P R O L O G U E
Un Ragazzo di Anzio
"Dua jelai roti," ucap pria bertubuh tambun itu sambil menyodorkan keping-keping logam kecil ke genggaman yang mungil pula. Telapaknya yang besar membungkus rapat tangan sang bocah kurus. Wajah gemuk khas Italia Utara miliknya dihiasi senyuman yang membuat sang bocah muak sekaligus ketakutan. Anak laki-laki itu pun hanya mampu merunduk dengan pandangan menerawang. Kemeja putihnya yang kusut belum terkancing rapat, menampilkan perutnya yang rata, dihias goresan kecil. Kakinya yang kurus lemah ingin meringkuk kedinginan, gemetar diterpa angin tanpa lindungan garmen.
Dengan handuk yang dibasahi bulir air hangat, mulai sang pria tambun mengelus lembut perut sang bocah yang terkotori bercak putih. Tubuh mungilnya berjengit ketika sentuh bulu itu membuat kontak, mengeluarkan erangan pelan. Seraya membersihkan, pria itu berbisik pelan. "Kau tak memberitahu siapapun?" Air muka bocah kecil tersebut berubah ketakutan, matanya terbelalak khawatir. Tubuhnya dengan cepat bereaksi, gemetar terancam. Terburu-buru ia menggeleng seakan ada monster yang hendak menghabisinya sekejap mata. Balas pria tambun itu tersenyum penuh kemenangan, lanjut membasuh noda sperma dari perut sang bocah hingga bersih.
Diletakkannya kembali handuk kecil itu ke baskom berisi air hangat. Perlahan untai kancing itu dikait satu demi satu, menutup bekas noda perlakuan bejat. Seakan mengancam pria tambun itu menatap manik monokrom yang tertutupi surai sutra coklat. Nadanya berubah penuh harap seperti anak kecil yang tak mau ditinggal sendirian. "Ini rahasia kita. Ingat?"
Bocah mungil itu hanya bisa mengangguk kaku, pasrah.
***
Berbalut sepatu lusuh ia melangkah perlahan, menyeret langkah menahan perihnya tubuh bagian belakangnya. Tangannya merogoh kantung mantel coklat kumalnya. Sekali ditarik genggamannya, ia termenung menatap telapaknya yang dipenuhi koin yang hanya bernilai beberapa lira---ralat---beberapa sen, mungkin. Memang cukup untuk membeli dua jelai roti seperti yang sudah dikatakan sang pria tambun sebelumnya. Cukup untuk bertahan selama, yah, seminggu? Lumayan, paling tidak ia masih diberi kesempatan hidup. Kembali ia menyisipkan tangan ke saku mantelnya, terdengar gemerincing pelan saat koin kecil itu saling berbenturan satu sama lain.
Ia mencengkeram pundaknya merapatkan mantel, merangsek dirinya ke dalam kehangatan. Malam-malam dingin musim gugur ditambah tirai tipis hujan seperti ini membuat lajur darahnya beku, belum lagi musim dingin masih menanti. Bocah malang itu tersenyum tipis, melihat bola cahaya berpendar dari balik kerai-kerai toko dan rumah-rumah kecil bertembok bata kokoh. Sesaat pikirannya tenang membayangkan kebahagiaan penghuni-penghuninya yang saling berinteraksi dengan begitu akrabnya, warna-warni kehidupan yang terbungkus dalam kehangatan sebuah keluarga.
Keluarga.
Pahit rasanya tenggorokannya mengucapkan kata itu. Perih rasanya hatinya mengingat semua yang ia lalui. Lelah rasanya tubuh menanggung beban.
Teringat kembali sentuh hewan biadab dari padang gersang, menodai kesuciannya. Tak berperasaan mendengar tangis dan teriaknya. Bahkan sang bocah masih ingat jelas beban yang menindihnya, menarik saliva dari bibir mungilnya, bertukar suhu dan menempelkan tubuh semakin erat satu sama lain. Tubuh rampingnya pun terasa nyeri hanya mendengar deru angin dingin menerpa, tertelan liurnya.
Memang gara-gara siapa ia disini sekarang kalau bukan ulah makhluk alkoholik yang berlabel 'ayah' di punggungnya? Gara-gara siapa jika bukan seorang wanita kaya lemak yang sempat menuntut agar dipanggil 'ibu', yang tega menjual cinta demi sesuap makanan dan remah roti? Gara-gara siapa darah daging mereka harus tersiksa jiwa raga, kalau bukan karena keserakahan keduanya?
Berkali-kali pertanyaan kabur tersebut beresonansi di benaknya. Bocah asal Anzio itu pun mengusap perlahan cairan bening yang tak terasa menggenangi pelupuk matanya. Sebulir dua bulir, lama-lama wajahnya kuyup juga. Kini yang bisa ia dengar hanyalah isak tangisnya sendiri. Limbung, cahaya temaram menaungi awak ringkihnya yang kelelahan, terbanting ke arah dinding bata sebuah toko roti, nyaris menghantam kaca etalase. Kelelahan tampaknya, cukup lelah hingga tak mampu lagi menguar jeritan putus asa. Ia tersenyum melihat pendar cahaya jingga di sampingnya.
Tak cukup kesadarannya hanya untuk mendengar sayup sebuah suara yang samar memanggilnya. Bukan nama, sekedar kata.
Ia mencengkeram pundaknya merapatkan mantel, merangsek dirinya ke dalam kehangatan. Malam-malam dingin musim gugur ditambah tirai tipis hujan seperti ini membuat lajur darahnya beku, belum lagi musim dingin masih menanti. Bocah malang itu tersenyum tipis, melihat bola cahaya berpendar dari balik kerai-kerai toko dan rumah-rumah kecil bertembok bata kokoh. Sesaat pikirannya tenang membayangkan kebahagiaan penghuni-penghuninya yang saling berinteraksi dengan begitu akrabnya, warna-warni kehidupan yang terbungkus dalam kehangatan sebuah keluarga.
Keluarga.
Pahit rasanya tenggorokannya mengucapkan kata itu. Perih rasanya hatinya mengingat semua yang ia lalui. Lelah rasanya tubuh menanggung beban.
Teringat kembali sentuh hewan biadab dari padang gersang, menodai kesuciannya. Tak berperasaan mendengar tangis dan teriaknya. Bahkan sang bocah masih ingat jelas beban yang menindihnya, menarik saliva dari bibir mungilnya, bertukar suhu dan menempelkan tubuh semakin erat satu sama lain. Tubuh rampingnya pun terasa nyeri hanya mendengar deru angin dingin menerpa, tertelan liurnya.
Memang gara-gara siapa ia disini sekarang kalau bukan ulah makhluk alkoholik yang berlabel 'ayah' di punggungnya? Gara-gara siapa jika bukan seorang wanita kaya lemak yang sempat menuntut agar dipanggil 'ibu', yang tega menjual cinta demi sesuap makanan dan remah roti? Gara-gara siapa darah daging mereka harus tersiksa jiwa raga, kalau bukan karena keserakahan keduanya?
Berkali-kali pertanyaan kabur tersebut beresonansi di benaknya. Bocah asal Anzio itu pun mengusap perlahan cairan bening yang tak terasa menggenangi pelupuk matanya. Sebulir dua bulir, lama-lama wajahnya kuyup juga. Kini yang bisa ia dengar hanyalah isak tangisnya sendiri. Limbung, cahaya temaram menaungi awak ringkihnya yang kelelahan, terbanting ke arah dinding bata sebuah toko roti, nyaris menghantam kaca etalase. Kelelahan tampaknya, cukup lelah hingga tak mampu lagi menguar jeritan putus asa. Ia tersenyum melihat pendar cahaya jingga di sampingnya.
Tak cukup kesadarannya hanya untuk mendengar sayup sebuah suara yang samar memanggilnya. Bukan nama, sekedar kata.
***
To be continued
***
No comments:
Post a Comment