Saturday, August 25, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 3

"Mulai dari... Sekarang!"

"Ng! Ich bin Felicia Lombardi. Ich bin Italien. Wie wollen sie tun? Mir geht es gut. Danke,"

"Anak pintar! Kau sudah menguasainya," ujar Jürgen sambil mengusap rambut Felicia.

"Heh, aku ini lebih tua darimu! Wie unverschämt!" Felicia tertawa, sambil mencoba menyingkirkan tangan besar Jürgen dari kepalanya. Reaksinya kembali disambut tawa Jürgen. "Kalau begitu... Kupanggil tante saja, ya? Est tut mir leid für meine frechheit, tante,"

"... Sudahlah. Cukup panggil Feli saja," jawab Felicia sambil menundukkan kepalanya. Jürgen menepuk pundak Felicia. "Sabar,"

"Sekarang giliranmu,"

"Si, si. Sono Jürgen Schultz, sono Germania. Come si fa a fare? Sto bene, grazie," Ucap Jürgen dengan lancar. Felicia mengangguk kagum. "Kau cepat belajar," Felicia mengacungkan jempolnya.

Sudah beberapa minggu mereka menjalani rutinitas seperti ini. Bertemu di bawah pohon Oak, saling bertukar dan belajar bahasa. Entah karena lingkungannya atau apa, Felicia lebih cepat bisa berbahasa Jerman daripada Jürgen yang belajar bahasa Italia. Sekarang, Felicia sudah bisa berbahasa Jerman dengan fasih.

Selain bertukar bahasa, terkadang mereka melakukan kegiatan-kegiatan aneh lainnya. Misalnya, seekor anjing yang kebetulan lewat di depan mereka sering menjadi korban 'pelecehan' Felicia. Begitu kata Jürgen. "Felicia menyentuhnya tanpa izin!" Ayolah Jürgen. Bagaimana caranya dan untuk apa meminta izin dari seekor anjing hanya untuk mengelusnya saja?

"Jürgen, berapa tahun umur kakakmu?" tanya Felicia dengan ceria, seperti biasa. "21 tahun, kenapa?" Jürgen menjawabnya dengan bingung.

"... Dia... Sudah punya pacar?"

"... Eh?! Kau mengincarnya?"

"Bu... Bukan begitu, narr! Aku hanya penasaran,"

"Ng... ada. Teman masa kecilnya, Katharina. Dia cantik... Sepertimu," Jürgen mengucapkan kata 'sepertimu' dengan suara sangat pelan dan malu-malu, sepertinya tak terdengar oleh Felicia.

"He~ mungkin sebaiknya kau cari seorang wanita juga! Di Italia dengan wajah seperti ini, kau bisa mendapatkan yang cantik, lho!" Wajah Jürgen berubah merah padam. "Sikapmu juga. Baik, perhatian... Tipikal bapak rumah tangga! Dan..." Felicia memegang pipi Jürgen. "Kebiasaan wajahmu memerah~!" Ah, anak ini imut sekali, pikir Felicia.

"S... STOP. Kau, kau mulai... Terdengar seperti pedofil..." Jürgen menyingkirkan tangan Felicia dari pipinya. Felicia hanya tertawa kecil.

Namun, hari itu, Jürgen belum tahu apa yang tersembunyi di balik senyuman Felicia.

***

TOK, TOK, TOK.

Seorang pria berbaju serba hitam berjalan dengan gagahnya menyusuri sebuah koridor. Suara tapak sepatunya sampai bergema ke ujung koridor yang sunyi itu. Di tangannya, digenggam sebuah amplop kertas berwarna coklat tua. Setelah beberapa lama berjalan, ia berhenti di depan sebuah pintu kayu yang besar. Ia memegang gagang pintu yang sudah sedikit berkarat, membuka pintu berat itu perlahan sehingga menimbulkan sedikit decitan saat dibuka.

Di dalam ruangan, didapatinya meja panjang untuk rapat yang disusun membentuk sebuah lingkaran, serta kursi-kursi yang sudah ditempati masing-masing pria berbaju serba hitam juga. Kecuali satu, seorang wanita muda dengan sebuah pita bergaris hitam tersemat di dadanya.

Didatanginya wanita itu, lalu diserahkannya amplop kertas coklat tua di tangannya. Wanita itu menerimanya dengan mata hazelnya yang menatap dingin ke arah lawan bicaranya. "Grazie," ucapnya pelan.

"Apapun untuk tunanganku," dipegangnya tangan wanita itu, dan sebuah kecupan hangat didaratkan di pipinya. Wanita itu membuka amplop kertas dan mengeluarkan isinya. Dua buah berkas yang tersusun rapi, masing-masing berisi identitas beserta sebuah foto yang ditempel dengan klip kertas di pojok kiri atas tiap berkas. Ia menangkap sesuatu di salah satu berkas. Tulisan 'Leutnant' tercetak tebal sebelum sebuah nama.

Leutnant Jürgen Fritzmann Schultz.

Terpampang foto Jürgen dalam warna sepia di pojok kiri atas berkas yang dipegang wanita muda tersebut. Seragam luftwaffe dikenakannya, beserta salib besi yang kali ini dikalungkan di lehernya. Sedang satu berkas lainnya berisi tentang Adler Ritterkoenig Schultz, kakak laki-laki Jürgen.

"Kakak-beradik yang hebat, ya? Keduanya memegang peranan penting," ucap lelaki berbaju serba hitam tadi, sembari membalikkan badan dari wanita itu. Wanita tadi masih sibuk membolak-balik berkas kakak-beradik Schultz.

"Pengguna Gewehr 98... Rifle yang digunakan saat Perang Dunia I, sekarang digunakan secara terbatas, bukan? Adler Ritterkoenig Schultz bukan sniper sembarangan. Lalu adiknya... Seorang luftwaffe berpangkat Leutnant, fighter pilot Messerschmitt Bf 110 Nachtjagdgeschwader. Heavy night fighter. Keduanya dijadikan 'senjata rahasia' Jerman," analisis wanita muda tersebut ternyata sangat akurat, dan membuat para peserta rapat di ruangan itu berdecak kagum. Analisisnya pun menuai senyuman puas dari lelaki yang kembali membalikkan badannya ke arah wanita muda tersebut.

"Tak sia-sia sebentar lagi kau akan menjadi seorang Vargas, Feli," sahut Antonio Vargas, lelaki berbaju serba hitam yang membawa berkas tadi. Wanita muda tunangan Antonio pun tak lain adalah Felicia Lombardi, satu-satunya wanita di ruangan rapat La Resistenza Italiana siang itu. Felicia pun kembali merapihkan berkas-berkas tersebut, dan kembali memasukkannya ke dalam amplop kertas coklat tua.

"... Lalu, apa kita akan tindak lanjuti mereka berdua? Kau merencanakan sesuatu, Antonio?'

Sahut sebuah suara dari pojok ruangan. Simone Lombardi, seorang lelaki paruh baya. Ayah Felicia, lebih tepatnya. "Kau tahu, mungkin --- membunuh mereka berdua bisa memberi keuntungan besar 'kan? Jerman akan kehilangan senjata mereka. Saat sedang lengah seperti itulah, kita dapat menggempurnya," lanjut Simone. Sebagian besar peserta rapat Resistenza pun mengiyakan usul Simone. Kecuali Felicia, yang kaget mendengar respon ayahnya.

Bunuh...? Membunuh Jürgen?

"Ta... Tapi, bukankah lebih baik... Jika kita pertimbangkan dulu?"

"Apa maksudmu, Felicia?" Tanya Simone dengan keras.

Tidak --- aku belum ingin berpisah dengan Jürgen. Tidak sekarang. Aku masih ingin melihatnya, bermain dengannya.

"Maksudku... Mungkin kita bisa... Mencuri lebih banyak informasi dulu! Atau, atau, kita... Kita bisa meminta bantuan Inggris! Atau..."

Para peserta rapat Resistenza mulai gelisah. Seumur-umur, mereka belum pernah melihat seorang Felicia Lombardi mengusulkan sebuah pertimbangan untuk menyerang Jerman. Biasanya, Felicia hanya mengiyakan usul-usul dari anggota Resistenza, atau menyusun strategi yang selama ini --- belum pernah gagal sekalipun.

Tidak --- aku tak ingin berada di sini... Tidak... Aku ingin bertemu Jürgen sekarang juga --- SEKARANG!

"... Yang jelas... Kita tak harus membunuh mereka... 'kan? Kumohon --- jangan buat keputusan dengan terburu-buru..." Ucap Felicia terbata-bata. Tangan dan bibirnya bergetar. Ia tahu, tak mungkin ia bisa katakan baik pada ayahnya atau di hadapan anggota Resistenza lainnya... Soal ia berteman dengan Jürgen. Lebih dari teman, mungkin. Apalagi pada Antonio. Resikonya terlalu besar. 

Simone langsung menggebrak meja rapat, kesal mendengar alasan konyol putrinya. "SADARLAH! Kita tak bisa seperti itu, Feli---"

"Tunggu," potong Antonio. Antonio mendekati Felicia yang tertunduk diam di bangkunya. "Feli, kau..." Antonio mengangkat dagu Felicia. 

"Menangis,"

Mata coklat Antonio menatap lurus mata hazel Felicia yang berkaca-kaca. Suara bisikan-bisikan pelan bergema sampai ke pojok ruangan rapat. "Antonio, maaf, aku..." Felicia menepis tangan Antonio dari dagunya. Ia lalu kembali menundukkan kepalanya dan mengusap matanya. Antonio, yang mengerti alasannya, segera membalikkan badan menghadap para peserta rapat Resistenza.

"Saudara-saudara, saya mohon jangan terjadi kesalahpahaman apapun karena kejadian ini. Kondisi tubuh Felicia sedang kurang baik, itu saja. Jadi, saya mohon pengertian sepenuhnya dari saudara sekalian," Antonio meraih lengan Felicia dan mengangkatnya dari kursinya, membopongnya ke luar ruangan. Tanpa membalikkan badan sedikitpun, tepat sebelum keluar dari ruangan Antonio meninggalkan perintah.

"Kekuasaan atas jalannya rapat La Resistenza Italiana saya alihkan ke Simone Lombardi. Diskusikan strategi penyerangan markas besar Jerman lewat udara. Dan tolong --- tunda pembahasan tentang Schultz bersaudara,"

"Simone Lombardi, siap mengambil alih," jawab Simone.

"Anzio dan Marinotti, pantau keadaan field. Bawa beberapa amunisi untuk berjaga-jaga. Jangan remehkan keadaan field sedikitpun, semuanya harus sempurna. Jika keadaan sudah memungkinkan, lapor ke markas,"

"Felix Anzio dan Lorenzo Marinotti, siap laksanakan," jawab keduanya secara bersamaan.

"De Luca, hubungi Kirkland. Kita harus meminta beberapa bantuan dari sekutu untuk akomodasi serta amunisi,"

"Alfonso De Luca, siap laksanakan," jawabnya.

"Laksanakan segera," kata-kata penutup yang diucapkan Antonio dengan nada datar, membuat orang-orang yang bersangkutan pun langsung menjalankan tugasnya masing-masing. Antonio menutup pintu kayu ruang rapat perlahan.

Di luar ruangan, tepatnya di koridor, Antonio masih mencoba menenangkan Felicia dalam dekapannya. "Feli..." ucap Antonio sambil mengusap rambut Felicia. Felicia menggenggam baju Antonio kuat-kuat.

"... Antonio, kumohon... Jangan bunuh Schultz bersaudara dulu... Jangan..." Badan Felicia bergetar hebat, membuat Antonio semakin khawatir.

"Tapi, ini demi Resiste---" Antonio langsung memotong kata-katanya, tepat sebelum bulir air mata mulai membasahi wajah Felicia. "... Ada sesuatu yang kau simpan, Feli?" tanya Antonio dengan lembut. Felicia hanya menggeleng pelan. Ini tetap menjadi rahasianya dengan Jürgen. Tak ada yang perlu tahu, Antonio sekalipun.

"Aku... hanya tak tega melihat mereka meninggal, Antonio. Mereka juga... Pasti punya orang yang membutuhkan mereka. Posisikan saja dirimu di posisi orang yang membutuhkan mereka, Antonio. Jika saja --- jika yang mati adalah aku, Apa kau tega? Kau tahan melihatnya, Antonio?"

Antonio menggelengkan kepalanya, mengeratkan dekapannya. "Kau kenal salah seorang dari Schultz bersaudara, Feli? Tak biasanya kau sampai mati-matian begini mempertahankan orang Jerman,"

"... Non, Antonio," jawab Felicia singkat. Antonio pun mempercayai Felicia begitu saja.


"... Baiklah. Tak apa, Feli."



To be continued.

***

Italiano
Si, si. Sono Jürgen Schultz, sono Germania. Come si fa a fare? Sto bene, grazie.
Ya, ya. Aku Jürgen Schultz, seorang Jerman. Apa kabar? Aku baik-baik saja, terima kasih.

Grazie : terima kasih
Non     : tidak

Deutsche
Ich bin Felicia Lombardi. Ich bin Italien. Wie wollen sie tun? Mir geht es gut. Danke. :
Aku Felicia Lombardi, seorang Italia. Apa kabar? Aku baik-baik saja, terima kasih.

Wie unverschämt! : tidak sopan!
Est tut mir leid für meine frechheit, tante. : Maaf atas ketidaksopanan saya, bibi.
narr : bodoh
Leutnant : Letnan

Messerschmitt Bf 110 Nachtjagdgeschwader : Sering disebut Me 110 NJG 4, pesawat perang Jerman bermesin ganda saat Perang Dunia II, biasa dipakai untuk menyerang pada malam hari. 

***

Thursday, August 23, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 2

Daun-daun kering yang memerah gugur, menyapu jalan-jalan di kota Berlin siang itu. Felicia menulusuri jalan desa itu dengan riang. Hari ini, dia kembali pergi berbelanja bahan makanan. Sembari berjalan, ia bersenandung dan menyanyikan lagu berbahasa Italia.



"Fischia il vento e infuria la bufera,
scarpe rotte e pur bisogna andar
a conquistare la rossa primavera
dove sorge il sol dell'avvenir.
A conquistare la rossa primavera
dove sorge il sol dell'avvenir.

Ogni contrada è patria del ribelle,
ogni donna a lui dona un sospir,
nella notte lo guidano le stelle
forte il cuore e il braccio nel colpir.

Se ci coglie la crudele morte,
dura vendetta farà dal partigian;
ormai sicura è la dura sorte
del fascista vile traditor.

Cessa il vento, calma è la bufera,
torna a casa il fiero partigian,
sventolando la rossa sua bandiera;
vittoriosi e alfin liberi siam.
"

Lagu perjuangan untuk para anggota Resistenza pada saat itu, namun tak ada satupun di sekitar sana yang mengerti karena dinyanyikan dalam bahasa Italia. Sebuah keuntungan. Tiba-tiba, Felicia menangkap sesuatu di ekor matanya. Sesosok lelaki Jerman berseragam tentara yang tinggi, dengan rambut pirang yang tersisir rapih dan mata berwarna biru kobalt yang bening. Sosok yang Felicia kenal.


"Ciao, Jürgen!" sapa Felicia dengan ceria. Lelaki yang dipanggil namanya pun berbalik ke arah suara yang memanggilnya, mendapati Felicia berdiri di sana dan melambaikan tangannya. Ia pun membalas dengan gugup, "Ciao, Italien, um, Felicia," meskipun wajahnya tidak tersenyum, terpancar keramahan dari pandangan matanya yang tenang tapi tegas.

Felicia menghampiri Jürgen yang berdiri tak jauh darinya. Diberikannya senyum cerahnya pada Jürgen. "Kebetulan sekali! Danke sekali lagi untuk beberapa hari lalu. Apa kabar, Jürgen?" tanyanya dengan semangat. Felicia benar-benar tak mengira akan bertemu lagi dengan Jürgen di tempat yang sama. Suatu kebetulan yang menguntungkan! "Um, gut, danke. Kau sedang apa, Felicia?" tanya Jürgen sambil memalingkan mukanya yang memerah. Dia pemalu? Manis sekali, pikir Felicia.

"Ah ya, aku mau membeli bahan makanan lagi. Kalau boleh, bisa tolong temani aku ke pasar? Yaaah, untuk mencegah kejadian seperti beberapa hari lalu. Aku belum mahir berbahasa Jerman,"

"Uh, ya..." jawab Jürgen pelan, sepertinya tidak terlalu yakin. "Aku baru saja ingin kembali..." saat dilihat Jürgen wajah Felicia yang siap meminta maaf, ia langsung memotongnya, "Tak apa! Jalannya searah dengan pasar," Jürgen tersenyum kecil. Mata Felicia berbinar dan bersemangat. "Danke, Jürgen! Akhirnya kau tersenyum juga! Ja, lasst uns gehen!" Felicia langsung meraih tangan Jürgen, dan berjalan ke arah pasar. Ini pertama kalinya aku berjalan bersama tentara Jerman! Felicia sedikit terkikik membayangkan reaksi ayahnya jika ia sampai dilihat ayahnya seperti ini. Bisa jadi sebuah lubang peluru menganga di antara kedua matanya.

Felicia memperhatikan seragam Jürgen. Kemeja putih dan dasi hitam dibalik jaket biru keabu-abuan dengan kerah terbuka, lengkap dengan salib besi yang tergantung di dada kirinya. Celana panjang yang dipakainya berwarna senada. Berbeda dengan seragam tentara Jerman yang biasa dilihatnya. Karena pernasaran, Felicia memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Jürgen. "Um, kalau aku boleh tahu, seragammu ini seragam apa, Jürgen?"

"Ini? seragam luftwaffe," jawab Jürgen sambil menarik kerah jaketnya. "He~ begitu. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya," Jürgen hanya tersenyum menanggapi jawaban Felicia. Melihat senyum Jürgen, Felicia menyadari jantungnya berdebar lebih cepat. Tunggu, kenapa ini?

Selama di jalan, mereka memulai obrolan-obrolan ringan. Ternyata Jürgen mempunyai seorang kakak laki-laki yang seorang tentara juga. Berbeda dengan Jürgen, kakaknya adalah seorang sniper handal andalan Jerman. Namun sepertinya Jürgen memilih menghindari topik soal keluarga, begitu juga dengan Felicia. Jelas ia tak ingin rahasianya sebagai seorang Resistenza terbongkar.

Sesampainya di pasar, Felicia membeli telur dan tepung. Pasta lagi, untuk besok. "Kau sering berbelanja seperti ini? ... Di tempatmu yang dulu juga?" tanya Jürgen penasaran. Felicia tertawa. "Iya. Ayahku tak pernah mau menapakkan selangkah kaki pun ke luar rumah untuk berbelanja. Apalagi waktu perang seperti ini. Persediaan makanan hanya sedikit, bahkan kami belum menyiapkan cadangan untuk musim dingin. Susah sekali bisa mendapatkan bahan makanan seperti ini," mendengar itu, Jürgen hanya terdiam beberapa saat. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Felicia.

"... Cokelat? Untukku? Hebat! Darimana kau mendapatkan yang seperti ini?" Felicia kagum.

"Semalam lumayan sulit untuk Jerman. Biasanya ada sedikit jatah lebih untuk luftwaffe. Aku tak terlalu suka manis, jadi..." Semalam? Ah ya, serangan udara dan pendaratan Mustang, pesawat Amerika.

"Danke! Aku suka cokelat!" seru Felicia semangat. Senyum lega terpancar di wajah Jürgen.

"Bitte."

Kehadiran Jürgen benar-benar membantu. Ia tak perlu bingung lagi menanyakan sesuatu kepada penjualnya, Jürgen bisa menerjemahkannya.

Terpikir juga Felicia untuk melancarkan bahasa Jermannya, untuk 'bertahan hidup' di Berlin. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di kepala Felicia. Ya, pasti bisa! "Jürgen, aku punya ide!" Jürgen menoleh ke arah Felicia yang menenteng belanjaan di tangan kanannya.

"Bagaimana jika kita bertemu secara rutin agar aku bisa belajar bahasa Jerman? Sebagai gantinya, aku akan mengajarimu bahasa Italia juga!" seru Felicia bersemangat.

Wajah Jürgen tampak khawatir sesaat. "Tapi... aku bahkan belum tahu tentang dirimu. Maksudku --- kita baru saja bertemu beberapa hari lalu!" Felicia tersenyum sekilas, lalu menggenggam tangan Jürgen. "Karena itulah, kita bisa saling mengenal sedikit demi sedikit kan? Kita bisa berteman!"

"... Teman, ya..." mereka terdiam beberapa lama. Setelah beberapa saat akhirnya, Jürgen menjawabnya. "Hm. Aku juga ingin belajar bahasa Italia,"

Mendengar jawaban Jürgen, Felicia senang. "Kalau begitu, pohon Oak dekat sungai ya! Kau tahu kan?" Jürgen mengangguk.

Langit sore musim gugur hari itu berwarna jingga, dengan daun-daun kering yang menghiasi tiap sudut kota Berlin. Mungkin bagi Felicia lebih indah dari biasanya. Menunda niatnya kembali ke markas, Jürgen mengantar Felicia pulang. Digenggamnya tangan gadis Italia itu erat-erat.

Awal dari persahabatan mereka.

***

"Felicia! Kemana saja kau! Sudah gelap begini!" Benar saja dugaan Felicia. Ayahnya pasti marah jika ia pulang terlalu larut. Masih terhitung beruntung ayahnya tak melihat Jürgen.

Kenapa bisa terjadi seperti itu? Beberapa meter sebelum sampai rumah, Felicia sudah jelas khawatir jika ayahnya sampai melihat Jürgen. Demi keselamatan Jürgen, akhirnya Felicia memutuskan menghentikan langkahnya.

"Danke für ihre hilfe, Jürgen. Kau harus kembali ke markasmu sekarang, 'kan?" 

Jürgen yang tadinya khawatir, sebenarnya tetap mau mengantar Felicia hingga benar-benar sampai rumah. Namun setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya Jürgen pun kembali ke markasnya. Syukurlah.

"Maafkan aku, ayah. Pasarnya sedikit ramai tadi," Felicia membuat alasan asal-asalan dan tak diduga, ayahnya percaya. "Cepat masuk. Hari ini kita makan paella," jawab ayahnya sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju meja makan. Paella? Mewah sekali. Mood ayah sedang bagus? Gumam Felicia sambil menyusul ayahnya menuju meja makan.

"Kau tahu, papa... Paella selalu mengingatkanku pada madre..." ujar Felicia sambil menyuapkan sesendok paella ke mulutnya. Simone tertegun. Dilihatnya putri tunggalnya itu sedih. Sudah pasti ia merindukan ibunya. 

"Feli..."

"Tapi, dia sudah bahagia di sisi Tuhan sekarang. Mengingat itu selalu membuatku tenang," Felicia langsung memotong kata-kata ayahnya. Ia tak mau makan malam ini berubah suasana menjadi tidak enak. 

Masih diingatnya saat kecil dulu, ibunya sering sekali membuatkan paella untuknya. Fiori Caridad Lombardi, ibu Felicia yang berdarah Spanyol-Italia, itu sebabnya Felicia memanggilnya madre. Sayangnya, ibunya meninggal 12 tahun lalu karena kecelakaan. Simone dan Felicia pun memilih untuk tidak membicarakannya, karena hanya semakin membuat mereka sedih.

"Kau dapat informasi tadi, Feli?" tanya ayahnya dengan lembut, mengalihkan topik pembicaraan. Felicia menaruh sendoknya di piring, berhenti makan untuk berbicara sebentar.

"Kabari keluarga Vargas. Mungkin mereka bisa memberi informasi soal ini," sahut Feli.

"Kakak beradik Schultz, seorang sniper dan seorang luftwaffe. Aku butuh informasi tentang mereka,"



To be continued.

***

Italiano

Fischia il vento e infuria la bufera, :  Angin berhembus, badai berkecamuk,
scarpe rotte e pur bisogna andar    :  Meskipun sepatu kita rusak kita harus berjuang
a conquistare la rossa primavera    : Untuk meraih musim semi 
dove sorge il sol dell'avvenir.          : Dimana matahari masa depan cerah terbit.
A conquistare la rossa primavera   Untuk meraih musim semi
dove sorge il sol dell'avvenir.          Dimana matahari masa depan cerah terbit.

Ogni contrada è patria del ribelle,  : Setiap negara adalah sebuah rumah untuk pemberontak,
ogni donna a lui dona un sospir,     : Setiap wanita punya keluhan untuknya,
nella notte lo guidano le stelle        : Bintang-bintang membimbingnya melewati malam
forte il cuore e il braccio nel colpir : Menguatkan hati dan tangannya saat ada serangan.

Se ci coglie la crudele morte,          : Jika kematian yang kejam menghampiri kami,
dura vendetta farà dal partigian;   : Balas dendam akan datang dari para partisan;
ormai sicura è la dura sorte            : Nasib yang kejam adalah hal yang pasti
del fascista vile traditor.                 : Untuk para fasis, pengkhianat yang keji.

Cessa il vento, calma è la bufera,   : Angin berhenti berhembus, badai pun tenang,
torna a casa il fiero partigian,        : Para partisan pulang dengan kebanggaan,
sventolando la rossa sua bandiera; : Bendera merahnya berkibar tertiup angin,
vittoriosi e alfin liberi siam.            : Sebuah kemenangan, akhirnya kita bebas.





Deutsche
Um, gut, danke. : Um, baik, terima kasih.
Ja, lasst uns gehen! : Nah, ayo pergi sekarang!
luftwaffe : angkatan udara
Bitte : sama-sama
Danke für ihre hilfe : Terima kasih atas bantuanmu

Española
madre : ibu

Tuesday, August 21, 2012

02.

Air mata menuruni wajahku
Yang dingin membisu
Kurindukan ujung jarimu yang hangat
Menyeka air mata dari pipiku

Aku kesepian, tenggelam dalam keheningan
Kegelapan mencekam
Kuingin dengar suaramu yang ceria
Menjadi secercah cahaya

Tanganku hampa, tak ada yang tersisa
Serpihan memori yang hilang
Kucoba meraih tanganmu
Mengingat kenangan bersamamu

"Aku mencintaimu," senyuman tipis terpulas di wajahmu.

Kututup matamu dengan tanganku.

"Aku juga," aku tersenyum padamu, yang sudah terbaring tak bernyawa dalam dekapanku. Matamu yang tertutup selamanya setelah kubuka tanganku.

Monday, August 20, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 1


Di atas lembaran kain linen putih, terbaring lemah seorang remaja laki-laki berumur sekitar 19 tahun. Matanya yang berwarna biru kobalt buram dan terlihat lelah, menerawang ke luar jendela lewat lapisan tipis gorden putih. Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas bertuliskan kata-kata dalam bahasa Jerman. Beberapa bagian sudah dicoret.

Jürgen Schultz, namanya. Kulitnya yang berwarna putih pucat dan mulus terbalut kaus biru muda kebesaran. Rambutnya yang pirang seperti gandum tersisir rapih ke belakang.

Ia menghela nafas panjang. "... Natal, ya..." ujarnya lelah. Ia mengalihkan pandangannya dari jendela, dan membaca lembaran-lembaran surat yang sudah kumal yang sejak tadi dipegangnya. Tinta hitam di atas kertas lusuh itu pun sudah mulai memudar. Mulailah Jürgen membaca kata per kata dalam bahasa Jerman itu.

'Jürgen, wie wollen sie tun?'
Jürgen, bagaimana kabarmu?

'Mir geht es gut. Ich bin sicher, Sie können sich selbst kümmern.'
Aku baik-baik saja. Aku yakin, kau bisa mengurus dirimu sendiri.

'Es ist fast Weihnachten! Es ist irgendwie kalt hier in Italien. Wie ist Berlin? Ich glaube immer noch kalt wie immer.'
Natal sebentar lagi! Di Italia pun sudah mulai dingin. Bagaimana di Berlin? Pasti dingin seperti biasanya.

'Und, um, Jürgen? Wie geht es ihrem Italiano lernen hin? Wage es nicht faul, und kann nicht verstehen, was ich sage, wenn ich wieder nach hausse kommen.'
Dan, uh, Jürgen? Sudah sejauh mana kau belajar bahasa Italia? Jangan coba-coba malas, dan kau tak mengerti apa yang kukatakan saat pulang nanti.

'Est ist zu früh aber, froh Weihnachten! Mit liebe, Felicia.'
Masih terlalu cepat, tapi Selamat Natal! Salam, Felicia.

Senyum tipis terpulas di wajah Jürgen, bersamaan dengan sebulir air mata yang tanpa sadar perlahan menuruni pipinya. Surat dari Felicia Lombardi, seorang gadis Italia sekaligus teman Jürgen.

***

Perang Dunia II-lah yang mempertemukan keduanya. Saat keluarga Lombardi baru pindah ke Berlin, sepulang dari berbelanja bahan makanan Felicia pernah dicegat oleh seorang tentara Jerman. Tentara bermuka garang itu terus berteriak dalam bahasa Jerman, Felicia yang hari itu belum bisa berbahasa Jerman hanya bisa kebingungan dengan ekspresi ketakutan. Felicia mencoba memakai bahasa Jerman yang diingatnya jika sewaktu-waktu diperlukan, dengan harapan tentara Jerman tersebut akan mengerti.

"Um, sir? Ke-kein Deutsche! Sprechen sie Englisch? Italienisch?"

Sang tentara Jerman malah berteriak semakin keras --- dan lagi-lagi dalam bahasa Jerman, sementara Felicia  makin bingung. Rasanya ia ingin kabur dari tempat itu secepatnya.  Akhirnya Felicia memutuskan untuk memakai bahasa Inggris, daripada terperangkap dalam situasi seperti ini lama-lama.

"I'm sorry! I don't understand what are you sa---"

Kata-kata itu tercekat di tenggorokannya, saat sebuah senapan diarahkan ke kepala Felicia. Felicia gemetar ketakutan, tapi ia tak bisa melangkah sedikit pun dari tempat itu. Ia hanya diam, pasrah menunggu sang tentara menarik pelatuknya.

Saat itulah, seorang tentara lain yang berada tak terlalu jauh dari mereka berteriak. Sepertinya memanggil tentara yang membentak Felicia. Tentara itu tinggi dan berambut pirang gandum yang tersisir rapi ke belakang. Ia membentak tentara yang sebelumnya membentak Felicia. Sepertinya marah sekali. Felicia tercengang melihat kedua tentara itu saling berteriak bersahutan dalam bahasa Jerman. Setelah selesai dibentak, tentara yang membentak Felicia tadi pergi.

Tentara berambut pirang gandum itu menghampiri Felicia yang masih berdiri terpaku. Ia mencoba menenangkan Felicia.

"Anda bisa berbahasa Jerman, nona?" Felicia menggeleng. Mendengar sang tentara berbicara dalam bahasa Inggris, Felicia menghela nafas lega. "Saya bisa berbicara dalam bahasa Inggris," Tentara itu mengangguk. "Maafkan dia tadi. Ia hanya minta anda memperlihatkan kartu identitas anda,"

"... Begitu..." Felicia mengeluarkan sebuah berkas berisi identitasnya., lalu menyodorkannya pada sang tentara. "Felicia Lombardi, 19 tahun, Italien. Aku baru pindah ke Berlin beberapa hari lalu. Dan, um, jika aku boleh tahu, dengan siapa aku berbicara?" Senyum cerah terpulas di wajah Felicia.

"Ah, maaf. Jürgen Schultz, 18 tahun," balasnya. Ia mengembalikan kertas identitas Felicia. "Senang bertemu denganmu,  Jürgen!" Felicia menjabat tangan Jürgen. Jürgen mengangguk. "Ng... aku juga. Kau tak apa... Felicia?" Wajah Jürgen sedikit memerah.

Felicia menjawab dengan ceria, "Aku baik-baik saja, danke!" kembali Felicia tersenyum. Jürgen benar-benar tentara Jerman paling baik yang pernah ia temui, meskipun ia tak tersenyum sedikit pun. Khas orang Jerman. "Kalau begitu, boleh aku pulang sekarang? Aku tak mau membuat orangtuaku khawatir," setelah beberapa saat, Jürgen mempersilahkan Felicia pulang. "Ah, iya. Silahkan. Berhati-hatilah," jawab Jürgen sambil mengangkat topinya.

Felicia melangkahkan kakinya dari tempat itu dengan senang. Ia membuka pintu kayu di depannya yang sedikit berdecit keras. "Aku pulang, ayah!" Felicia menutup pintu rumahnya dan menguncinya. "Hm, bienvenuto, Felicia. Kau dapat tepungnya?" Sahut seorang laki-laki paruh baya berambut coklat gelap dari dapur. Simone Lombardi, ayah Felicia. "Si, si! Bahkan aku bisa membeli gula juga!" Felicia menaruh kantung belanjaannya di meja makan. Bagi mereka, bisa membeli gula saja adalah hal yang luar biasa, apalagi karena kelangkaannya saat Perang Dunia II pecah.

Tak berapa lama, ayah Felicia keluar dari dapur, membawa dua piring pasta yang baru saja matang. Ia menaruhnya di meja makan.

"Selamat makan, ayah!" ujar Felicia setelah berdoa. Untuk beberapa waktu ruang makan tenggelam dalam keheningan, kecuali suara dentingan garpu. Setelah beberapa saat, akhirnya ayah Felicia mulai berbicara, "Ada kabar bagus dari Italia," ia meletakkan garpunya di piringnya yang sudah kosong. "Beberapa tentara Jerman berhasil dipukul mundur siang tadi,"

"Kemenangan lagi untuk La Resistenza Italiana!" seru ayah Felicia dengan semangat.

Simone Lombardi dan Felicia Lombardi, ayah-anak berkebangsaan Italia anggota La Resistenza Italiana. Resistenza, gerakan orang Italia yang pro-sekutu saat zaman Perang Dunia II. Tujuan mereka pindah ke Berlin pun tak lain untuk memata-matai pergerakan tentara Jerman dan mencuri informasi vital Jerman. Tentu saja dengan sedemikian rupa mereka menutupi identitas mereka dari warga sekitar.

Felicia merenung. Selama ini, ia menganggap kematian tentara Jerman adalah hal biasa, yang malah terhitung bagus untuk Resistenza. Tapi, sekarang ia berpikir juga bagaimana mudahnya Jürgen terbunuh kapan pun seperti tentara-tentara Jerman tadi.

Mungkin lebih baik untuknya jika ia merahasiakan pertemuannya dengan Jürgen pada ayahnya. Mungkin...

***

Malam semakin larut. Felicia naik ke atas ranjangnya, menatap langit-langit kayu kamarnya. Kejadian sore tadi tak bisa dilupakannya. Masih terbayang sosok tinggi Jürgen yang menolongnya. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia..." Perlahan Felicia menutup matanya untuk tidur.



To be continued

***

Italiano
bienvenuto : Selamat datang
Si, si : Ya, ya
La Resistenza Italiana   : An Italian Resistance

Deutsche
danke : terima kasih 
Frohliche Weihnachten : Selamat Natal
Um, sir? Ke-kein Deutsche! Sprechen sie Englisch? Italienisch? :
Uh, tuan? Saya bukan orang Jerman! Anda bisa berbicara dalam bahasa Inggris? Italia?




Thursday, August 16, 2012

01.

Wahai engkau yang tak kutahu berada di mana

Aku rindu

Hatiku perih tiap kali mengingatmu

Kau tahu itu? Tidak kan?

Yang bisa kulakukan
Hanya menangis, dan menangis
Hingga air mataku kering
Hanya untuk menangisimu

Kau tahu? Oh tidak, kau tak akan pernah tahu.

Aku memanggil namamu
Berulang dan berulang lagi
Hingga suaraku habis
Hanya untuk memanggilmu

Sudah cukup. Kau tak akan mendengarnya.

Aku sudah tahu kau akan melupakanku.


Aku tak tahu lagi harus bagaimana
Aku tak tahu lagi kau dimana
Bahkan aku tak tahu lagi kau siapa


Lupakanlah. Lupakan semua.

Tutup matamu, lihatlah sebuah mimpi indah.

Begitu bangun, kau akan sadar

Kau akan tahu sesuatu

Bahwa kau kehilangan semuanya.