"... Tentu. Selama ini, kau hanya memanfaatkan keberadaanku. Posisiku sebagai luftwaffe, semua hanya demi informasi," ucap Jürgen dengan dingin. "Ya, pasti begitu. Burung penyampai pesan Resistenza... Pembohong," tatapan Jürgen berubah menjadi begitu kejam.
Mata hazelnya mengerling, langsung terlihat berkaca-kaca. Ia bisa merasakan dadanya terikat rasa sakit, rasa dingin yang teramat sangat menusuk tulang belakangnya. Felicia hendak menyangkal semua pernyataan yang diucapkan Jürgen. Semua itu tidak benar, aku tidak melakukan itu, aku, aku...
"Dengar, Jürgen, awalnya memang begitu, tapi---"
"Selama ini, pertanyaan-pertanyaan yang kau tanyakan, membangun kepercayaanku sedemikian rupa... Mein Gott," Jürgen masih melanjutkan perkataannya, membuat Felicia semakin terpojok.
"Bukan, bukan begitu, aku hanya mencoba memperingatkanmu, aku---" semakin sulit rasanya bagi Felicia hanya untuk mengucapkan sepatah kata saja. Rasa pahit memanjati tenggorokannya.
"Semua hanya untuk mengkhianatiku..."
Tidak, jangan sampai semuanya berakhir seperti ini. Ini semua tidak terjadi, ini semua tidak nyata. "Tidak! Aku tak pernah melakukan itu sekalipun, kumohon, kau harus percaya---"
"DIAM! Aku tahu persis bagaimana kalian para Resistenza bekerja!" Bentak Jürgen, membuat Felicia terpaku seketika, terjebak dalam kalimat singkat itu.
Oksigen makin terasa sulit untuk dihirup Felicia. Belati seakan tertancap, tepat menusuk jantungnya. Rasa sakitnya luar biasa hingga mulai menggerogoti seluruh tubuhnya. Inilah kejadian terburuk yang sudah ia duga akan terjadi---Jürgen membencinya, dan tak akan percaya kepadanya. Kemungkinan terbesar---Jürgen mati, atau Resistenza terancam. Felicia jatuh tersungkur di hadapan kaki Jürgen, tak lagi kuat untuk berdiri. Ia menunduk sedalam-dalamnya, tak ingin melihat wajah Jürgen yang menatapnya rendah. "Kumohon. Dengarkan aku, aku hanya ingin kau hidup---"
"Hidup? Hah. Untuk apa aku mempercayai kata-kata seorang pembohong?" Potong Jürgen singkat. Jürgen sadar, perkataannya itu sudah keterlaluan, menyakitkan hati gadis Italia di hadapannya. Ia sendiri segera menutup mulutnya. Meskipun diliputi perasaan kesal sebesar apapun, ia masih punya perasaan tak tega. Entah apa yang berhasil membuatnya teguh akan pendiriannya, Jürgen langsung membalikkan punggungnya dari hadapan Felicia yang masih berlutut di tanah, berusaha menyembunyikan ekspresinya sendiri.
"Pergilah, pengkhianat. Cepat. Jangan pernah lagi menunjukkan mukamu itu di hadapanku." Jürgen bergegas kembali ke markasnya, meninggalkan Felicia yang terduduk sendirian.
Pengkhianat.
Berjuang Felicia hanya untuk menghirup sedikit udara saja, hendak menghilangkan kesesakan yang sejak tadi mengikatnya. Dengan putus asa kembali Felicia mengulurkan tangannya, jauh, untuk kembali meraih Jürgen. Namanya diteriakkan berkali-kali dengan serak dari mulutnya---namun percuma, Jürgen tak akan berbalik lagi kini.
Rusak, tak berguna. Terbuang, kesepian, rentan. Hancur.
Menyedihkan.
Felicia menyeringai kecil, menertawai kebodohan dirinya sendiri. Bodohnya ia mengumbar semuanya. Bodohnya ia mengkhianati Resistenza. Pada akhirnya semuanya sia-sia juga. Jürgen tidak rela mempercayainya. Resistenza bukan lagi sebuah keluarga untuknya. Justru air mata makin membanjiri wajahnya sementara ia menangguhkan dirinya sendiri. Felicia tahu, ia harus pulang, memberi tahu ia sudah mengkhianati semuanya, apa yang ia percayai selama ini. Felicia tahu, ia harus menerima nasibnya sendiri, tak akan ada yang bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Semuanya perbuatannya sendiri. Dosanya sendiri.
Felicia membenahi dirinya hingga cukup kekuatannya untuk bangkit, beranjak dari tempat itu, kembali ke rumah kecilnya yang gelap. Sebagai tambahan, ia tak akan pernah lagi pergi ke sana, untuk selamanya. Betapa gelapnya langit siang itu, pertanda badai salju akan datang. Felicia tak menyadari dan tak memedulikannya sama sekali.
***
Pandangan mata monokromnya dengan liar mengincar seluruh pojok ruangan. Sejak tadi jarinya mengetuk meja, kukunya yang terpotong rapi bertemu dengan kayu cokelat pekat. Mulutnya sibuk entah menggumamkan apa, takut. Tak pernah ia merasa segelisah ini, hanya untuk hal sesederhana menunggu dan terus menunggu. Telinganya cukup tajam untuk mendengar suara grendel pintu depan dibuka. Suara decitan yang biasa ia dengar kali ini terdengar begitu mengerikan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu depan, melihat secercah cahaya masuk ke dalam rumah.
Sosok itu hanya berdiri tegap disana. Tangannya tak lagi melekat di grendel pintu, kini dikepalkan di samping tubuhnya. Mulutnya terkatup rapat di atas raut wajahnya yang pucar pasi, penuh oleh air mata. Berantakan dan basah kuyup, hanya syal merah marun yang melilit lehernya masih terikat rapi. Seakan malas berbicara, ia menoleh, memalingkan pandangannya ke arah lantai kayu.
Felix ragu, menatapnya sesaat untuk memastikan, mencoba membenahi pikirannya. Meskipun masih tak tahu apa yang terjadi, ia benar-benar khawatir. Bagaimana jika ini semua salahnya? Bagaimana kalau ternyata pilihannya salah, dan malah menjatuhkan keduanya sekaligus?
"Felicia?" panggilnya.
Tak ada jawaban. Isak tangis Felicia membuat dirinya sendiri sulit untuk berbicara. "Feli, kau membuatku takut. Apa yang terjadi?" Felix merasa dirinya seakan sudah terpojok. Ia membungkuk sedikit, untuk melihat wajah yang tertutupi helai rambut cokelat gelap. Air mata tak henti-hentinya menetes dari soketnya, menolak untuk mengering. Felix mendesah pelan. "Kau sudah pergi menemuinya, 'kan?" Felicia hanya bisa mengangguk menanggapinya. Felix menyingkirkan rambut yang menutupi telinga Felicia, kemudian berkata pelan. "Maafkan aku. Aku benar-benar..."
Belum selesai Felix berkata, Felicia dengan cepat menggeleng. Ini bukan salah siapapun, ini sebatas salahnya. Hanya, sebelum ia benar-benar dibenci semuanya, ia masih ingin merasakan kebaikan hati Felix. Untuk sekali ini saja. Sambil sedikit terisak, ia mencoba berbicara. "Hei, Fel," Felicia menggenggam sebelah tangan Felix. "... Kita punya janji, 'kan? Kau masih ingat?"
Felix mengangguk pelan, tahu pasti ada sesuatu yang tak beres. "Ya..." jawabnya. Dari balik bayangan yang menutupi wajahnya, Felicia tersenyum lirih. Spontan ia meraih pundak Felix dengan berhati-hati, memeluknya erat untuk menghibur dirinya sendiri. Ia hanya ingin memluk sahabatnya untuk terakhir kalinya. Bibirnya sedikit bergetar saat mengatakan sesuatu tepat ke telinga kiri Felix. "Maafkan aku, Fel."
"Maaf untuk apa---" sontak Felix berdiri terpaku menelan ludahnya. Lehernya serasa tercekik ketika menyadari kaki kurus gadis Italia itu terlalu lemah untuk menahan beban tubuhnya sendiri, nyaris ia terjatuh. Persis seperti sesaat sebelum Jürgen pergi. Isak tangisnya terdengar semakin keras di telinganya, meresap dan menyayat hingga ke lubuk hatinya. Lajur darahnya tetap membeku dalam ketakutan meskipun Felix sendiri sudah mengira ini semua akan terjadi.
Mata Felicia berputar sesaat, menangkap sebuah gelas pendek berisi cairan bening berwarna cokelat muda. Rum. Sepertinya baru saja diminum Felix sebelum ia pulang. Pulang dari tempat mengerikan itu. Pulang setelah ia mengkhianati segalanya. Pulang dan mengemis perlindungan pada sahabatnya. Felicia menutup matanya yang masih dibanjiri air mata, betapa rendah dirinya kini. Wajahnya digeser, sedikit mengadah, sehingga mulutnya sejajar persis dengan telinga Felix.
"Bunuh aku."
***
Wangi samar lavender merebak di ruangan, terbawa angin dingin yang berhembus dari jendela yang terbuka lebar. Tak terlewatkan juga angin itu meniup rambut cokelat yang selembut sutra. Sosoknya yang kurus dibalut kain putih bersih yang dijahit menjadi selembar rok panjang----berlutut sambil menggenggam sebuah rosario erat-erat. Mulutnya berkali-kali berbisik menggumamkan doa.
Ia beranjak setelah puas mencurahkan isi hatinya. Ia berdiri hingga bingkai kayu jendela sejajar dengan mata hazelnya yang baru saja dibuka---lurus dengan tatapan tak bersalah, tersirat ketenangan namun dipenuhi kesepian. Sinar cerah matahari musim dingin Piacenza merekah seakan memandikannya dengan berkah. Begitu hangat, mampu mencairkan ulu hatinya yang membeku oleh dinginnya kota Berlin hari itu.
Hari itu...
Rambutnya berkibar tertiup angin bersamaan dengan gerakan rok putihnya ketika ia berbalik, mendapati seseorang membuka pintu. Suara ketukannya terlalu pelan untuk meraih telinganya. Dengan penuh keraguan sang pemuda dari balik pintu menatapnya. "Kau sudah siap, Feli?" Tanya sang pemuda pelan.
Felicia tersenyum lirih kepada sang pemuda. Kedua telapak tangannya digenggam, diletakkan di depan dadanya. Ia menegakkan kepalanya dengan tegar. "Jika memang itu yang Tuhan kehendaki dariku, kapanpun aku siap," jawabnya tegas. Semburat merah tipis yang mewarnai pipinya entah bagaimana memancarkan kepasrahan. Selesai berbicara demikian, rosario ia lepaskan dari lehernya, diletakkannya dengan pelan di atas sebuah meja kerja kecil tepat di bawah jendela. Felicia melangkah dengan pelan ke arah pintu, untuk menemui takdirnya. Sambil kedua pergelangan tangannya disodorkan ke hadapan pemuda itu, senyumannya belum pudar saat ia berbicara kepada sang pemuda. "Sudah waktunya 'kan, Felix?"
Felix menunduk tanpa mengatakan sepatah kata, meraih kedua pergelangan tangan kurus itu. Felicia berinisiatif membalikkan badannya saat tangannya ditarik kebelakang, diikat dengan sebuah tali. Namun, sedikit maaf untuknya, tali tambang itupun tak menyisakan bekas sedikitpun pada tangannya, menyakitkan sedikit saja tidak. Felix tak tega memperlakukan seorang perempuan layaknya pengkhianat lainnya, belum lagi ini sahabatnya sendiri, seorang gadis yang ia sukai.
Felix merangkul pundak Felicia dengan berhati-hati, menuntunnya ke luar ruangan. Felicia mengikuti dengan wajah yang datar. Jam dua siang kurang lima belas menit. Sudah hampir waktunya untuk pengeksekusian. Keduanya membisu dalam kesuraman. Masing-masing sudah cukup menderita untuk berbicara.
Pintu yang tadinya terbuka kini sudah berdecit pelan tanda tertutup, mengunci wangi lavender samar yang mulai memenuhi ruangan, serta kenangan terakhir yang ditinggalkan seorang gadis Italia yang sempat berada di sana. Sebuah tanda bahwa ia pernah hidup, pernah lahir ke dalam dunia.
Sebuah rosario yang akan terus dibiarkan berada di sana, terkunci rapat dari dunia luar.
***
Lantai alun-alun yang bersepuh salju tipis kini ditimpa oleh seorang gadis yang sedang berlutut. Tangannya masih diikat ke belakang. Kepalanya yang terbalut penutup berwarna hitam ditodongkan sebuah senapan panjang yang sudah siap ditarik pelatuknya. Sementara yang memegang, jemarinya bergetar di pelatuk senapan, sang eksekutor sendiri sedang menahan diri sebisanya. Ia memicingkan mata, masih berusaha agar air mata yang menggenangi bola mata abu-abunya tidak turun mengaliri pipinya. Beruntung, poninya yang lumayan panjang dapat menutupi ekspresinya yang sedih luar biasa, giginya gemertak menahan tangis tanpa seorangpun menyadarinya. Lebih tepatnya tak ada yang peduli.
Felix Anzio, yang sudah tumbuh sebagai pemuda yang begitu kuat, di hari Natal yang seperti ini harus meneteskan air matanya. Ia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang dicintainya akan mati oleh tangannya, oleh senapan yang ia pegang, oleh pelatuk yang akan ia tarik. Ingin ia melihat wajah manis sang gadis Italia yang kini terhalang penutup. Ingin ia melihat bibir tipis itu tersenyum hanya untuknya. Ingin ia tertawa seperti biasa dengannya, seakan selalu ada kesempatan di hari esok. Namun, kini? Hidup gadis itu hanya tinggal beberapa menit lagi, bahkan sang gadis Italia itu tak akan berkesempatan melihat wajahnya untuk terakhir kalinya.
Sang gadis Italia itu dihujani tatapan dingin nan kejam. Dari teman-temannya. Dari rekannya. Dari tunangannya, bahkan dari ayahnya sendiri. Nyaris semua yang berdiri di sana. Semua sudah membenci sang pengkhianat nomor satu itu. Sang pengkhianat yang sudah menghancurkan seluruh rencana hanya untuk menyelamatkan nyawa seorang pemuda Jerman, atau berpuluh-puluh orang Jerman lainnya. Bahkan tindakannya dibenci kedua pihak, dibenci oleh sang pemuda Jerman yang hendak ia selamatkan. Kurang apa lagi pengorbanannya hanya untuk mencintai dan dicintai?
Dari balik penutup yang menghalanginya, Felicia memutar balik semua memorinya. Mulai dari ia kecil, mulai dari tangan lembut sang madre yang membelainya. Mulai dari wangi paella yang baru saja keluar dari dapur, mulai dari saat tubuh madre-nya tergeletak dingin tak bernyawa. Mulai dari ayahnya yang keras namun menyayanginya, mulai dari sahabat lelakinya yang cengeng---yang kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda gagah yang akan mengeksekusinya. Mulai dari ia berangkat ke Berlin, bertemu seorang tentara garang. Berlanjut saat ia ditolong.
Lelaki yang ia cintai. Yang sudah ia korbankan nyawanya sendiri untuk menolong sang pemuda.
Jürgen.
Felicia tersenyum kecil, menggumam dari mulutnya yang tertutup rapat oleh kain.
"Ich liebe dich, mein schatz..."
Pelatuk senapan ditarik oleh Felix yang sudah berlinang air mata dari soketnya.
"Frohliche Weihnachten."
DOR!
"Ich liebe dich, mein schatz..."
Pelatuk senapan ditarik oleh Felix yang sudah berlinang air mata dari soketnya.
"Frohliche Weihnachten."
DOR!
***
F I N.
***
No comments:
Post a Comment