Deutsche
Landstreitkräfte : Angkatan darat Jerman


Saturday, August 25, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 3

"Mulai dari... Sekarang!"

"Ng! Ich bin Felicia Lombardi. Ich bin Italien. Wie wollen sie tun? Mir geht es gut. Danke,"

"Anak pintar! Kau sudah menguasainya," ujar Jürgen sambil mengusap rambut Felicia.

"Heh, aku ini lebih tua darimu! Wie unverschämt!" Felicia tertawa, sambil mencoba menyingkirkan tangan besar Jürgen dari kepalanya. Reaksinya kembali disambut tawa Jürgen. "Kalau begitu... Kupanggil tante saja, ya? Est tut mir leid für meine frechheit, tante,"

"... Sudahlah. Cukup panggil Feli saja," jawab Felicia sambil menundukkan kepalanya. Jürgen menepuk pundak Felicia. "Sabar,"

"Sekarang giliranmu,"

"Si, si. Sono Jürgen Schultz, sono Germania. Come si fa a fare? Sto bene, grazie," Ucap Jürgen dengan lancar. Felicia mengangguk kagum. "Kau cepat belajar," Felicia mengacungkan jempolnya.

Sudah beberapa minggu mereka menjalani rutinitas seperti ini. Bertemu di bawah pohon Oak, saling bertukar dan belajar bahasa. Entah karena lingkungannya atau apa, Felicia lebih cepat bisa berbahasa Jerman daripada Jürgen yang belajar bahasa Italia. Sekarang, Felicia sudah bisa berbahasa Jerman dengan fasih.

Selain bertukar bahasa, terkadang mereka melakukan kegiatan-kegiatan aneh lainnya. Misalnya, seekor anjing yang kebetulan lewat di depan mereka sering menjadi korban 'pelecehan' Felicia. Begitu kata Jürgen. "Felicia menyentuhnya tanpa izin!" Ayolah Jürgen. Bagaimana caranya dan untuk apa meminta izin dari seekor anjing hanya untuk mengelusnya saja?

"Jürgen, berapa tahun umur kakakmu?" tanya Felicia dengan ceria, seperti biasa. "21 tahun, kenapa?" Jürgen menjawabnya dengan bingung.

"... Dia... Sudah punya pacar?"

"... Eh?! Kau mengincarnya?"

"Bu... Bukan begitu, narr! Aku hanya penasaran,"

"Ng... ada. Teman masa kecilnya, Katharina. Dia cantik... Sepertimu," Jürgen mengucapkan kata 'sepertimu' dengan suara sangat pelan dan malu-malu, sepertinya tak terdengar oleh Felicia.

"He~ mungkin sebaiknya kau cari seorang wanita juga! Di Italia dengan wajah seperti ini, kau bisa mendapatkan yang cantik, lho!" Wajah Jürgen berubah merah padam. "Sikapmu juga. Baik, perhatian... Tipikal bapak rumah tangga! Dan..." Felicia memegang pipi Jürgen. "Kebiasaan wajahmu memerah~!" Ah, anak ini imut sekali, pikir Felicia.

"S... STOP. Kau, kau mulai... Terdengar seperti pedofil..." Jürgen menyingkirkan tangan Felicia dari pipinya. Felicia hanya tertawa kecil.

Namun, hari itu, Jürgen belum tahu apa yang tersembunyi di balik senyuman Felicia.

***

TOK, TOK, TOK.

Seorang pria berbaju serba hitam berjalan dengan gagahnya menyusuri sebuah koridor. Suara tapak sepatunya sampai bergema ke ujung koridor yang sunyi itu. Di tangannya, digenggam sebuah amplop kertas berwarna coklat tua. Setelah beberapa lama berjalan, ia berhenti di depan sebuah pintu kayu yang besar. Ia memegang gagang pintu yang sudah sedikit berkarat, membuka pintu berat itu perlahan sehingga menimbulkan sedikit decitan saat dibuka.

Di dalam ruangan, didapatinya meja panjang untuk rapat yang disusun membentuk sebuah lingkaran, serta kursi-kursi yang sudah ditempati masing-masing pria berbaju serba hitam juga. Kecuali satu, seorang wanita muda dengan sebuah pita bergaris hitam tersemat di dadanya.

Didatanginya wanita itu, lalu diserahkannya amplop kertas coklat tua di tangannya. Wanita itu menerimanya dengan mata hazelnya yang menatap dingin ke arah lawan bicaranya. "Grazie," ucapnya pelan.

"Apapun untuk tunanganku," dipegangnya tangan wanita itu, dan sebuah kecupan hangat didaratkan di pipinya. Wanita itu membuka amplop kertas dan mengeluarkan isinya. Dua buah berkas yang tersusun rapi, masing-masing berisi identitas beserta sebuah foto yang ditempel dengan klip kertas di pojok kiri atas tiap berkas. Ia menangkap sesuatu di salah satu berkas. Tulisan 'Leutnant' tercetak tebal sebelum sebuah nama.

Leutnant Jürgen Fritzmann Schultz.

Terpampang foto Jürgen dalam warna sepia di pojok kiri atas berkas yang dipegang wanita muda tersebut. Seragam luftwaffe dikenakannya, beserta salib besi yang kali ini dikalungkan di lehernya. Sedang satu berkas lainnya berisi tentang Adler Ritterkoenig Schultz, kakak laki-laki Jürgen.

"Kakak-beradik yang hebat, ya? Keduanya memegang peranan penting," ucap lelaki berbaju serba hitam tadi, sembari membalikkan badan dari wanita itu. Wanita tadi masih sibuk membolak-balik berkas kakak-beradik Schultz.

"Pengguna Gewehr 98... Rifle yang digunakan saat Perang Dunia I, sekarang digunakan secara terbatas, bukan? Adler Ritterkoenig Schultz bukan sniper sembarangan. Lalu adiknya... Seorang luftwaffe berpangkat Leutnant, fighter pilot Messerschmitt Bf 110 Nachtjagdgeschwader. Heavy night fighter. Keduanya dijadikan 'senjata rahasia' Jerman," analisis wanita muda tersebut ternyata sangat akurat, dan membuat para peserta rapat di ruangan itu berdecak kagum. Analisisnya pun menuai senyuman puas dari lelaki yang kembali membalikkan badannya ke arah wanita muda tersebut.

"Tak sia-sia sebentar lagi kau akan menjadi seorang Vargas, Feli," sahut Antonio Vargas, lelaki berbaju serba hitam yang membawa berkas tadi. Wanita muda tunangan Antonio pun tak lain adalah Felicia Lombardi, satu-satunya wanita di ruangan rapat La Resistenza Italiana siang itu. Felicia pun kembali merapihkan berkas-berkas tersebut, dan kembali memasukkannya ke dalam amplop kertas coklat tua.

"... Lalu, apa kita akan tindak lanjuti mereka berdua? Kau merencanakan sesuatu, Antonio?'

Sahut sebuah suara dari pojok ruangan. Simone Lombardi, seorang lelaki paruh baya. Ayah Felicia, lebih tepatnya. "Kau tahu, mungkin --- membunuh mereka berdua bisa memberi keuntungan besar 'kan? Jerman akan kehilangan senjata mereka. Saat sedang lengah seperti itulah, kita dapat menggempurnya," lanjut Simone. Sebagian besar peserta rapat Resistenza pun mengiyakan usul Simone. Kecuali Felicia, yang kaget mendengar respon ayahnya.

Bunuh...? Membunuh Jürgen?

"Ta... Tapi, bukankah lebih baik... Jika kita pertimbangkan dulu?"

"Apa maksudmu, Felicia?" Tanya Simone dengan keras.

Tidak --- aku belum ingin berpisah dengan Jürgen. Tidak sekarang. Aku masih ingin melihatnya, bermain dengannya.

"Maksudku... Mungkin kita bisa... Mencuri lebih banyak informasi dulu! Atau, atau, kita... Kita bisa meminta bantuan Inggris! Atau..."

Para peserta rapat Resistenza mulai gelisah. Seumur-umur, mereka belum pernah melihat seorang Felicia Lombardi mengusulkan sebuah pertimbangan untuk menyerang Jerman. Biasanya, Felicia hanya mengiyakan usul-usul dari anggota Resistenza, atau menyusun strategi yang selama ini --- belum pernah gagal sekalipun.

Tidak --- aku tak ingin berada di sini... Tidak... Aku ingin bertemu Jürgen sekarang juga --- SEKARANG!

"... Yang jelas... Kita tak harus membunuh mereka... 'kan? Kumohon --- jangan buat keputusan dengan terburu-buru..." Ucap Felicia terbata-bata. Tangan dan bibirnya bergetar. Ia tahu, tak mungkin ia bisa katakan baik pada ayahnya atau di hadapan anggota Resistenza lainnya... Soal ia berteman dengan Jürgen. Lebih dari teman, mungkin. Apalagi pada Antonio. Resikonya terlalu besar. 

Simone langsung menggebrak meja rapat, kesal mendengar alasan konyol putrinya. "SADARLAH! Kita tak bisa seperti itu, Feli---"

"Tunggu," potong Antonio. Antonio mendekati Felicia yang tertunduk diam di bangkunya. "Feli, kau..." Antonio mengangkat dagu Felicia. 

"Menangis,"

Mata coklat Antonio menatap lurus mata hazel Felicia yang berkaca-kaca. Suara bisikan-bisikan pelan bergema sampai ke pojok ruangan rapat. "Antonio, maaf, aku..." Felicia menepis tangan Antonio dari dagunya. Ia lalu kembali menundukkan kepalanya dan mengusap matanya. Antonio, yang mengerti alasannya, segera membalikkan badan menghadap para peserta rapat Resistenza.

"Saudara-saudara, saya mohon jangan terjadi kesalahpahaman apapun karena kejadian ini. Kondisi tubuh Felicia sedang kurang baik, itu saja. Jadi, saya mohon pengertian sepenuhnya dari saudara sekalian," Antonio meraih lengan Felicia dan mengangkatnya dari kursinya, membopongnya ke luar ruangan. Tanpa membalikkan badan sedikitpun, tepat sebelum keluar dari ruangan Antonio meninggalkan perintah.

"Kekuasaan atas jalannya rapat La Resistenza Italiana saya alihkan ke Simone Lombardi. Diskusikan strategi penyerangan markas besar Jerman lewat udara. Dan tolong --- tunda pembahasan tentang Schultz bersaudara,"

"Simone Lombardi, siap mengambil alih," jawab Simone.

"Anzio dan Marinotti, pantau keadaan field. Bawa beberapa amunisi untuk berjaga-jaga. Jangan remehkan keadaan field sedikitpun, semuanya harus sempurna. Jika keadaan sudah memungkinkan, lapor ke markas,"

"Felix Anzio dan Lorenzo Marinotti, siap laksanakan," jawab keduanya secara bersamaan.

"De Luca, hubungi Kirkland. Kita harus meminta beberapa bantuan dari sekutu untuk akomodasi serta amunisi,"

"Alfonso De Luca, siap laksanakan," jawabnya.

"Laksanakan segera," kata-kata penutup yang diucapkan Antonio dengan nada datar, membuat orang-orang yang bersangkutan pun langsung menjalankan tugasnya masing-masing. Antonio menutup pintu kayu ruang rapat perlahan.

Di luar ruangan, tepatnya di koridor, Antonio masih mencoba menenangkan Felicia dalam dekapannya. "Feli..." ucap Antonio sambil mengusap rambut Felicia. Felicia menggenggam baju Antonio kuat-kuat.

"... Antonio, kumohon... Jangan bunuh Schultz bersaudara dulu... Jangan..." Badan Felicia bergetar hebat, membuat Antonio semakin khawatir.

"Tapi, ini demi Resiste---" Antonio langsung memotong kata-katanya, tepat sebelum bulir air mata mulai membasahi wajah Felicia. "... Ada sesuatu yang kau simpan, Feli?" tanya Antonio dengan lembut. Felicia hanya menggeleng pelan. Ini tetap menjadi rahasianya dengan Jürgen. Tak ada yang perlu tahu, Antonio sekalipun.

"Aku... hanya tak tega melihat mereka meninggal, Antonio. Mereka juga... Pasti punya orang yang membutuhkan mereka. Posisikan saja dirimu di posisi orang yang membutuhkan mereka, Antonio. Jika saja --- jika yang mati adalah aku, Apa kau tega? Kau tahan melihatnya, Antonio?"

Antonio menggelengkan kepalanya, mengeratkan dekapannya. "Kau kenal salah seorang dari Schultz bersaudara, Feli? Tak biasanya kau sampai mati-matian begini mempertahankan orang Jerman,"

"... Non, Antonio," jawab Felicia singkat. Antonio pun mempercayai Felicia begitu saja.


"... Baiklah. Tak apa, Feli."



To be continued.

***

Italiano
Si, si. Sono Jürgen Schultz, sono Germania. Come si fa a fare? Sto bene, grazie.
Ya, ya. Aku Jürgen Schultz, seorang Jerman. Apa kabar? Aku baik-baik saja, terima kasih.

Grazie : terima kasih
Non     : tidak

Deutsche
Ich bin Felicia Lombardi. Ich bin Italien. Wie wollen sie tun? Mir geht es gut. Danke. :
Aku Felicia Lombardi, seorang Italia. Apa kabar? Aku baik-baik saja, terima kasih.

Wie unverschämt! : tidak sopan!
Est tut mir leid für meine frechheit, tante. : Maaf atas ketidaksopanan saya, bibi.
narr : bodoh
Leutnant : Letnan

Messerschmitt Bf 110 Nachtjagdgeschwader : Sering disebut Me 110 NJG 4, pesawat perang Jerman bermesin ganda saat Perang Dunia II, biasa dipakai untuk menyerang pada malam hari. 

***