Tuesday, June 25, 2013

Dietro Monocromatico, Pt. 1

Dengan malas kukerjapkan mataku. Refleks tubuh menggeliat nyaman menerima kehangatan lemahnya matahari musim gugur yang biasanya jarang menghampiri. Ketika segala roh sudah sepenuhnya kembali dari alam mimpi, kusadari tubuhku berbalut kehangatan dari lembar garmen bersih. Awak masih menjulur, berbaring di antara lipatan linen baru, harum khas mentari pagi. Samar bau manis yang familiar ikut menyeruak memenuhi hidung. Biar dikata seakan setan menunggangi kepala, seberat apapun sakit yang melanda aku masih mampu menoleh, mempertemukan mata dengan sumber cahaya tepat di sampingku dengan kekontrasannya yang menusuk.

Namun, cahaya mentari tua itu terblokir. Siluet bocah perempuan mungil mendominasi.

Memang butuh beberapa detik untuk mataku mempelajari siluet itu. Hanya butuh beberapa detik untuk memperjelas segala imej yang disajikan di hadapanku. Segala yang dapat kulihat hanyalah sebentuk wajah kekanakan yang tidak terlalu bulat. Bibir merahnya tipis, melengkung, menahan seribu kata penuh penasaran yang tak sabar ingin dilontarkan begitu saja. Sekalipun membelakangi cahaya, kilat indah hazelnya masih terpatri jelas, penuh rasa ingin tahu. Pipinya memerah semu secara alami.

"Ah, buongiorno!", sapa sang gadis kecil riang, sambil melayangkan senyum ramah. Ia tertawa riang, antara miris melihat sosok dekil nan suram yang kebingungan di hadapannya atau sekedar menenangkanku. "Semalam kau pingsan di depan toko. Papa yang menggotongmu kemari," ucap sang gadis sambil menyodorkan segelas air yang sepertinya memang sudah disediakannya sejak tadi.

Mataku kembali menerawang, awas terhadap tiap sudut interior yang didominasi kayu ditambah dengan paduan warna putih yang menyeimbangi. Jendela kayunya pun dibingkai oleh lapisan renda gorden tipis. Jadi begitu, ini di dalam toko roti, rupanya. Memang, semalam melelahkan dan begitu dingin, sampai aku sempat berpikir bisa saja aku mati membeku saat itu juga. Mungkin bukan sebatas berpikir. Aku, akulah yang menginginkan kematian itu. Dan aku yakin akan mendapatkannya. Aku.

Kubuyarkan lamunanku ketika aku sadar sang gadis kecil menunggu. "Si... Mille grazie." Perlahan tanganku yang masih gemetar meraih gelas yang diberikan, nyaris membuat gelas melesat dari genggaman. Dengan cekatan, tanpa pikir panjang sang gadis kecil meraih pergelangan tanganku. "Hati-hati," ucapnya tegas.

Aku menoleh. Bahkan sebelum sempat kusadari, pipiku sendiri sudah terlanjur merona merah semu. Terasa panas menguar di wajah. Kurasakan lembutnya sebentuk porselen yang meraih. Tangan yang hadir ini bukan tangan kejam ayah yang menampar. Bukan tangan nista ibu yang mengelus dengan penuh dusta. Bukan tangan biadab tuan 'pembeli' yang menjamah tiap jengkal badan. Berbeda. Tangan bocah perempuan ini hangat, ketulusan dan kepolosan terpancar.

Seperti inikah rasanya tangan manusia?

Masih kunikmati kehangatan yang menjalar dari sebentuk tangan mulus nan mungil itu. "Lucu."

Cukup kusembunyikan wajah. Merunduk, menutup mata dengan selaput kulit yang disapu bulu mata. "Lucu bagaimana kau bisa sebaik ini pada orang asing."

Seraya mengukir lengkung dengan maksud menertawai diri sendiri, aku berbisik lembut. "Bisa saja aku menjualmu sekarang, kau tahu itu, 'kan?"

Betapa polosnya ia mempercayai orang. Betapa besar hatinya memperhatikan seonggok mayat di depan tokonya. Alangkah baiknya ia melangkahkan kaki di tengah dinginnya malam demi tubuh menjijikkan penghalang etalase tokonya.

"Tak menutup kemungkinan aku akan menggores wajahmu dengan pecahan gelas ini kelak," tawaku sinting.

Sesungguhnya aku iri. Aku rindu kepolosanku.

Sebelum kembali aku menggumam tak jelas seperti orang imbisil, sang gadis mungil bertindak cepat. Mengalihkan gelas dari tanganku yang gemetar. Menggantikannya kembali dengan tangannya sendiri yang jelas terlampau kecil untuk menjangkau, membungkus seluruh tanganku. Setidaknya ia tahu. Ia tahu apa yang ia lakukan. Ia tahu bagaimana membuatku nyaman dalam tatapan hazelnya.

Mulutnya menolak bernegasi dengan kata-kataku. Ia memilih diam, mendengarkan tanpa membalas sepatah kata pun dari pernyataanku. Tetap dengan senyum ramah yang entah sejak kapan terpatri di bibirnya---seakan memperdaya agar aku tidak berpikir negatif tentang diriku sendiri yang faktanya memang menyedihkan ini, seakan ia paham segala masalahku---ia justru balas berucap.

"Felicia Lombardi, kau?"

Aku penasaran. Penasaran dengan gadis yang entah tolol atau terlampau baik ini. Salahkah aku jika kuingin tahu lebih banyak tentang, yah, bisa dibilang, manusia biasa? Kau tahu, dibanding orang yang pernah kutemui sepanjang aku berpijak di bumi ini, hanya ia yang paling normal. Salahkah aku jika kuingin tahu tentang mereka, yang mungkin---tak kenal yang namanya menyakiti diriku?

"Aku... Felix. Felix dari Anzio," jawabku pelan.

... Yang jelas, aku tak akan menyesal. Bukankah seharusnya begitu?

***

To be continued

***

No comments:

Post a Comment