Tuesday, June 25, 2013

Dietro Monocromatico, Pt. 1

Dengan malas kukerjapkan mataku. Refleks tubuh menggeliat nyaman menerima kehangatan lemahnya matahari musim gugur yang biasanya jarang menghampiri. Ketika segala roh sudah sepenuhnya kembali dari alam mimpi, kusadari tubuhku berbalut kehangatan dari lembar garmen bersih. Awak masih menjulur, berbaring di antara lipatan linen baru, harum khas mentari pagi. Samar bau manis yang familiar ikut menyeruak memenuhi hidung. Biar dikata seakan setan menunggangi kepala, seberat apapun sakit yang melanda aku masih mampu menoleh, mempertemukan mata dengan sumber cahaya tepat di sampingku dengan kekontrasannya yang menusuk.

Namun, cahaya mentari tua itu terblokir. Siluet bocah perempuan mungil mendominasi.

Memang butuh beberapa detik untuk mataku mempelajari siluet itu. Hanya butuh beberapa detik untuk memperjelas segala imej yang disajikan di hadapanku. Segala yang dapat kulihat hanyalah sebentuk wajah kekanakan yang tidak terlalu bulat. Bibir merahnya tipis, melengkung, menahan seribu kata penuh penasaran yang tak sabar ingin dilontarkan begitu saja. Sekalipun membelakangi cahaya, kilat indah hazelnya masih terpatri jelas, penuh rasa ingin tahu. Pipinya memerah semu secara alami.

"Ah, buongiorno!", sapa sang gadis kecil riang, sambil melayangkan senyum ramah. Ia tertawa riang, antara miris melihat sosok dekil nan suram yang kebingungan di hadapannya atau sekedar menenangkanku. "Semalam kau pingsan di depan toko. Papa yang menggotongmu kemari," ucap sang gadis sambil menyodorkan segelas air yang sepertinya memang sudah disediakannya sejak tadi.

Mataku kembali menerawang, awas terhadap tiap sudut interior yang didominasi kayu ditambah dengan paduan warna putih yang menyeimbangi. Jendela kayunya pun dibingkai oleh lapisan renda gorden tipis. Jadi begitu, ini di dalam toko roti, rupanya. Memang, semalam melelahkan dan begitu dingin, sampai aku sempat berpikir bisa saja aku mati membeku saat itu juga. Mungkin bukan sebatas berpikir. Aku, akulah yang menginginkan kematian itu. Dan aku yakin akan mendapatkannya. Aku.

Kubuyarkan lamunanku ketika aku sadar sang gadis kecil menunggu. "Si... Mille grazie." Perlahan tanganku yang masih gemetar meraih gelas yang diberikan, nyaris membuat gelas melesat dari genggaman. Dengan cekatan, tanpa pikir panjang sang gadis kecil meraih pergelangan tanganku. "Hati-hati," ucapnya tegas.

Aku menoleh. Bahkan sebelum sempat kusadari, pipiku sendiri sudah terlanjur merona merah semu. Terasa panas menguar di wajah. Kurasakan lembutnya sebentuk porselen yang meraih. Tangan yang hadir ini bukan tangan kejam ayah yang menampar. Bukan tangan nista ibu yang mengelus dengan penuh dusta. Bukan tangan biadab tuan 'pembeli' yang menjamah tiap jengkal badan. Berbeda. Tangan bocah perempuan ini hangat, ketulusan dan kepolosan terpancar.

Seperti inikah rasanya tangan manusia?

Masih kunikmati kehangatan yang menjalar dari sebentuk tangan mulus nan mungil itu. "Lucu."

Cukup kusembunyikan wajah. Merunduk, menutup mata dengan selaput kulit yang disapu bulu mata. "Lucu bagaimana kau bisa sebaik ini pada orang asing."

Seraya mengukir lengkung dengan maksud menertawai diri sendiri, aku berbisik lembut. "Bisa saja aku menjualmu sekarang, kau tahu itu, 'kan?"

Betapa polosnya ia mempercayai orang. Betapa besar hatinya memperhatikan seonggok mayat di depan tokonya. Alangkah baiknya ia melangkahkan kaki di tengah dinginnya malam demi tubuh menjijikkan penghalang etalase tokonya.

"Tak menutup kemungkinan aku akan menggores wajahmu dengan pecahan gelas ini kelak," tawaku sinting.

Sesungguhnya aku iri. Aku rindu kepolosanku.

Sebelum kembali aku menggumam tak jelas seperti orang imbisil, sang gadis mungil bertindak cepat. Mengalihkan gelas dari tanganku yang gemetar. Menggantikannya kembali dengan tangannya sendiri yang jelas terlampau kecil untuk menjangkau, membungkus seluruh tanganku. Setidaknya ia tahu. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu bagaimana membuatku nyaman dalam tatapan hazelnya.

Mulutnya menolak bernegasi dengan kata-kataku. Ia memilih diam, mendengarkan tanpa membalas sepatah kata pun dari pernyataanku. Tetap dengan senyum ramah yang entah sejak kapan terpatri di bibirnya---seakan memperdaya agar aku tidak berpikir negatif tentang diriku sendiri yang faktanya memang menyedihkan ini, seakan ia paham segala masalahku---ia justru balas berucap.

"Felicia Lombardi, kau?"

Aku penasaran. Penasaran dengan gadis yang entah tolol atau terlampau baik ini. Salahkah aku jika kuingin tahu lebih banyak tentang, yah, bisa dibilang, manusia biasa? Kau tahu, dibanding orang yang pernah kutemui sepanjang aku berpijak di bumi ini, hanya ia yang paling normal. Salahkah aku jika kuingin tahu tentang mereka, yang mungkin---tak kenal yang namanya menyakiti diriku?

"Aku... Felix. Felix dari Anzio," jawabku pelan.

... Yang jelas, aku tak akan menyesal. Bukankah seharusnya begitu?

***

To be continued

***

Sunday, May 19, 2013

Dietro Monocromatico, Prologue

P R O L O G U E
Un Ragazzo di Anzio

"Dua jelai roti," ucap pria bertubuh tambun itu sambil menyodorkan keping-keping logam kecil ke genggaman yang mungil pula. Telapaknya yang besar membungkus rapat tangan sang bocah kurus. Wajah gemuk khas Italia Utara miliknya dihiasi senyuman yang membuat sang bocah muak sekaligus ketakutan. Anak laki-laki itu pun hanya mampu merunduk dengan pandangan menerawang. Kemeja putihnya yang kusut belum terkancing rapat, menampilkan perutnya yang rata, dihias goresan kecil. Kakinya yang kurus lemah ingin meringkuk kedinginan, gemetar diterpa angin tanpa lindungan garmen.

Dengan handuk yang dibasahi bulir air hangat, mulai sang pria tambun mengelus lembut perut sang bocah yang terkotori bercak putih. Tubuh mungilnya berjengit ketika sentuh bulu itu membuat kontak, mengeluarkan erangan pelan. Seraya membersihkan, pria itu berbisik pelan. "Kau tak memberitahu siapapun?" Air muka bocah kecil tersebut berubah ketakutan, matanya terbelalak khawatir. Tubuhnya dengan cepat bereaksi, gemetar terancam. Terburu-buru ia menggeleng seakan ada monster yang hendak menghabisinya sekejap mata. Balas pria tambun itu tersenyum penuh kemenangan, lanjut membasuh noda sperma dari perut sang bocah hingga bersih.

Diletakkannya kembali handuk kecil itu ke baskom berisi air hangat. Perlahan untai kancing itu dikait satu demi satu, menutup bekas noda perlakuan bejat. Seakan mengancam pria tambun itu menatap manik monokrom yang tertutupi surai sutra coklat. Nadanya berubah penuh harap seperti anak kecil yang tak mau ditinggal sendirian. "Ini rahasia kita. Ingat?"

Bocah mungil itu hanya bisa mengangguk kaku, pasrah.

***

Berbalut sepatu lusuh ia melangkah perlahan, menyeret langkah menahan perihnya tubuh bagian belakangnya.  Tangannya merogoh kantung mantel coklat kumalnya. Sekali ditarik genggamannya, ia termenung menatap telapaknya yang dipenuhi koin yang hanya bernilai beberapa lira---ralat---beberapa sen, mungkin. Memang cukup untuk membeli dua jelai roti seperti yang sudah dikatakan sang pria tambun sebelumnya. Cukup untuk bertahan selama, yah, seminggu? Lumayan, paling tidak ia masih diberi kesempatan hidup. Kembali ia menyisipkan tangan ke saku mantelnya, terdengar gemerincing pelan saat koin kecil itu saling berbenturan satu sama lain.

Ia mencengkeram pundaknya merapatkan mantel, merangsek dirinya ke dalam kehangatan. Malam-malam dingin musim gugur ditambah tirai tipis hujan seperti ini membuat lajur darahnya beku, belum lagi musim dingin masih menanti. Bocah malang itu tersenyum tipis, melihat bola cahaya berpendar dari balik kerai-kerai toko dan rumah-rumah kecil bertembok bata kokoh. Sesaat pikirannya tenang membayangkan kebahagiaan penghuni-penghuninya yang saling berinteraksi dengan begitu akrabnya, warna-warni kehidupan yang terbungkus dalam kehangatan sebuah keluarga.

Keluarga.

Pahit rasanya tenggorokannya mengucapkan kata itu. Perih rasanya hatinya mengingat semua yang ia lalui. Lelah rasanya tubuh menanggung beban.

Teringat kembali sentuh hewan biadab dari padang gersang, menodai kesuciannya. Tak berperasaan mendengar tangis dan teriaknya. Bahkan sang bocah masih ingat jelas beban yang menindihnya, menarik saliva dari bibir mungilnya, bertukar suhu dan menempelkan tubuh semakin erat satu sama lain. Tubuh rampingnya pun terasa nyeri hanya mendengar deru angin dingin menerpa, tertelan liurnya.

Memang gara-gara siapa ia disini sekarang kalau bukan ulah makhluk alkoholik yang berlabel 'ayah' di punggungnya? Gara-gara siapa jika bukan seorang wanita kaya lemak yang sempat menuntut agar dipanggil 'ibu', yang tega menjual cinta demi sesuap makanan dan remah roti? Gara-gara siapa darah daging mereka harus tersiksa jiwa raga, kalau bukan karena keserakahan keduanya?

Berkali-kali pertanyaan kabur tersebut beresonansi di benaknya. Bocah asal Anzio itu pun mengusap perlahan cairan bening yang tak terasa menggenangi pelupuk matanya. Sebulir dua bulir, lama-lama wajahnya kuyup juga. Kini yang bisa ia dengar hanyalah isak tangisnya sendiri. Limbung, cahaya temaram menaungi awak ringkihnya yang kelelahan, terbanting ke arah dinding bata sebuah toko roti, nyaris menghantam kaca etalase. Kelelahan tampaknya, cukup lelah hingga tak mampu lagi menguar jeritan putus asa. Ia tersenyum melihat pendar cahaya jingga di sampingnya.

Tak cukup kesadarannya hanya untuk mendengar sayup sebuah suara yang samar memanggilnya. Bukan nama, sekedar kata.

***

To be continued

***

Thursday, January 10, 2013

Fröhliche Weihnachten, Pt. 7

Ia tak ingin lagi berbohong. Ia tak ingin lari lagi. Lelah sudah tubuh dan batinnya jika harus menanggung semuanya. Mendengar perkataan Jürgen, Felicia hanya mengangguk seakan tak punya harapan.

"... Tentu. Selama ini, kau hanya memanfaatkan keberadaanku. Posisiku sebagai luftwaffe, semua hanya demi informasi," ucap Jürgen dengan dingin. "Ya, pasti begitu. Burung penyampai pesan Resistenza... Pembohong," tatapan Jürgen berubah menjadi begitu kejam.

Mata hazelnya mengerling, langsung terlihat berkaca-kaca. Ia bisa merasakan dadanya terikat rasa sakit, rasa dingin yang teramat sangat menusuk tulang belakangnya. Felicia hendak menyangkal semua pernyataan yang diucapkan Jürgen. Semua itu tidak benar, aku tidak melakukan itu, aku, aku...

"Dengar, Jürgen, awalnya memang begitu, tapi---"

"Selama ini, pertanyaan-pertanyaan yang kau tanyakan, membangun kepercayaanku sedemikian rupa... Mein Gott," Jürgen masih melanjutkan perkataannya, membuat Felicia semakin terpojok.

"Bukan, bukan begitu, aku hanya mencoba memperingatkanmu, aku---" semakin sulit rasanya bagi Felicia hanya untuk mengucapkan sepatah kata saja. Rasa pahit memanjati tenggorokannya.

"Semua hanya untuk mengkhianatiku..."

Tidak, jangan sampai semuanya berakhir seperti ini. Ini semua tidak terjadi, ini semua tidak nyata. "Tidak! Aku tak pernah melakukan itu sekalipun, kumohon, kau harus percaya---"

"DIAM! Aku tahu persis bagaimana kalian para Resistenza bekerja!" Bentak Jürgen, membuat Felicia terpaku seketika, terjebak dalam kalimat singkat itu.

Oksigen makin terasa sulit untuk dihirup Felicia. Belati seakan tertancap, tepat menusuk jantungnya. Rasa sakitnya luar biasa hingga mulai menggerogoti seluruh tubuhnya. Inilah kejadian terburuk yang sudah ia duga akan terjadi---Jürgen membencinya, dan tak akan percaya kepadanya. Kemungkinan terbesar---Jürgen mati, atau Resistenza terancam. Felicia jatuh tersungkur di hadapan kaki Jürgen, tak lagi kuat untuk berdiri. Ia menunduk sedalam-dalamnya, tak ingin melihat wajah Jürgen yang menatapnya rendah. "Kumohon. Dengarkan aku, aku hanya ingin kau hidup---"

"Hidup? Hah. Untuk apa aku mempercayai kata-kata seorang pembohong?" Potong Jürgen singkat. Jürgen sadar, perkataannya itu sudah keterlaluan, menyakitkan hati gadis Italia di hadapannya. Ia sendiri segera menutup mulutnya. Meskipun diliputi perasaan kesal sebesar apapun, ia masih punya perasaan tak tega. Entah apa yang berhasil membuatnya teguh akan pendiriannya, Jürgen langsung membalikkan punggungnya dari hadapan Felicia yang masih berlutut di tanah, berusaha menyembunyikan ekspresinya sendiri.

"Pergilah, pengkhianat. Cepat. Jangan pernah lagi menunjukkan mukamu itu di hadapanku." Jürgen bergegas kembali ke markasnya, meninggalkan Felicia yang terduduk sendirian.

Pengkhianat.

Berjuang Felicia hanya untuk menghirup sedikit udara saja, hendak menghilangkan kesesakan yang sejak tadi mengikatnya. Dengan putus asa kembali Felicia mengulurkan tangannya, jauh, untuk kembali meraih Jürgen. Namanya diteriakkan berkali-kali dengan serak dari mulutnya---namun percuma, Jürgen tak akan berbalik lagi kini.

Rusak, tak berguna. Terbuang, kesepian, rentan. Hancur.

Menyedihkan.

Felicia menyeringai kecil, menertawai kebodohan dirinya sendiri. Bodohnya ia mengumbar semuanya. Bodohnya ia mengkhianati Resistenza. Pada akhirnya semuanya sia-sia juga. Jürgen tidak rela mempercayainya. Resistenza bukan lagi sebuah keluarga untuknya. Justru air mata makin membanjiri wajahnya sementara ia menangguhkan dirinya sendiri. Felicia tahu, ia harus pulang, memberi tahu ia sudah mengkhianati semuanya, apa yang ia percayai selama ini. Felicia tahu, ia harus menerima nasibnya sendiri, tak akan ada yang bisa melakukan sesuatu untuk mengubahnya. Semuanya perbuatannya sendiri. Dosanya sendiri.

Felicia membenahi dirinya hingga cukup kekuatannya untuk bangkit, beranjak dari tempat itu, kembali ke rumah kecilnya yang gelap. Sebagai tambahan, ia tak akan pernah lagi pergi ke sana, untuk selamanya. Betapa gelapnya langit siang itu, pertanda badai salju akan datang. Felicia tak menyadari dan tak memedulikannya sama sekali.

***

Pandangan mata monokromnya dengan liar mengincar seluruh pojok ruangan. Sejak tadi jarinya mengetuk meja, kukunya yang terpotong rapi bertemu dengan kayu cokelat pekat. Mulutnya sibuk entah menggumamkan apa, takut. Tak pernah ia merasa segelisah ini, hanya untuk hal sesederhana menunggu dan terus menunggu. Telinganya cukup tajam untuk mendengar suara grendel pintu depan dibuka. Suara decitan yang biasa ia dengar kali ini terdengar begitu mengerikan. Ia mengalihkan pandangannya ke arah pintu depan, melihat secercah cahaya masuk ke dalam rumah.

Sosok itu hanya berdiri tegap disana. Tangannya tak lagi melekat di grendel pintu, kini dikepalkan di samping tubuhnya. Mulutnya terkatup rapat di atas raut wajahnya yang pucar pasi, penuh oleh air mata. Berantakan dan basah kuyup, hanya syal merah marun yang melilit lehernya masih terikat rapi. Seakan malas berbicara, ia menoleh, memalingkan pandangannya ke arah lantai kayu.

Felix ragu, menatapnya sesaat untuk memastikan, mencoba membenahi pikirannya. Meskipun masih tak tahu apa yang terjadi, ia benar-benar khawatir. Bagaimana jika ini semua salahnya? Bagaimana kalau ternyata pilihannya salah, dan malah menjatuhkan keduanya sekaligus?

"Felicia?" panggilnya.

Tak ada jawaban. Isak tangis Felicia membuat dirinya sendiri sulit untuk berbicara. "Feli, kau membuatku takut. Apa yang terjadi?" Felix merasa dirinya seakan sudah terpojok. Ia membungkuk sedikit, untuk melihat wajah yang tertutupi helai rambut cokelat gelap. Air mata tak henti-hentinya menetes dari soketnya, menolak untuk mengering. Felix mendesah pelan. "Kau sudah pergi menemuinya, 'kan?" Felicia hanya bisa mengangguk menanggapinya. Felix menyingkirkan rambut yang menutupi telinga Felicia, kemudian berkata pelan. "Maafkan aku. Aku benar-benar..."

Belum selesai Felix berkata, Felicia dengan cepat menggeleng. Ini bukan salah siapapun, ini sebatas salahnya. Hanya, sebelum ia benar-benar dibenci semuanya, ia masih ingin merasakan kebaikan hati Felix. Untuk sekali ini saja. Sambil sedikit terisak, ia mencoba berbicara. "Hei, Fel," Felicia menggenggam sebelah tangan Felix. "... Kita punya janji, 'kan? Kau masih ingat?"

Felix mengangguk pelan, tahu pasti ada sesuatu yang tak beres. "Ya..." jawabnya. Dari balik bayangan yang menutupi wajahnya, Felicia tersenyum lirih. Spontan ia meraih pundak Felix dengan berhati-hati, memeluknya erat untuk menghibur dirinya sendiri. Ia hanya ingin memluk sahabatnya untuk terakhir kalinya. Bibirnya sedikit bergetar saat mengatakan sesuatu tepat ke telinga kiri Felix. "Maafkan aku, Fel."

"Maaf untuk apa---" sontak Felix berdiri terpaku menelan ludahnya. Lehernya serasa tercekik ketika menyadari kaki kurus gadis Italia itu terlalu lemah untuk menahan beban tubuhnya sendiri, nyaris ia terjatuh. Persis seperti sesaat sebelum Jürgen pergi. Isak tangisnya terdengar semakin keras di telinganya, meresap dan menyayat hingga ke lubuk hatinya. Lajur darahnya tetap membeku dalam ketakutan meskipun Felix sendiri sudah mengira ini semua akan terjadi.

Mata Felicia berputar sesaat, menangkap sebuah gelas pendek berisi cairan bening berwarna cokelat muda. Rum. Sepertinya baru saja diminum Felix sebelum ia pulang. Pulang dari tempat mengerikan itu. Pulang setelah ia mengkhianati segalanya. Pulang dan mengemis perlindungan pada sahabatnya. Felicia menutup matanya yang masih dibanjiri air mata, betapa rendah dirinya kini. Wajahnya digeser, sedikit mengadah, sehingga mulutnya sejajar persis dengan telinga Felix.

"Bunuh aku."

***

Wangi samar lavender merebak di ruangan, terbawa angin dingin yang berhembus dari jendela yang terbuka lebar. Tak terlewatkan juga angin itu meniup rambut cokelat yang selembut sutra. Sosoknya yang kurus dibalut kain putih bersih yang dijahit menjadi selembar rok panjang----berlutut sambil menggenggam sebuah rosario erat-erat. Mulutnya berkali-kali berbisik menggumamkan doa.

Ia beranjak setelah puas mencurahkan isi hatinya. Ia berdiri hingga bingkai kayu jendela sejajar dengan mata hazelnya yang baru saja dibuka---lurus dengan tatapan tak bersalah, tersirat ketenangan namun dipenuhi kesepian. Sinar cerah matahari musim dingin Piacenza merekah seakan memandikannya dengan berkah. Begitu hangat, mampu mencairkan ulu hatinya yang membeku oleh dinginnya kota Berlin hari itu.

Hari itu...

Rambutnya berkibar tertiup angin bersamaan dengan gerakan rok putihnya ketika ia berbalik, mendapati seseorang membuka pintu. Suara ketukannya terlalu pelan untuk meraih telinganya. Dengan penuh keraguan sang pemuda dari balik pintu menatapnya. "Kau sudah siap, Feli?" Tanya sang pemuda pelan.

Felicia tersenyum lirih kepada sang pemuda. Kedua telapak tangannya digenggam, diletakkan di depan dadanya. Ia menegakkan kepalanya dengan tegar. "Jika memang itu yang Tuhan kehendaki dariku, kapanpun aku siap," jawabnya tegas. Semburat merah tipis yang mewarnai pipinya entah bagaimana memancarkan kepasrahan. Selesai berbicara demikian, rosario ia lepaskan dari lehernya, diletakkannya dengan pelan di atas sebuah meja kerja kecil tepat di bawah jendela. Felicia melangkah dengan pelan ke arah pintu, untuk menemui takdirnya. Sambil kedua pergelangan tangannya disodorkan ke hadapan pemuda itu, senyumannya belum pudar saat ia berbicara kepada sang pemuda. "Sudah waktunya 'kan, Felix?"

Felix menunduk tanpa mengatakan sepatah kata, meraih kedua pergelangan tangan kurus itu. Felicia berinisiatif membalikkan badannya saat tangannya ditarik kebelakang, diikat dengan sebuah tali. Namun, sedikit maaf untuknya, tali tambang itupun tak menyisakan bekas sedikitpun pada tangannya, menyakitkan sedikit saja tidak. Felix tak tega memperlakukan seorang perempuan layaknya pengkhianat lainnya, belum lagi ini sahabatnya sendiri, seorang gadis yang ia sukai. 

Felix merangkul pundak Felicia dengan berhati-hati, menuntunnya ke luar ruangan. Felicia mengikuti dengan wajah yang datar. Jam dua siang kurang lima belas menit. Sudah hampir waktunya untuk pengeksekusian. Keduanya membisu dalam kesuraman. Masing-masing sudah cukup menderita untuk berbicara.

Pintu yang tadinya terbuka kini sudah berdecit pelan tanda tertutup, mengunci wangi lavender samar yang mulai memenuhi ruangan, serta kenangan terakhir yang ditinggalkan seorang gadis Italia yang sempat berada di sana. Sebuah tanda bahwa ia pernah hidup, pernah lahir ke dalam dunia.

Sebuah rosario yang akan terus dibiarkan berada di sana, terkunci rapat dari dunia luar.

***

Lantai alun-alun yang bersepuh salju tipis kini ditimpa oleh seorang gadis yang sedang berlutut. Tangannya masih diikat ke belakang. Kepalanya yang terbalut penutup berwarna hitam ditodongkan sebuah senapan panjang yang sudah siap ditarik pelatuknya. Sementara yang memegang, jemarinya bergetar di pelatuk senapan, sang eksekutor sendiri sedang menahan diri sebisanya. Ia memicingkan mata, masih berusaha agar air mata yang menggenangi bola mata abu-abunya tidak turun mengaliri pipinya. Beruntung, poninya yang lumayan panjang dapat menutupi ekspresinya yang sedih luar biasa, giginya gemertak menahan tangis tanpa seorangpun menyadarinya. Lebih tepatnya tak ada yang peduli.

Felix Anzio, yang sudah tumbuh sebagai pemuda yang begitu kuat, di hari Natal yang seperti ini harus meneteskan air matanya. Ia harus menerima kenyataan bahwa gadis yang dicintainya akan mati oleh tangannya, oleh senapan yang ia pegang, oleh pelatuk yang akan ia tarik. Ingin ia melihat wajah manis sang gadis Italia yang kini terhalang penutup. Ingin ia melihat bibir tipis itu tersenyum hanya untuknya. Ingin ia tertawa seperti biasa dengannya, seakan selalu ada kesempatan di hari esok. Namun, kini? Hidup gadis itu hanya tinggal beberapa menit lagi, bahkan sang gadis Italia itu tak akan berkesempatan melihat wajahnya untuk terakhir kalinya. 

Sang gadis Italia itu dihujani tatapan dingin nan kejam. Dari teman-temannya. Dari rekannya. Dari tunangannya, bahkan dari ayahnya sendiri. Nyaris semua yang berdiri di sana. Semua sudah membenci sang pengkhianat nomor satu itu. Sang pengkhianat yang sudah menghancurkan seluruh rencana hanya untuk menyelamatkan nyawa seorang pemuda Jerman, atau berpuluh-puluh orang Jerman lainnya. Bahkan tindakannya dibenci kedua pihak, dibenci oleh sang pemuda Jerman yang hendak ia selamatkan. Kurang apa lagi pengorbanannya hanya untuk mencintai dan dicintai?

Dari balik penutup yang menghalanginya, Felicia memutar balik semua memorinya. Mulai dari ia kecil, mulai dari tangan lembut sang madre yang membelainya. Mulai dari wangi paella yang baru saja keluar dari dapur, mulai dari saat tubuh madre-nya tergeletak dingin tak bernyawa. Mulai dari ayahnya yang keras namun menyayanginya, mulai dari sahabat lelakinya yang cengeng---yang kini sudah tumbuh menjadi seorang pemuda gagah yang akan mengeksekusinya. Mulai dari ia berangkat ke Berlin, bertemu seorang tentara garang. Berlanjut saat ia ditolong.

Lelaki yang ia cintai. Yang sudah ia korbankan nyawanya sendiri untuk menolong sang pemuda.

Jürgen.

Felicia tersenyum kecil, menggumam dari mulutnya yang tertutup rapat oleh kain.

"Ich liebe dich, mein schatz..."

Pelatuk senapan ditarik oleh Felix yang sudah berlinang air mata dari soketnya.

"Frohliche Weihnachten."

DOR!

***

F I N.

***

Friday, December 14, 2012

Fröhliche Weihnachten, Pt. 6

Satu demi satu, keping demi keping salju kembali turun menghujam tanah Berlin. Seakan salju di perasaannya tak bisa mencair, tak setitik air matapun dapat meleleh dari matanya lagi. Felicia melepas kepergian Jürgen dengan senyuman setulus mungkin, membiarkan dirinya tersiksa rasa sakit, mengharapkan Jürgen tewas secepatnya. Entah apa yang merasukinya, akal sehatnya tak lagi bisa bekerja. Dengan teganya ia melepas sang pemuda Jerman yang telah diperjuangkan mati-matian nyawanya oleh tangan dan hati Felicia sendiri --- dan sekarang? Hatinya sendirilah yang menolak nalurinya untuk menyelamatkan Jürgen.

Apa yang sebenarnya kuinginkan?

Salju terasa membekukan badannya pula, tiap butirnya serasa menusuk ganas tubuhnya. Ia tahu, yang ia lakukan sebenarnya percuma saja. Ia tahu persis, yang ia lakukan hanya menyelamatkan Resistenza, menyelamatkan Inggris, menyelamatkan Sekutu --- bukan untuk menyelamatkan Jürgen dan dirinya juga. Rajutan kepercayaan Resistenza kepadanya, sang burung penyampai pesan --- kini terlanjur terkoyak berantakan. Baik De Luca, Marinotti, Antonio, bahkan ayahnya. Tak satupun akan kembali menaruh kepercayaan padanya, tak satupun akan membalikkan punggungnya untuk melihatnya. Jika misi kali ini keberhasilan akan berada di tangan Resistenza sekalipun, Felicia akan kehilangan nyaris segalanya --- mungkin tidak. Masih ada satu orang di sisinya, yang selalu setia bagaikan seorang pelayan. Hanya Felix seorang yang mau, dan itupun jika Felix rela menanggalkan darah Resistenza yang mengalir dalam tubuhnya.

Inikah yang kucari, keinginanku yang sebenarnya? Yakin akan pilihanku ini? Ya Tuhan, aku, aku...

Di matanya, segala sesuatu di sekitarnya terasa berjalan begitu lambat. Diulurkan tangannya sebisa mungkin, berharap dapat menangkap bayangan punggung Jürgen yang berjalan makin menjauh. Tirai kabut salju menghalangi pandangannya, menyapu semuanya dengan warna putih bersih. Darahnya terasa panas bergejolak. Mata hazelnya berkilat. Dihela nafasnya dengan cepat dalam satu gerakan.

Oh Tuhan --- aku tak bisa membiarkannya mati.

"---Jürgen!" Ia berteriak kencang, demi mendapatkan mata pemuda itu kembali menatapnya. Punggungnya berbalik, namun tetap berdiri terpaku di sana. Felicia beranjak, berdiri di atas topangan kakinya yang lemas, berjalan sempoyongan --- sebisa kakinya menahan bobot tubuhnya. "Jangan..." suaranya parau seperti diseret, nafasnya tersenggal-senggal, terdengar layaknya orang sekarat. Tepat di depan Jürgen nyaris ia jatuh tersungkur, sebelum lengan Jürgen yang terlatih otot-ototnya kembali menangkap tubuh kurusnya.

"Jangan kembali ke markasmu!" Teriak Felicia dengan suara serak --- putus asa. Matanya tetap menatap mata kobalt Jürgen di hadapannya.

Jürgen mendesah lelah. Nalarnya tetap mendorongnya untuk kembali ke markasnya secepat mungkin --- mengurus setumpuk pekerjaan yang sama sekali belum sempat disentuhnya. Ia sebenarnya tidak ingin meninggalkan markas selangkahpun hari ini, namun entah kenapa perasaannya mengharuskan demikian. Jelas Jürgen tak akan pernah tahu bagaimana nasibnya jika ia tidak pergi menemui Felicia hari ini.

"Felicia, tolong. Aku benar-benar harus---"

"Kau bisa mati, Jürgen! MATI!" Felicia terkejut, tak percaya akan apa yang baru saja dikatakan oleh dirinya sendiri. Kata-katanya keluar begitu saja bagaikan peluru dari senapan mesin. Kata-kata yang seharusnya tak pernah ia ucapkan. Jürgen, yang tersentak --- matanya terbelalak lebar, kaget. "Aku... apa?" ucapnya tak percaya. Jelas saja, bagaimana mungkin dan ingin ia percaya --- bahwa dirinya akan mati?

Felicia berpikir secepat mungkin. Terlanjur. Terlanjur, tak akan bisa kembali lagi. Apa yang bisa ia lakukan. Sesuatu, apapun. Apapun, apapun. Felicia hanya bisa berdiri. Tertawa kecil, seakan mengejek --- sedang sebenarnya gemetar menahan tangis. "Jürgen," dipanggilnya nama pemuda yang ia cintai. "Hari ini... tanggal 14 Desember, bukan?" Otaknya mengeluarkan segala yang sudah didengar dan diserapnya saat rapat Resistenza belakangan ini. Rapat penuh siksaan baginya.

Ini saatnya. Saatnya untuk Felicia mengkhianati apa yang sudah ia percayai, apa yang sudah ia perjuangkan, apa yang sudah tumbuh bersamanya, hidup dalam lajur darahnya --- La Resistenza Italiana. Ia telah membuat keputusannya, dan tak akan lari kemanapun lagi. Akan ia hadapi kenyataan yang memang harus ia terima.

Kemudian Felicia mengadahkan wajahnya, menerawang ke langit luas di atasnya. "Saat ini, dibawah langit ini juga -- mungkin atasanmu sedang rapat, ya? Duduk di atas kursi berlapis bahan kulit hitam, membicarakan tentang, entahlah, Operasi Bodenplatte?" Nafas Jürgen tercekat, berhenti sesaat. Terlalu sulit untuknya mempercayai kata-kata gadis ini. Unternehmen Bodenplatte! Um Gottes willen --- bahkan baru orang dalam yang bersangkutan saja yang tahu soal ini. Lalu, bagaimana ia bisa tahu...

"Hari itu juga, hari yang lumayan keras --- kau beserta rekanmu melihat betapa kelabunya langit secara langsung, bersama dengan pilot-pilot Inggris," lanjut Felicia. "Oh, dan luftwaffe gagal. Belakangan, luftwaffe memang sedang krisis, 'kan? Seketika, langitnya berubah menjadi merah, ya," tambahnya dengan santai. Suaranya seperti bukan lagi suaranya sendiri.

Mendengar kejadian hari itu kembali diungkit, refleks saja Jürgen naik pitam. Bagaimana tidak, bukan saja hanya karena Jerman lagi-lagi gagal --- namun gara-gara pilot Inggris kurang ajar itu, ia harus kehilangan sahabatnya, Kaufmann. Sungguh --- kenapa harus diingatkan kembali. "Felicia!" potong Jürgen nyaris berteriak. Ia tak ingin mengingat kembali bagaimana api memakan habis tubuh temannya, lebur bersama badan pesawat yang hancur --- semua terjadi tepat di depan matanya sendiri.

Felicia berhenti sesaat, kembali menghela nafasnya. "Lalu, genap enam hari dari sekarang..." Felicia menutup matanya, letih. Kembali teringat olehnya data mengerikan yang terbungkus rapi oleh amplop cokelat muda, ditutup dengan spidol merah Antonio.

Target kita adalah udara. Luftwaffe.

Ini daftar target utama kita --- Opsir-opsir berpangkat tinggi serta beberapa fighter pilot terbaik luftwaffe.

Penyerangan akan dilakukan hari Rabu, 20 Desember 1944.

Kau tak perlu beritahu aku, informasi yang kudapatkan sudah cukup.

Kau bukan anakku lagi.

Lebih baik kau mati saja.

Mati.

Mereka terserap dalam keheningan terlalu lama. Baik Felicia maupun Jürgen, tak satupun membuka suara. Jürgen masih terlalu kaget meskipun hanya sekedar menanyakan sesuatu --- lidahnya sukses dilumpuhkan serentetan kata-kata Felicia. Sementara Felicia tenggelam dalam ingatannya sendiri. Ia merasa seakan tak ada Jürgen di hadapannya. Ya --- ini adalah rumahnya, ia masih mendengar makian kejam dari ayahnya sekarang.

Namun, Felicia tak ingin keheningan ini berlangsung lebih lama. Ia hanya menginginkan Jürgen tahu apa yang akan menimpanya. Ia hanya ingin Jürgen tahu apa yang dirahasiakan darinya selama ini. Tak lebih tak kurang, hanya itu. Akhirnya, Felicia pun angkat berbicara. "Enam hari dari sekarang, markas besar luftwaffe akan digempur Inggris baik dari udara maupun jalur darat," ia mengucapkannya pelan, nyaris seperti sedang berbisik pada dirinya sendiri. "Target mereka sebenarnya hanyalah orang-orang yang memegang kunci vital kekuatan luftwaffe. Kau juga berada di dalam daftar mereka, Leutnant Schultz,"

"Dan mulai besok, aku tak akan pernah lagi menapakkan kaki di Berlin, bahkan di Jerman --- untuk seumur hidupku, mungkin. Jalan apapun yang kupilih---" Felicia beristirahat, memudarkan senyuman yang dipaksakan di wajahnya. Di mata hazel Felicia tersirat kesedihan yang begitu mendalam, yang akan selalu membekas dalam dirinya.

"Jadi hari ini... Hari terakhir aku bisa bertemu denganmu,"

Felicia membiarkan angin berhembus meniup rambut cokelat gelapnya, berlalu tanpa menyentuh syal merah marun yang masih membalut rapi lehernya. Kembali ia tersenyum simpul, kali ini begitu tulus senyumnya diulas. Senyum terakhir yang ia berikan kepada orang yang benar-benar dicintainya. "Itu sebabnya, aku tak ingin membiarkanmu pergi ke markasmu," jawab Felicia dengan tenang, menutup semua perkataannya.

Jürgen yang masih membisu, mencoba keras meyakinkan bahwa semua hal yang baru saja didengarnya adalah kebohongan. Felicia Lombardi adalah Felicia Lombardi, Felicia yang selama ini ia kenal --- gadis Italia yang senantiasa ceria, gadis polos yang sifatnya seperti laki-laki --- bukan wanita serius yang berdiri tegak di hadapannya sekarang, terlihat begitu kuat di tengah keputusasaannya. "Felicia... Ini semua --- benar? Kau bohong, 'kan? Tidak mungkin, kau --- bagaimana kau tahu..." tanya Jürgen dengan ragu, lidahnya seakan tertancap paku, terlalu kaku untuk berbicara.

Felicia mengangguk pelan dengan begitu menderita. "Sayangnya, aku tidak berbohong. Lagipula, jangan memaksaku untuk mengatakan alasannya," jawabnya tegar. Matanya kini sudah dibukanya, menatap lurus mata kobalt Jürgen yang tinggi, membuatnya harus mengadah sedikit.

Jürgen terdiam sesaat. Ujung alisnya berkerut --- mengerucut ke arah bawah. Air mukanya berubah, terkejut --- betapa tersentaknya ia ketika menyadari sesuatu janggal yang terlintas di pikirannya. Emosi mulai menggerogoti tenggorokannya, membuatnya berteriak dengan suara serak dan kesal.

"Kau --- kau anggota La Resistenza Italiana!"

***

Deutsch
Unternehmen Bodenplatte --- Um Gottes willen! : Operasi Bodenplatte (Eng : Baseplate) --- Demi Tuhan!

Operasi Bodenplatte : Diluncurkan 1 Januari 1945 (termasuk dalam Battle of Bulge), merupakan upaya luftwaffe untuk menjatuhkan kekuatan udara Sekutu di Low Countries : Belgia, Belanda, Utara Perancis dan Jerman bagian barat. Awalnya hendak dilakukan 16 Desember 1944, namun harus ditunda hingga Tahun Baru dikarenakan cuaca buruk. Jerman memang berhasil menghancurkan beberapa aircraft Sekutu, namun Jerman tetap dinilai gagal, serta kehilangan fighter pilot yang tidak bisa digantikan. Operasi Bodenplatte juga dilakukan dengan taktik bantuan penyerangan dari darat oleh long-range bomber. Pada tanggal 14 Desember 1944, para pemimpin-pemimpin dari setiap bagian yang terlibat mengadakan rapat untuk membahas masalah ini.

Saturday, November 17, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 5

Di selang tidurnya, secercah cahaya mulai menerobos masuk ke mata Felicia. Sebentuk tangan dingin yang memegang pipinya membangunkan Felicia perlahan dari tidurnya. Felicia membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali, sampai akhirnya dapat dilihatnya dengan jelas; sepasang bola mata kobalt dan rambut pirang yang berkilau keemasan, serta wajah yang baik dan tampan dengan langit keabu-abuan yang luas terbentang di belakangnya. Wajahnya terlihat sedikit kaget.

"Maaf, aku mengganggumu?" tanya Jürgen pelan. Perasaan Felicia yang tadinya kusut kini menjadi lebih ringan, penuh kebahagiaan dan kehangatan. Felicia tersenyum kecil, perlahan, dan terlihat begitu lelah. "Aku bermimpi," jawabnya singkat.

Perkataanya kembali dibalas senyuman ramah dari Jürgen. "Apa itu mimpi buruk?" tanyanya iseng, untuk mengganggu Felicia seperti biasa. Ya, seperti biasa.

Sesaat, kata-kata beserta emosi Felicia tercekat di tenggorokannya. Felicia terlarut dalam tatapan Jürgen yang begitu tak bersalah. "Hm, karena ada kau di dalamnya," ujar Felicia. Jürgen hanya menutup mulutnya, menahan tawa. Felicia masih tersenyum di sana, mencoba bersabar. Memang itu semua mimpi buruk. Dan memang, mimpi itu melibatkan Jürgen. Tentang nasibnya di tangan Resistenza kelak.

Musim dingin Berlin yang jauh lebih dingin daripada di Italia, membuat Felicia yang belum terbiasa dengannya menggigil kedinginan. Hawa dingin yang berhembus melewati lehernya membuat Felicia melilitkan syalnya semakin erat. Jürgen yang sepertinya menyadarinya, langsung berinisiatif membuka jaket biru keabu-abuannya yang besar, lalu menyelimuti Felicia dengan jaketnya. Hangat. 

"Jürgen, ini... Tak usah, aku baik-baik saja..." balas Felicia. Jürgen menggeleng. Ia tahu jelas, Felicia hanya berbohong. "Masih kurang hangat?"

"Um, sedikit..."

Tiba-tiba, dirasakannya tangan Jürgen yang besar dan kuat memegang pundaknya, merangkulnya, sedang tangan kanannya diselipkan di antara helai rambut coklat tua milik Felicia. Dipeluknya Felicia dengan begitu perlahan dan hati-hati. Felicia membenamkan kepalanya ke pundak Jürgen. Mencium harum kemeja putihnya, merasakan kehangatan dari dekapannya.

"Kupikir kau tak akan datang hari ini," Felicia tersentak, seakan-akan baru saja dihujam sebilah pisau tajam. "Ada apa kemarin?" tanya Jürgen. Felicia hanya membenamkan kepalanya semakin dalam ke pundak Jürgen, menyembunyikan mimiknya yang sedih sebisa mungkin.

"Lupakan saja..." bisik Felicia pelan. "Yang penting, aku ada di sini... Sekarang,"

Senyum kecil terpulas di wajah Jürgen. Jürgen mencium rambut Felicia yang sedikit basah karena salju.

"Setidaknya begitu," balasnya.
________________________________________________________________


FLASHBACK
_______________________________________________________________________________

"Dasar tidak berguna!"

PLAK!

Tamparan keras didaratkan di pipinya, meninggalkan bekas merah yang terlihat begitu menyakitkan.

"Tak ingat pernah kubesarkan anak seperti ini! Memalukan!"

Kali ini sebuah tendangan telak mengena di perutnya, membuat korbannya jatuh tersungkur di lantai.

"Kau tak pantas lahir ke dunia ini! Tidak sedikitpun!"
Korbannya yang tersungkur dan merintih kesakitan, perlahan mulai meneteskan bulir-bulir air mata, membasahi lantai kayu dingin yang mengilap di bawahnya. Tiba-tiba terasa rambut coklat gelapnya yang panjang diinjak.

"Untuk apa aku merawatmu jika hasilnya seperti ini? Sampah!"

Kata-kata yang menusuk ditujukan padanya. Hatinya terasa begitu perih dan sesak menahan hinaan bertubi-tubi yang memang ditujukan padanya seorang.

Sedari tadi, ia hanya terdiam mendengarkan kata per kata tiap caci maki yang dilontarkan ayahnya. Tamparan, tendangan, serta pukulan yang diberikan diterimanya tanpa perlawanan, sebagai bentuk penyesalannya yang dalam. Karena dari awal ini semua memang salahnya.

"... Untuk pertama kalinya, aku bersyukur istriku sudah meninggal. Daripada ia harus tersakiti lagi melihat anaknya tumbuh seperti ini,"

Punggungnya langsung bergetar, sebisa mungkin menahan tangis ketika mendengar ibunya disebut.

"Aku tak sudi mengakuimu sebagai anak. Kau dengar itu? Kau bukan anakku lagi. Seharusnya kau mati saja. Mati. Lebih baik lagi kalau kau tak pernah lahir di dunia ini," ujar sang ayah sambil membalikkan badannya.

Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sebenarnya ia setuju dengan ayahnya. Lebih baik ia mati. Bahkan tak usah pernah lahir di dunia, jika keberadaannya memang tak berarti bagi siapapun.

Seharusnya aku mati saja.
_______________________________________________________________________________



Ingatan-ingatan tersebut memaksa memenuhi kepalanya, membuka dan membawa kembali rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Semuanya --- meski hanya dalam bentuk kilas balik saja --- rasa sakitnya terasa begitu nyata. Baik di badannya, maupun jauh di dalam hatinya.

Felicia mengadahkan kepalanya, seakan-akan berharap ingatan-ingatan menyakitkan yang memenuhi kepalanya akan memudar saat ia membuka matanya, bertatapan dengan sepasang mata kobalt Jürgen.

Memang ingatan-ingatan tersebut perlahan mulai memudar, tetapi rasa sakit di hatinya malah semakin menjadi-jadi. Dadanya terasa sesak menahan luapan emosinya, sementara kenyataan yang pahit disediakan untuknya. Harus selalu berbohong seperti ini, sebenarnya bukanlah sebuah hal yang mudah untuknya --- bahkan untuk siapapun.

Sebuah bisikan pelan yang terbawa angin terdengar di telinganya, dibisikkan dengan suara yang rendah. "Aku harus pergi," begitulah bisikannya. "Sebenarnya aku hanya punya sedikit waktu untuk hari ini, tapi..." Rasa sakit di dada Felicia dengan cepat berubah menjadi kepanikan, takut --- begitu cepatnya Jürgen akan meninggalkannya, untuk selamanya. "Apa? Jangan ---"

"Feli," tangannya menyibakkan poni panjang yang menutupi kening Felicia, lalu mengecupnya sekilas. "Besok, ja? Aku akan datang besok, janji,"

Besok. Ya, besok. Hanya sehari. Apa bedanya dengan hari-hari sebelumnya? Aku bisa menunggu seperti biasa. Meskipun aku tahu, dia... Tak akan bisa datang lagi. Setelah menahan air mataku sekuat tenaga, akhirnya aku berhasil mengatakan sebuah jawaban --- "Ya, tak apa," jawabku datar.

Wajah Jürgen tetap terlihat khawatir, sepertinya ia menyadari sesuatu yang aneh padaku. "Kau sedikit aneh hari ini, Feli. Ada sesuatu?" Tanyanya dengan polos. Dia memang tidak tahu apapun. Sama sekali.

Aku menenangkan diriku, mencoba untuk menjawab pertanyaannya dengan rasional. "Hm, bukankah biasanya aku memang aneh?" jawabku tak karuan. Malah terdengar irrasional.

"Feli," ujar Jürgen singkat, seperti siap memarahiku jika aku berbohong.

Aku menunduk, menatap hamparan salju putih di bawahku. "Ne--- nein... Yah, mungkin..." tak kuasa lagi kulanjutkan kalimatku. Tanpa kusadari dan tanpa bisa kutahan, sedikit demi sedikit air mata tumpah menuruni wajahku. "Fel--- Felicia?!" Jürgen yang panik segera mengusap air mataku. Tidak --- aku tidak ingin menunjukkan wajah seperti ini ke Jürgen --- ia tak boleh tahu apapun.

Harus kujawab seperti apa lagi pertanyaan Jürgen? Sesuatu? Tentu ada. Pertanyaan yang menyakitkan. Aku yakin, reaksi yang kuberikan tadi hanya akan menambah kecurigaan padaku. Aku belum siap mengatakan semuanya sekarang. 

Sebentar lagi. Kumohon, Tuhan, beri aku waktu sebentar lagi. Masih ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Kalau aku...

"... Küss mich," terucap --- akhirnya dapat kuucapkan juga. Perasaanku yang sebenarnya, apa yang kuinginkan darinya.

Kalau aku benar-benar mencintainya.

Kutunggu sebuah jawaban darinya. Apapun itu, aku siap menerimanya. Namun, tak perlu kutunggu terlalu lama, pandangan matanya mulai melembut.

Tangan kirinya dengan perlahan dan berhati-hati menggenggam tanganku; genggaman kuatnya yang tak pernah sedikitpun melukai tanganku. Dari tanganku yang terbungkus rapat oleh tangannya yang besar, kurasakan sedikit demi sedikit kehangatan mulai menjalar mulai dari ujung jariku hingga ke seluruh tubuhku, mencairkan perasaanku yang membeku, perlahan menjadikan suhu tubuh kami sama.

 Mata biru kobaltnya yang bening seakan-akan menghisap; tatapan yang lebih dalam dari biasanya. Sedikitpun tak bisa kualihkan pandanganku darinya. Ujung jari-jemarinya yang dingin dan kurus mengangkat daguku. Kurasakan wajahnya yang putih pucat mendekat, napasnya yang terasa panas menderu wajahku.

Bersamaan dengan kututup rapat mataku, dengan lembut Jürgen menciumku. Bibirnya yang hangat terasa kontras dengan dinginnya angin yang berhembus.

Aku tak pernah mengira memang --- ciuman pertamaku akan seperti ini. Dengan seorang Jerman yang bahkan sebenarnya musuhku. Dalam kondisi seperti ini --- dimana keloyalanku pada Resistenza, pada Italia, tanah airku; bersamaan dengan perasaanku sendiri, kemauan hati kecilku; diuji hingga pada batasnya. Tak pernah terlintas dalam pikiranku, bahkan dalam kurun waktu dua bulan lalu. Manis sekaligus menyakitkan, ciuman pertamaku --- begitu mirip dengan kenyataan.

Kubuka mataku; mendapatkan mata kobalt Jürgen yang menatapku. Kutempelkan dahiku ke dahinya, bibir kami hampir bersentuhan. "Ich liebe dich, Feli," ucapnya. Ia menciumku lagi sekilas.

"Ich liebe dich zu,"
_______________________________________________________________________________


FLASHBACK
_______________________________________________________________________________




Hening.

Ruangan itu telah kosong sekarang --- Semuanya telah pergi. Tidak semua mungkin, hanya sesosok bayangan dengan setia tetap berada disana --- Felix Anzio. Meskipun masih terkejut dan tak percaya akan apa yang didengarnya tentang Jürgen --- apalagi jelas-jelas dari mulut Felicia sendiri, ia tetap tak tega meninggalkan Felicia sendirian.

Pengkhianatan sebesar apapun yang dilakukannya --- Felicia hanyalah seorang manusia biasa. Mempunyai perasaan, melakukan kesalahan. Ia bukanlah seseorang yang bisa menanggung semuanya. Setidaknya, itulah kepercayaan yang ia pegang selama ini.

Kini, gilirannya untuk melindungi Felicia, berada di sisinya, seperti yang sudah dilakukan Felicia untuk dirinya dulu. Sebuah pilihan yang sulit --- bukan untuk Felicia, namun untuk Felix. Ia harus tahu jalan mana yang terbaik untuk Italia, untuk Resistenza, bahkan untuk Jürgen, khususnya untuk Felicia, tanpap harus melukai fisik ataupun perasaan siapapun. Tapi, itu semua memang tidak mungkin. Hanya ada satu cara.

Felix beranjak dari tempat duduknya. Dengan perlahan ia melangkah mendekati Felicia yang masih tersandar di depan pintu, lemas. Ia menghentikan langkahnya, tepat di depan gadis Italia berambut coklat gelap tersebut. Dilihatnya Felicia meringkuk, menutupi wajahnya dengan lututnya, tangannya yang penuh luka masih memeluk erat lututnya. Meski sangat pelan sekalipun --- masih dapat didengarnya suara bisikan Felicia.

"Tidak... Ma-maafkan... Maafkan aku..." berkali-kali kata-kata itu digumamkannya.

"... Tolong... Seseorang, percayalah..." Masih dapat didengar olehnya dari dalam kepalanya, suara-suara yang membentaknya --- menumpuk semua kesalahan padanya. Tangannya yang bergetar menutupi telinganya, seakan-akan tak ingin mendengar apapun lagi, sama sekali.

Felix duduk di depan Felicia. Dengan penuh perhatian Felix menatap teman masa kecilnya itu. "Feli..." dipanggilnya Felicia dengan perlahan. Sementara orang yang dipanggil namanya mengangkat wajahnya, untuk melihat sesosok lelaki yang ia kenal baik berada tepat di depannya.

Sontak gadis Italia itu langsung menjatuhkan tubuhnya yang kurus ke arah teman masa kecilnya tersebut. Tangannya yang basah karena air matanya sendiri mencengkeram erat pundak lawannya, mengeratkan genggamannya pada rompi hitam yang dikenakan Felix. Balas diusapnya rambut coklat tua Felicia, berusaha menenangkannya.

"Felix... Fel, tolong!" ucapnya dengan suaranya yang parau, disertai isak tangisnya yang memang tidak berhenti sejak tadi.

Felix menutup matanya, menghela napas panjang. Sebenarnya ini bukanlah jalan keluar yang sangat baik. Ini adalah satu-satunya jalan keluar. Sebenarnya bukan seperti ini yang ingin ia berikan untuk membalas budi. Bukan. Namun, hanya ini yang Tuhan berikan kepadanya.

"Siang ini juga, temuilah dia lagi, Feli,"

"... Temuilah Jürgen untuk terakhir kalinya,"

***


Wednesday, November 7, 2012

04.

Dear You. - Higurashi

Where are you now, what are you doing now?
Are you under this endless sky?

Langit biru terbentang luas di atasku. Awan putih kelabu bak biri-biri bergerak pelan. Kutatap lagi langit luas yang membosankan, begitu monoton. Tapi, aku punya satu keyakinan, bahwa dibawah naungan langit yang tak berbatas ini, dia...

"Ita-chan!" suara seorang wanita yang kukenal memanggilku.

"Hungary-san..." aku menoleh ke sumber suara, mendapati Hungary-san, sosok wanita cantik berambut cokelat. Sekuntum bunga putih tersemat di rambutnya yang lembut dan berkilau.

"Ita-chan, sedang apa? Sedari tadi kau hanya menyapu di tempat yang sama," ucapnya sambil tersenyum. Ah iya, benar. Sedari tadi aku hanya menyapu disini. Kalau Austria-san tahu, bisa-bisa hari ini aku tidak dapat makan malam.

Hungary-san. Ya, mungkin jika dengan Hungary-san, aku bisa bercerita. "Aku, aku hanya..." Aku sempat berhenti beberapa saat untuk menghela nafas. "Aku  memikirkan Holy Roman Empire," jawabku. Kumainkan jari-jemari kecilku, dengan lenganku yang masih saja memeluk sapu.

"Kira-kira, apa yang dilakukannya sekarang?" lanjutku sambil berandai-andai.