Tuesday, June 25, 2013

Dietro Monocromatico, Pt. 1

Dengan malas kukerjapkan mataku. Refleks tubuh menggeliat nyaman menerima kehangatan lemahnya matahari musim gugur yang biasanya jarang menghampiri. Ketika segala roh sudah sepenuhnya kembali dari alam mimpi, kusadari tubuhku berbalut kehangatan dari lembar garmen bersih. Awak masih menjulur, berbaring di antara lipatan linen baru, harum khas mentari pagi. Samar bau manis yang familiar ikut menyeruak memenuhi hidung. Biar dikata seakan setan menunggangi kepala, seberat apapun sakit yang melanda aku masih mampu menoleh, mempertemukan mata dengan sumber cahaya tepat di sampingku dengan kekontrasannya yang menusuk.

Namun, cahaya mentari tua itu terblokir. Siluet bocah perempuan mungil mendominasi.

Memang butuh beberapa detik untuk mataku mempelajari siluet itu. Hanya butuh beberapa detik untuk memperjelas segala imej yang disajikan di hadapanku. Segala yang dapat kulihat hanyalah sebentuk wajah kekanakan yang tidak terlalu bulat. Bibir merahnya tipis, melengkung, menahan seribu kata penuh penasaran yang tak sabar ingin dilontarkan begitu saja. Sekalipun membelakangi cahaya, kilat indah hazelnya masih terpatri jelas, penuh rasa ingin tahu. Pipinya memerah semu secara alami.

"Ah, buongiorno!", sapa sang gadis kecil riang, sambil melayangkan senyum ramah. Ia tertawa riang, antara miris melihat sosok dekil nan suram yang kebingungan di hadapannya atau sekedar menenangkanku. "Semalam kau pingsan di depan toko. Papa yang menggotongmu kemari," ucap sang gadis sambil menyodorkan segelas air yang sepertinya memang sudah disediakannya sejak tadi.

Mataku kembali menerawang, awas terhadap tiap sudut interior yang didominasi kayu ditambah dengan paduan warna putih yang menyeimbangi. Jendela kayunya pun dibingkai oleh lapisan renda gorden tipis. Jadi begitu, ini di dalam toko roti, rupanya. Memang, semalam melelahkan dan begitu dingin, sampai aku sempat berpikir bisa saja aku mati membeku saat itu juga. Mungkin bukan sebatas berpikir. Aku, akulah yang menginginkan kematian itu. Dan aku yakin akan mendapatkannya. Aku.

Kubuyarkan lamunanku ketika aku sadar sang gadis kecil menunggu. "Si... Mille grazie." Perlahan tanganku yang masih gemetar meraih gelas yang diberikan, nyaris membuat gelas melesat dari genggaman. Dengan cekatan, tanpa pikir panjang sang gadis kecil meraih pergelangan tanganku. "Hati-hati," ucapnya tegas.

Aku menoleh. Bahkan sebelum sempat kusadari, pipiku sendiri sudah terlanjur merona merah semu. Terasa panas menguar di wajah. Kurasakan lembutnya sebentuk porselen yang meraih. Tangan yang hadir ini bukan tangan kejam ayah yang menampar. Bukan tangan nista ibu yang mengelus dengan penuh dusta. Bukan tangan biadab tuan 'pembeli' yang menjamah tiap jengkal badan. Berbeda. Tangan bocah perempuan ini hangat, ketulusan dan kepolosan terpancar.

Seperti inikah rasanya tangan manusia?

Masih kunikmati kehangatan yang menjalar dari sebentuk tangan mulus nan mungil itu. "Lucu."

Cukup kusembunyikan wajah. Merunduk, menutup mata dengan selaput kulit yang disapu bulu mata. "Lucu bagaimana kau bisa sebaik ini pada orang asing."

Seraya mengukir lengkung dengan maksud menertawai diri sendiri, aku berbisik lembut. "Bisa saja aku menjualmu sekarang, kau tahu itu, 'kan?"

Betapa polosnya ia mempercayai orang. Betapa besar hatinya memperhatikan seonggok mayat di depan tokonya. Alangkah baiknya ia melangkahkan kaki di tengah dinginnya malam demi tubuh menjijikkan penghalang etalase tokonya.

"Tak menutup kemungkinan aku akan menggores wajahmu dengan pecahan gelas ini kelak," tawaku sinting.

Sesungguhnya aku iri. Aku rindu kepolosanku.

Sebelum kembali aku menggumam tak jelas seperti orang imbisil, sang gadis mungil bertindak cepat. Mengalihkan gelas dari tanganku yang gemetar. Menggantikannya kembali dengan tangannya sendiri yang jelas terlampau kecil untuk menjangkau, membungkus seluruh tanganku. Setidaknya ia tahu. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu bagaimana membuatku nyaman dalam tatapan hazelnya.

Mulutnya menolak bernegasi dengan kata-kataku. Ia memilih diam, mendengarkan tanpa membalas sepatah kata pun dari pernyataanku. Tetap dengan senyum ramah yang entah sejak kapan terpatri di bibirnya---seakan memperdaya agar aku tidak berpikir negatif tentang diriku sendiri yang faktanya memang menyedihkan ini, seakan ia paham segala masalahku---ia justru balas berucap.

"Felicia Lombardi, kau?"

Aku penasaran. Penasaran dengan gadis yang entah tolol atau terlampau baik ini. Salahkah aku jika kuingin tahu lebih banyak tentang, yah, bisa dibilang, manusia biasa? Kau tahu, dibanding orang yang pernah kutemui sepanjang aku berpijak di bumi ini, hanya ia yang paling normal. Salahkah aku jika kuingin tahu tentang mereka, yang mungkin---tak kenal yang namanya menyakiti diriku?

"Aku... Felix. Felix dari Anzio," jawabku pelan.

... Yang jelas, aku tak akan menyesal. Bukankah seharusnya begitu?

***

To be continued

***

Sunday, May 19, 2013

Dietro Monocromatico, Prologue

P R O L O G U E
Un Ragazzo di Anzio

"Dua jelai roti," ucap pria bertubuh tambun itu sambil menyodorkan keping-keping logam kecil ke genggaman yang mungil pula. Telapaknya yang besar membungkus rapat tangan sang bocah kurus. Wajah gemuk khas Italia Utara miliknya dihiasi senyuman yang membuat sang bocah muak sekaligus ketakutan. Anak laki-laki itu pun hanya mampu merunduk dengan pandangan menerawang. Kemeja putihnya yang kusut belum terkancing rapat, menampilkan perutnya yang rata, dihias goresan kecil. Kakinya yang kurus lemah ingin meringkuk kedinginan, gemetar diterpa angin tanpa lindungan garmen.

Dengan handuk yang dibasahi bulir air hangat, mulai sang pria tambun mengelus lembut perut sang bocah yang terkotori bercak putih. Tubuh mungilnya berjengit ketika sentuh bulu itu membuat kontak, mengeluarkan erangan pelan. Seraya membersihkan, pria itu berbisik pelan. "Kau tak memberitahu siapapun?" Air muka bocah kecil tersebut berubah ketakutan, matanya terbelalak khawatir. Tubuhnya dengan cepat bereaksi, gemetar terancam. Terburu-buru ia menggeleng seakan ada monster yang hendak menghabisinya sekejap mata. Balas pria tambun itu tersenyum penuh kemenangan, lanjut membasuh noda sperma dari perut sang bocah hingga bersih.

Diletakkannya kembali handuk kecil itu ke baskom berisi air hangat. Perlahan untai kancing itu dikait satu demi satu, menutup bekas noda perlakuan bejat. Seakan mengancam pria tambun itu menatap manik monokrom yang tertutupi surai sutra coklat. Nadanya berubah penuh harap seperti anak kecil yang tak mau ditinggal sendirian. "Ini rahasia kita. Ingat?"

Bocah mungil itu hanya bisa mengangguk kaku, pasrah.

***

Berbalut sepatu lusuh ia melangkah perlahan, menyeret langkah menahan perihnya tubuh bagian belakangnya.  Tangannya merogoh kantung mantel coklat kumalnya. Sekali ditarik genggamannya, ia termenung menatap telapaknya yang dipenuhi koin yang hanya bernilai beberapa lira---ralat---beberapa sen, mungkin. Memang cukup untuk membeli dua jelai roti seperti yang sudah dikatakan sang pria tambun sebelumnya. Cukup untuk bertahan selama, yah, seminggu? Lumayan, paling tidak ia masih diberi kesempatan hidup. Kembali ia menyisipkan tangan ke saku mantelnya, terdengar gemerincing pelan saat koin kecil itu saling berbenturan satu sama lain.

Ia mencengkeram pundaknya merapatkan mantel, merangsek dirinya ke dalam kehangatan. Malam-malam dingin musim gugur ditambah tirai tipis hujan seperti ini membuat lajur darahnya beku, belum lagi musim dingin masih menanti. Bocah malang itu tersenyum tipis, melihat bola cahaya berpendar dari balik kerai-kerai toko dan rumah-rumah kecil bertembok bata kokoh. Sesaat pikirannya tenang membayangkan kebahagiaan penghuni-penghuninya yang saling berinteraksi dengan begitu akrabnya, warna-warni kehidupan yang terbungkus dalam kehangatan sebuah keluarga.

Keluarga.

Pahit rasanya tenggorokannya mengucapkan kata itu. Perih rasanya hatinya mengingat semua yang ia lalui. Lelah rasanya tubuh menanggung beban.

Teringat kembali sentuh hewan biadab dari padang gersang, menodai kesuciannya. Tak berperasaan mendengar tangis dan teriaknya. Bahkan sang bocah masih ingat jelas beban yang menindihnya, menarik saliva dari bibir mungilnya, bertukar suhu dan menempelkan tubuh semakin erat satu sama lain. Tubuh rampingnya pun terasa nyeri hanya mendengar deru angin dingin menerpa, tertelan liurnya.

Memang gara-gara siapa ia disini sekarang kalau bukan ulah makhluk alkoholik yang berlabel 'ayah' di punggungnya? Gara-gara siapa jika bukan seorang wanita kaya lemak yang sempat menuntut agar dipanggil 'ibu', yang tega menjual cinta demi sesuap makanan dan remah roti? Gara-gara siapa darah daging mereka harus tersiksa jiwa raga, kalau bukan karena keserakahan keduanya?

Berkali-kali pertanyaan kabur tersebut beresonansi di benaknya. Bocah asal Anzio itu pun mengusap perlahan cairan bening yang tak terasa menggenangi pelupuk matanya. Sebulir dua bulir, lama-lama wajahnya kuyup juga. Kini yang bisa ia dengar hanyalah isak tangisnya sendiri. Limbung, cahaya temaram menaungi awak ringkihnya yang kelelahan, terbanting ke arah dinding bata sebuah toko roti, nyaris menghantam kaca etalase. Kelelahan tampaknya, cukup lelah hingga tak mampu lagi menguar jeritan putus asa. Ia tersenyum melihat pendar cahaya jingga di sampingnya.

Tak cukup kesadarannya hanya untuk mendengar sayup sebuah suara yang samar memanggilnya. Bukan nama, sekedar kata.

***

To be continued

***

Thursday, January 10, 2013

Fröhliche Weihnachten, Pt. 7

Ia tak ingin lagi berbohong. Ia tak ingin lari lagi. Lelah sudah tubuh dan batinnya jika harus menanggung semuanya. Mendengar perkataan Jürgen, Felicia hanya mengangguk seakan tak punya harapan.

"... Tentu. Selama ini, kau hanya memanfaatkan keberadaanku. Posisiku sebagai luftwaffe, semua hanya demi informasi," ucap Jürgen dengan dingin. "Ya, pasti begitu. Burung penyampai pesan Resistenza... Pembohong," tatapan Jürgen berubah menjadi begitu kejam.

Mata hazelnya mengerling, langsung terlihat berkaca-kaca. Ia bisa merasakan dadanya terikat rasa sakit, rasa dingin yang teramat sangat menusuk tulang belakangnya. Felicia hendak menyangkal semua pernyataan yang diucapkan Jürgen. Semua itu tidak benar, aku tidak melakukan itu, aku, aku...

"Dengar, Jürgen, awalnya memang begitu, tapi---"

"Selama ini, pertanyaan-pertanyaan yang kau tanyakan, membangun kepercayaanku sedemikian rupa... Mein Gott," Jürgen masih melanjutkan perkataannya, membuat Felicia semakin terpojok.

"Bukan, bukan begitu, aku hanya mencoba memperingatkanmu, aku---" semakin sulit rasanya bagi Felicia hanya untuk mengucapkan sepatah kata saja. Rasa pahit memanjati tenggorokannya.

"Semua hanya untuk mengkhianatiku..."

Tidak, jangan sampai semuanya berakhir seperti ini. Ini semua tidak terjadi, ini semua tidak nyata. "Tidak! Aku tak pernah melakukan itu sekalipun, kumohon, kau harus percaya---"

"DIAM! Aku tahu persis bagaimana kalian para Resistenza bekerja!" Bentak Jürgen, membuat Felicia terpaku seketika, terjebak dalam kalimat singkat itu.

Oksigen makin terasa sulit untuk dihirup Felicia. Belati seakan tertancap, tepat menusuk jantungnya. Rasa sakitnya luar biasa hingga mulai menggerogoti seluruh tubuhnya. Inilah kejadian terburuk yang sudah ia duga akan terjadi---Jürgen membencinya, dan tak akan percaya kepadanya. Kemungkinan terbesar---Jürgen mati, atau Resistenza terancam. Felicia jatuh tersungkur di hadapan kaki Jürgen, tak lagi kuat untuk berdiri. Ia menunduk sedalam-dalamnya, tak ingin melihat wajah Jürgen yang menatapnya rendah. "Kumohon. Dengarkan aku, aku hanya ingin kau hidup---"

"Hidup? Hah. Untuk apa aku mempercayai kata-kata seorang pembohong?" Potong Jürgen singkat. Jürgen sadar, perkataannya itu sudah keterlaluan, menyakitkan hati gadis Italia di hadapannya. Ia sendiri segera menutup mulutnya. Meskipun diliputi perasaan kesal sebesar apapun, ia masih punya perasaan tak tega. Entah apa yang berhasil membuatnya teguh akan pendiriannya, Jürgen langsung membalikkan punggungnya dari hadapan Felicia yang masih berlutut di tanah, berusaha menyembunyikan ekspresinya sendiri.

"Pergilah, pengkhianat. Cepat. Jangan pernah lagi menunjukkan mukamu itu di hadapanku." Jürgen bergegas kembali ke markasnya, meninggalkan Felicia yang terduduk sendirian.

Pengkhianat.

Berjuang Felicia hanya untuk menghirup sedikit udara saja, hendak menghilangkan kesesakan yang sejak tadi mengikatnya. Dengan putus asa kembali Felicia mengulurkan tangannya, jauh, untuk kembali meraih Jürgen. Namanya diteriakkan berkali-kali dengan serak dari mulutnya---namun percuma, Jürgen tak akan berbalik lagi kini.

Rusak, tak berguna. Terbuang, kesepian, rentan. Hancur.

Menyedihkan.

Felicia menyeringai kecil, menertawai kebodohan dirinya sendiri. Bodohnya ia mengumbar semuanya. Bodohnya ia mengkhianati Resistenza. Pada akhirnya semuanya sia-sia juga. Jürgen tidak rela mempercayainya. Resistenza bukan lagi sebuah keluarga untuknya. Justru air mata makin membanjiri wajahnya sementara ia menangguhkan dirinya sendiri. Felicia tahu, ia harus pulang, memberi tahu ia sudah mengkhianati semuanya, apa yang ia percayai selama ini. Felicia tahu, ia harus menerima nasibnya sendiri, tak akan ada yang bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Semuanya perbuatannya sendiri. Dosanya sendiri.

Felicia membenahi dirinya hingga cukup kekuatannya untuk bangkit, beranjak dari tempat itu, kembali ke rumah kecilnya yang gelap. Sebagai tambahan, ia tak akan pernah lagi pergi ke sana, untuk selamanya. Betapa gelapnya langit siang itu, pertanda badai salju akan datang. Felicia tak menyadari dan tak memedulikannya sama sekali.

***

Pandangan mata monokromnya dengan liar mengincar seluruh pojok ruangan. Sejak tadi jarinya mengetuk meja, kukunya yang terpotong rapi bertemu dengan kayu cokelat pekat. Mulutnya sibuk entah menggumamkan apa, takut. Tak pernah ia merasa segelisah ini, hanya untuk hal sesederhana menunggu dan terus menunggu. Telinganya cukup tajam untuk mendengar suara grendel pintu depan dibuka. Suara decitan yang biasa ia dengar kali ini terdengar begitu mengerikan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu depan, melihat secercah cahaya masuk ke dalam rumah.

Sosok itu hanya berdiri tegap disana. Tangannya tak lagi melekat di grendel pintu, kini dikepalkan di samping tubuhnya. Mulutnya terkatup rapat di atas raut wajahnya yang pucar pasi, penuh oleh air mata. Berantakan dan basah kuyup, hanya syal merah marun yang melilit lehernya masih terikat rapi. Seakan malas berbicara, ia menoleh, memalingkan pandangannya ke arah lantai kayu.

Felix ragu, menatapnya sesaat untuk memastikan, mencoba membenahi pikirannya. Meskipun masih tak tahu apa yang terjadi, ia benar-benar khawatir. Bagaimana jika ini semua salahnya? Bagaimana kalau ternyata pilihannya salah, dan malah menjatuhkan keduanya sekaligus?

"Felicia?" panggilnya.

Tak ada jawaban. Isak tangis Felicia membuat dirinya sendiri sulit untuk berbicara. "Feli, kau membuatku takut. Apa yang terjadi?" Felix merasa dirinya seakan sudah terpojok. Ia membungkuk sedikit, untuk melihat wajah yang tertutupi helai rambut cokelat gelap. Air mata tak henti-hentinya menetes dari soketnya, menolak untuk mengering. Felix mendesah pelan. "Kau sudah pergi menemuinya, 'kan?" Felicia hanya bisa mengangguk menanggapinya. Felix menyingkirkan rambut yang menutupi telinga Felicia, kemudian berkata pelan. "Maafkan aku. Aku benar-benar..."

Belum selesai Felix berkata, Felicia dengan cepat menggeleng. Ini bukan salah siapapun, ini sebatas salahnya. Hanya, sebelum ia benar-benar dibenci semuanya, ia masih ingin merasakan kebaikan hati Felix. Untuk sekali ini saja. Sambil sedikit terisak, ia mencoba berbicara. "Hei, Fel," Felicia menggenggam sebelah tangan Felix. "... Kita punya janji, 'kan? Kau masih ingat?"

Felix mengangguk pelan, tahu pasti ada sesuatu yang tak beres. "Ya..." jawabnya. Dari balik bayangan yang menutupi wajahnya, Felicia tersenyum lirih. Spontan ia meraih pundak Felix dengan berhati-hati, memeluknya erat untuk menghibur dirinya sendiri. Ia hanya ingin memluk sahabatnya untuk terakhir kalinya. Bibirnya sedikit bergetar saat mengatakan sesuatu tepat ke telinga kiri Felix. "Maafkan aku, Fel."

"Maaf untuk apa---" sontak Felix berdiri terpaku menelan ludahnya. Lehernya serasa tercekik ketika menyadari kaki kurus gadis Italia itu terlalu lemah untuk menahan beban tubuhnya sendiri, nyaris ia terjatuh. Persis seperti sesaat sebelum Jürgen pergi. Isak tangisnya terdengar semakin keras di telinganya, meresap dan menyayat hingga ke lubuk hatinya. Lajur darahnya tetap membeku dalam ketakutan meskipun Felix sendiri sudah mengira ini semua akan terjadi.

Mata Felicia berputar sesaat, menangkap sebuah gelas pendek berisi cairan bening berwarna cokelat muda. Rum. Sepertinya baru saja diminum Felix sebelum ia pulang. Pulang dari tempat mengerikan itu. Pulang setelah ia mengkhianati segalanya. Pulang dan mengemis perlindungan pada sahabatnya. Felicia menutup matanya yang masih dibanjiri air mata, betapa rendah dirinya kini. Wajahnya digeser, sedikit mengadah, sehingga mulutnya sejajar persis dengan telinga Felix.

"Bunuh aku."

***

Wangi samar lavender merebak di ruangan, terbawa angin dingin yang berhembus dari jendela yang terbuka lebar. Tak terlewatkan juga angin itu meniup rambut cokelat yang selembut sutra. Sosoknya yang kurus dibalut kain putih bersih yang dijahit menjadi selembar rok panjang----berlutut sambil menggenggam sebuah rosario erat-erat. Mulutnya berkali-kali berbisik menggumamkan doa.

Ia beranjak setelah puas mencurahkan isi hatinya. Ia berdiri hingga bingkai kayu jendela sejajar dengan mata hazelnya yang baru saja dibuka---lurus dengan tatapan tak bersalah, tersirat ketenangan namun dipenuhi kesepian. Sinar cerah matahari musim dingin Piacenza merekah seakan memandikannya dengan berkah. Begitu hangat, mampu mencairkan ulu hatinya yang membeku oleh dinginnya kota Berlin hari itu.

Hari itu...

Rambutnya berkibar tertiup angin bersamaan dengan gerakan rok putihnya ketika ia berbalik, mendapati seseorang membuka pintu. Suara ketukannya terlalu pelan untuk meraih telinganya. Dengan penuh keraguan sang pemuda dari balik pintu menatapnya. "Kau sudah siap, Feli?" Tanya sang pemuda pelan.

Felicia tersenyum lirih kepada sang pemuda. Kedua telapak tangannya digenggam, diletakkan di depan dadanya. Ia menegakkan kepalanya dengan tegar. "Jika memang itu yang Tuhan kehendaki dariku, kapanpun aku siap," jawabnya tegas. Semburat merah tipis yang mewarnai pipinya entah bagaimana memancarkan kepasrahan. Selesai berbicara demikian, rosario ia lepaskan dari lehernya, diletakkannya dengan pelan di atas sebuah meja kerja kecil tepat di bawah jendela. Felicia melangkah dengan pelan ke arah pintu, untuk menemui takdirnya. Sambil kedua pergelangan tangannya disodorkan ke hadapan pemuda itu, senyumannya belum pudar saat ia berbicara kepada sang pemuda. "Sudah waktunya 'kan, Felix?"

Felix menunduk tanpa mengatakan sepatah kata, meraih kedua pergelangan tangan kurus itu. Felicia berinisiatif membalikkan badannya saat tangannya ditarik kebelakang, diikat dengan sebuah tali. Namun, sedikit maaf untuknya, tali tambang itupun tak menyisakan bekas sedikitpun pada tangannya, menyakitkan sedikit saja tidak. Felix tak tega memperlakukan seorang perempuan layaknya pengkhianat lainnya, belum lagi ini sahabatnya sendiri, seorang gadis yang ia sukai. 

Felix merangkul pundak Felicia dengan berhati-hati, menuntunnya ke luar ruangan. Felicia mengikuti dengan wajah yang datar. Jam dua siang kurang lima belas menit. Sudah hampir waktunya untuk pengeksekusian. Keduanya membisu dalam kesuraman. Masing-masing sudah cukup menderita untuk berbicara.

Pintu yang tadinya terbuka kini sudah berdecit pelan tanda tertutup, mengunci wangi lavender samar yang mulai memenuhi ruangan, serta kenangan terakhir yang ditinggalkan seorang gadis Italia yang sempat berada di sana. Sebuah tanda bahwa ia pernah hidup, pernah lahir ke dalam dunia.

Sebuah rosario yang akan terus dibiarkan berada di sana, terkunci rapat dari dunia luar.

***

Lantai alun-alun yang bersepuh salju tipis kini ditimpa oleh seorang gadis yang sedang berlutut. Tangannya masih diikat ke belakang. Kepalanya yang terbalut penutup berwarna hitam ditodongkan sebuah senapan panjang yang sudah siap ditarik pelatuknya. Sementara yang memegang, jemarinya bergetar di pelatuk senapan, sang eksekutor sendiri sedang menahan diri sebisanya. Ia memicingkan mata, masih berusaha agar air mata yang menggenangi bola mata abu-abunya tidak turun mengaliri pipinya. Beruntung, poninya yang lumayan panjang dapat menutupi ekspresinya yang sedih luar biasa, giginya gemertak menahan tangis tanpa seorangpun menyadarinya. Lebih tepatnya tak ada yang peduli.

Felix Anzio, yang sudah tumbuh sebagai pemuda yang begitu kuat, di hari Natal yang seperti ini harus meneteskan air matanya. Ia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang dicintainya akan mati oleh tangannya, oleh senapan yang ia pegang, oleh pelatuk yang akan ia tarik. Ingin ia melihat wajah manis sang gadis Italia yang kini terhalang penutup. Ingin ia melihat bibir tipis itu tersenyum hanya untuknya. Ingin ia tertawa seperti biasa dengannya, seakan selalu ada kesempatan di hari esok. Namun, kini? Hidup gadis itu hanya tinggal beberapa menit lagi, bahkan sang gadis Italia itu tak akan berkesempatan melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. 

Sang gadis Italia itu dihujani tatapan dingin nan kejam. Dari teman-temannya. Dari rekannya. Dari tunangannya, bahkan dari ayahnya sendiri. Nyaris semua yang berdiri di sana. Semua sudah membenci sang pengkhianat nomor satu itu. Sang pengkhianat yang sudah menghancurkan seluruh rencana hanya untuk menyelamatkan nyawa seorang pemuda Jerman, atau berpuluh-puluh orang Jerman lainnya. Bahkan tindakannya dibenci kedua pihak, dibenci oleh sang pemuda Jerman yang hendak ia selamatkan. Kurang apa lagi pengorbanannya hanya untuk mencintai dan dicintai?

Dari balik penutup yang menghalanginya, Felicia memutar balik semua memorinya. Mulai dari ia kecil, mulai dari tangan lembut sang madre yang membelainya. Mulai dari wangi paella yang baru saja keluar dari dapur, mulai dari saat tubuh madre-nya tergeletak dingin tak bernyawa. Mulai dari ayahnya yang keras namun menyayanginya, mulai dari sahabat lelakinya yang cengeng---yang kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda gagah yang akan mengeksekusinya. Mulai dari ia berangkat ke Berlin, bertemu seorang tentara garang. Berlanjut saat ia ditolong.

Lelaki yang ia cintai. Yang sudah ia korbankan nyawanya sendiri untuk menolong sang pemuda.

Jürgen.

Felicia tersenyum kecil, menggumam dari mulutnya yang tertutup rapat oleh kain.

"Ich liebe dich, mein schatz..."

Pelatuk senapan ditarik oleh Felix yang sudah berlinang air mata dari soketnya.

"Frohliche Weihnachten."

DOR!

***

F I N.

***