Monday, September 10, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 4

Felicia kembali terbangun di ranjangnya, bertatapan dengan atap kayu di atasnya. Beberapa kali ia mengusap matanya. Matanya terlihat kosong dan merah, serta kantong mata yang tebal terlihat di bawah matanya, tanda ia kurang tidur semalam.

Sudah cukup. Terlalu banyak yang terjadi kemarin. Aku masih belum ingin bangun. Aku masih ingin bermimpi, mengenang saat-saat itu...

Aku belum sempat bertemu Jürgen kemarin. Aku harus bertemu. Sebelum besok...

Salju tipis terlihat turun perlahan di luar jendela, menciptakan atmosfer dingin di kamar yang kecil dan gelap itu. Pagi bulan Desember yang dingin di Berlin. Kaca jendela kamar Felicia dihalangi embun tipis. Udara dingin berhasil membuat Felicia yang menggigil kedinginan meringkuk di dalam balutan selimut hijau tua yang dipakainya.

Masih pagi begini, sudah terdengar suara ribut orang berdebat dari lantai bawah. Kudengar suara De Luca berteriak dari bawah. Sepertinya berbicara sesuatu tentang penyerangan. Rapat anggota-anggota Resistenza lagi? Biarlah, aku tak peduli. Toh besok juga pasti aku hadir. Harus. Besok...

Konferensi Besar La Resistenza Italiana di Piacenza, Italia. Aku harus pulang ke Italia besok.

Mungkin ini hari terakhirku bisa bertemu Jürgen. Untuk selamanya.

***

Tepat sore hari setelah rapat kemarin. Alec Kirkland, seorang pemuda Skotlandia bertubuh tinggi bermata hijau bening duduk di sebuah kursi di balkon, menyesap teh sambil melihat awan tipis yang menggantung di langit sore yang merah membara. Sebuah rak kue yang kebanyakan berisi scone tertata rapi di atas meja bertaplak merah. Selain itu, sebuah surat tergeletak di atas meja tersebut. Amplopnya sudah disobek di bagian atasnya, menampilkan isinya --- sebuah surat permohonan.

Alec kembali meletakkan cangkir tehnya yang tinggal berisi setengah ke sebuah piring kecil yang berada di dekatnya. Alec pun beranjak dari kursinya, mengambil surat permohonan yang tergeletak di sebelah rak kue, lalu membacanya sambil berdiri di pinggir balkon. Ia meremas helaian rambut merahnya.

Alec menyeringai. "Tak kusangka," gumamnya.

"Resistenza, gerakan penentang sekutunya sendiri itu... Dengan begini cerobohnya meminta bantuan pada Inggris," Alec mulai menyobek surat yang ada di tangannya, membuat tulisan-tulisan yang tercetak rapi di sana terpisah-pisah. Alec melempar potongan-potongan kecil kertas tersebut ke bawah. "De Luca? Yang benar saja. Konyol,"

"Aku sudah salah menilaimu. Padahal kusangka kau hebat," ujar Alec dengan aksen Skotlandianya yang kental, kepada seorang pemuda lain yang sejak tadi duduk di seberang meja, dengan bibirnya yang terkatup rapat --- membentuk sebuah garis lurus yang tegas. "Benarkah?" Tanya pemuda tersebut. Dengan cepat ekspresi datar itu berubah menjadi sebuah senyuman. Senyuman dengan sesuatu yang tersembunyi di sana. Pemuda tersebut berdiri, menghampiri Alec yang masih berdiri di pinggir balkon.

Pemuda itu menarik kerah kemeja Alec. "Kau tahu, Kirkland?" Tanyanya sambil tetap tersenyum. "Jangan pernah remehkan kami," Perlahan senyumannya pudar. Pandangannya berubah dingin. "Meskipun kami pengkhianat Blok Poros, atau apapun mereka menyebut kami..."
"Kami bukan rendahan. Dan kami tidak seperti yang kau kira. Ingat itu," dilepaskanlah tangannya dari kerah Alec. Ia mundur beberapa langkah lalu membalikkan badannya, kembali duduk di kursinya.

"Bloody hell, Vargas. Buktikanlah ucapanmu. Aku tak sabar melihatnya," sahut Alec sambil menyeringai, sembari merapihkan kembali kerah kemejanya.

Mata coklat tua Antonio menyisir rak kue yang ada di hadapannya dengan tatapan kosong. Tak memedulikan kata-kata Alec. Yang ada dipikirannya hanyalah Konferensi Besar Resistenza yang akan dilaksanakan lusa, serta...

Jürgen Schultz. Ada sesuatu di antara dia dan Felicia.

***
Felicia memutuskan untuk tetap pergi dan menunggu Jürgen di bawah pohon Oak seperti biasa. Toh, besok ia harus kembali ke Italia. Tak apa. Sekali ini saja...

Pandangan Felicia menerawang ke kota Berlin yang hari itu tertutup lapisan tipis benda putih bersih. Salju. Langitnya pun berwarna keabu-abuan, berkesan suram, seperti dirinya sekarang ini. Masih diingatnya kejadian saat rapat tadi pagi.

Apa yang harus kulakukan?

Felicia mengubur wajahnya yang memerah karena dingin dalam balutan syal berwarna merah marun yang dipakainya.

Menyelamatkan Jürgen? Mengkhianati Italia dan memberitahukannya soal rencana ini?

Udara dingin membuat nafas Felicia terlihat putih. Kuku-kukunya mulai memucat.

Bisa saja kulakukan seperti itu. Bisa saja Jürgen selamat. Tapi jika kuberi tahu, Resistenza bisa-bisa...

Apa mungkin sebaiknya aku diam saja, seperti yang Felix bilang? Jika Jürgen meninggal, semua hanya akan kembali seperti semula. Kehidupanku yang biasa, sebelum aku bertemu Jürgen. Tapi...

Tidak, tidak. Aku tak ingin egois. Aku tak ingin semuanya berakhir seperti ini. Pasti ada cara, pasti, agar semuanya bahagia. Tapi bagaimana jika sebelum sempat kutemukan caranya, semua sudah terlambat?

Aku harus bagaimana lagi?

Felicia menghela nafas panjang.

"Apa lagi yang harus kulakukan? Kenapa semua cobaan ini terlalu berat...?"

Perlahan Felicia menutup matanya dengan lembut. Jatuh tertidur di bawah pohon oak yang berselimut salju.

Setidaknya ia berharap sebuah mimpi indah menghampirinya, di mana ia bebas. Tak ada masalah baginya.

________________________________________________________________

FLASHBACK
________________________________________________________________

Felicia menuruni tangga kayu di depannya dengan perlahan. Tangga yang sudah tua tersebut mengeluarkan bunyi berdecit yang mengiringi tiap langkah lunglai Felicia. Rambut coklat gelapnya yang sedikit bergelombang dibiarkan tergerai begitu saja, bukan diikat rapih seperti biasa. Kepalanya ditundukkan menatap lantai kayu di bawahnya. Ia berjalan sempoyongan.

Anggota-anggota Resistenza yang ada di meja makan masih saja ramai berdebat. Beberapa kali kata-kata kasar dalam bahasa Italia keluar dari mulut mereka. Saat itulah, sebuah suara keras terdengar dari arah tangga. Seluruh pasang mata yang ada di sana terfokus memandang ke arah tangga.

Yang mereka lihat adalah Felicia yang jatuh tergeletak di tangga, yang entah kenapa tidak bisa bangun.

Felix Anzio, teman masa kecil Felicia, langsung beranjak dari kursinya dan meraih lengan Felicia, lalu membantunya berdiri.

"Fate attenzione, Feli," bisiknya pelan.

"Grazie, Felix..." Jawab Felicia.

Tanpa dibalas sepatah kata pun dari Felix, Felix mengantarkan Felicia ke tempat duduknya. "Tenanglah dulu," ujarnya sambil menepuk pundak Felicia. Felicia menghela nafas panjang, lalu mengangguk. Felix tersenyum. Setelah dilihatnya Felicia lebih tenang, Felix kembali ke tempat duduknya.

Felix, putra kedua keluarga Anzio, teman masa kecil Felicia. Lebih tua dari Felicia memang, mungkin seumur dengan kakak Jürgen. Felix yang dulu sering dibully karena sikapnya yang manis dan cengeng seperti kebanyakan anak perempuan, pernah dibela Felicia. Akhirnya, sejak itu mereka bersahabat. Sedikit demi sedikit seiring ia bertumbuh, Felix semakin kuat dan semakin mahir menggunakan senjata. Bahkan saat masuk Resistenza, ia diposisikan sebagai front bersenjata Resistenza sekaligus pengeksekusi para pengkhianat. Dan sekarang, ia sedang ditugaskan di Berlin untuk memantau field, bersama Lorenzo Marinotti. Perubahan yang cukup drastis dari seorang anak laki-laki cengeng.

Bahkan dulu, Felix sempat menyukai Felicia. Hanya saja, ia tak pernah berani menyatakannya, dengan alasan kondisi perekonomian keluarganya buruk. Bisa dibilang, mereka berbeda status. Lagipula, Felix sendiri pun hanya dianggap seperti seorang kakak laki-laki bagi Felicia. Perasaan itu pun tak pernah sampai pada Felicia, karena tiba-tiba Felicia dijodohkan dengan Antonio oleh Simone. Kisah cinta yang berakhir tragis. Beruntung Felix tak pernah tahu hubungan Jürgen dan Felicia.

"Jadi, kita lanjutkan rapat kita," ujar Antonio, memecah keheningan yang tadinya menyelimuti ruangan tersebut.  "Beberapa dari kita mungkin sudah tahu, bahwa beberapa hari lalu Inggris nyaris berhasil melumpuhkan markas besar Landstreitkräfte di Berlin,"

Suara-suara bisikan pelan penuh rasa penasaran terdengar di seluruh penjuru ruangan. "Kecerobohan Inggris adalah menempatkan seorang bomber pilot yang masih baru, menyebabkan kegagalan serangan mereka. Menurutku semua sudah hampir semupurna, sebenarnya," Felicia teringat sesuatu. Beberapa hari lalu, pengalihan perhatian lewat darat yang berani. Sementara di darat para Landstreitkräfte dibuat sibuk dengan serangan tiba-tiba yang agresif, sebuah bom dijatuhkan dari udara untuk meledakkan markas besar yang sedang tanpa pertahanan. Inggris sebenarnya hampir berhasil meledakkan markas besar Landstreitkräfte, yang akhirnya gagal begitu saja karena luput. Konyol. Kakak Jürgen yang seorang Landstreitkräfte pun ikut mempertahankan markas besarnya.

"Dan ini," Antonio membentangkan sebuah map besar kota Berlin ke atas meja, sehingga sebagian besar peserta rapat dapat melihatnya dengan jelas. Antonio mengambil sebuah spidol merah. "Ledakannya terjadi di..." Antonio melingkari sebuah daerah yang terlihat kosong dan luas dengan spidol merahnya. Sebuah lapangan kosong yang besar, tepat di dekat markas Landstreitkräfte. "Sini. Hanya beberapa mil dari markas besar Landstreitkräfte Jerman," lanjut Antonio.

"Apa Inggris akan melakukannya lagi? Bukan kesalahannya maksudku --- tapi strategi yang sama?" Tanya seorang peserta rapat sambil mengangkat tangannya.

"Pertanyaan yang bagus," Antonio menunjuk peserta rapat tersebut dengan spidol merahnya. "Jika mereka bodoh, kemungkinan besar ya. Penyerangan baru-baru ini mungkin sedikit terkesan seperti 'latihan' bagi mereka," jawab Antonio, lalu ia berhenti sebentar. "Tapi, jika menjalankan strategi yang sama, Jerman akan lebih memfokuskan perhatian ke serangan udara. Mereka akan jauh lebih berhati-hati kali ini. Bisa jadi, Inggris akan menggunakan strategi yang sama dengan variasi berbeda. Dan mungkin mereka akan berkoordinasi juga dengan Resistenza untuk back-up, sebab di penyerangan gagal ini pun beberapa anggota Resistenza turut berpartisipasi. Semua sudah kujawab?" Tanya Antonio kembali sambil tersenyum. Peserta rapat itu mengangguk.

"Dan kita, tak akan mengulang kesalahan yang sama dengan Inggris. Lebih baik kita kerahkan kekuatan di bidang terbaik kita," Antonio membuka tutup spidol merahnya, melingkari suatu daerah. Sebuah markas besar lain. Antonio menulis sesuatu di sana : Luftwaffe Headquarters. Markas besar Luftwaffe. "Target kita, udara. Luftwaffe,"

Felicia menunduk, menatap meja di depannya. Ia hanya memain-mainkan jarinya, sementara mendengar penjelasan Antonio. Firasatnya mengatakan, sesuatu yang buruk akan terjadi. Setelah beberapa lama menjelaskan, Antonio mengambil beberapa berkas dari atas meja, lalu membereskannya.

"Ini daftar nama target kita, orang-orang terpenting di Luftwaffe. Opsir berpangkat tinggi, serta beberapa fighter pilot terbaik andalan Luftwaffe. Berkas ini juga akan diserahkan pada pihak Inggris saat konferensi besok," setelah semua dibereskan, Antonio meletakkan kembali berkas itu di meja.

Entah kenapa, Felicia merasa mual. Mual sekali. Sudah pasti pertanda buruk. Dengan perlahan dan diam-diam, Felicia berusaha meraih berkas yang terletak di depan Antonio. Tercetak dengan besar dan tebal tulisan "Primary Target : High-Ranked Officers and Best Fighter Pilots of German Air Force" di bagian berkas tersebut. Felicia membolak-balik berkas tersebut, lembar per lembar diperhatikannya.

Sampai sebuah nama menangkap perhatiannya. Refleks, Felicia langsung menutup mulutnya. Seluruh tubuhnya bergetar menahan tangis. Meskipun ruangan tersebut ramai, ia merasa suara di sekelilingnya makin memudar dan memudar. Hanya suara dari dalam kepalanya yang dapat ia dengar.

Bohong... Ini tak mungkin terjadi. Tak mungkin...

Tangannya yang bergetar tak sengaja menjatuhkan tumpukan berkas itu. Pandangannya mulai terasa kabur karena air mata yang mulai menggenangi kelopak matanya. Berkas itu, daftar nama, huruf-huruf itu... Semuanya membuat Felicia merasa terjatuh. Tak yakin apakah ia masih bisa bangun lagi atau tidak. Cukup empat kalimat yang membuatnya seperti ini.

Leutnant Jürgen Fritzmann Schultz.

Tiba-tiba, kembali dapat didengarnya suara Antonio yang berbicara. 

"Penyerangan ini rencananya akan dilaksanakan sekitar hari Rabu, 20 Desember 1944," kata-kata Antonio kembali terdengar jelas.

20 Desember...? Minggu depan...? Tidak, ini terlalu cepat...

"Informasi yang kita dapatkan ini akan dikonfirmasikan pada Inggris, besok, saat Konferensi Besar La Resistenza Italiana, seperti yang sudah diberitahukan sebelumnya. Target utama baik untuk kita dan Inggris, Luftwaffe,"

Kata-kata yang seakan-akan mengiris hatinya. Semakin dalam menusuk. Sakit yang luar biasa melanda dadanya, sebelum benar-benar menjalar ke seluruh tubuhnya.

"Dan, besok..."
"HENTIKAN!" Teriakan itu berhasil membuat hening ruangan yang tadinya benar-benar ramai. Begitu keras dan terdengar depresi, sebelum sang peneriak sendiri dapat menghentikannya. Ia pun langsung menutupi mulutnya dengan tangannya, namun terlambat. Kecurigaan sudah terlanjur ditujukan padanya.

"Lombardi? Ada apa lagi?" Tanya Antonio dengan ringan, seakan-akan kejadian ini sudah biasa terjadi. Alih-alih menatap Antonio, Felicia memalingkan pandangannya dengan putus asa ke sekelilingnya. Begitu banyak pasang mata menatapnya dengan penasaran dan curiga. Tak terkecuali Felix, dengan sedikit kekhawatiran tersirat di matanya.

Simone lagi-lagi menatap Felicia dengan sangat kesal. Sungguh, apa yang merasuki putrinya belakangan ini? Benar-benar seperti bukan dia. Berbeda jauh dengan Felicia yang biasanya.

Dipenuhi rasa sedih dan bersalah, Felicia terdiam seribu kata di kursinya. Tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya, kecuali isak tangis yang sedikit demi sedikit mulai terdengar.

Antonio berjalan ke arah kursi Felicia, memungut berkas yang tidak sengaja dijatuhkan Felicia sebelumnya. Antonio langsung tahu apa yang membuat tunangannya seperti ini. Tercetak dengan huruf ukuran sedang, tidak terlalu besar ataupun kecil. "Dia lagi, Lombardi? Letnan Schultz?" Tanya Antonio dengan suara yang berat. Entah kenapa kali ini Antonio memanggil Felicia dengan nama keluarganya.

"Dengar, Antonio... Aku bisa jelaskan..." Jawab Felicia dengan suaranya yang parau.

"Kalau begitu, jelaskanlah pada mereka," ujar Antonio, menunjuk ke arah peserta rapat Resistenza di sana. Semakin guguplah Felicia. Ia harus jawab apa? Apa benar-benar tak ada lagi jalan keluar lain selain memberitahukan semuanya pada mereka?

"Aku..." Felicia mengatakannya dengan ragu, sambil menyisir pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Sempat juga ia bertatapan mata dengan Antonio.

"Kenapa? Kau tak perlu beritahu aku, informasi yang kudapat sudah cukup," ucap Antonio, sambil tersenyum simpul. Pandangan matanya menatap dingin mata hazel Felicia.

Perasaan Felicia semakin sakit. Antonio sudah tahu. Ya, tergambar jelas dari ekspresinya, perkataannya. Antonio mengetahui semuanya. Dan sudah sangat jelas --- ia kesal. Antonio, satu-satunya orang yang dapat Felicia percaya, tunangannya sendiri, kini berbalik membencinya.

"Maafkan aku, Antonio... Maaf..." Hanya itulah kata-kata yang dapat keluar dari mulut Felicia sekarang. Beribu kata masih disimpan rapat-rapat di hatinya.

Seluruh anggota rapat Resistenza di sana diliputi rasa penasaran menunggu sebuah jawaban dari Felicia Lombardi. Sedang Felicia sendiri hanya duduk terpaku di kursinya, dengan air mata yang tak henti-hentinya menuruni wajahnya. Tunangannya, Antonio berdiri di sana, dengan sekilas senyumnya yang lebih mirip sebuah senyum psikopat sekarang. Ia juga sedang menunggu jawaban dari Felicia.

"Aku harus pergi," sebuah jawaban singkat yang mengejutkan. Felicia langsung beranjak dari kursinya, berlari ke arah pintu depan. Dengan seluruh tenaganya yang tersisa ia mencoba membuka pintunya, namun sayang, kali ini tenaganya tidak cukup untuk membuka pintu kayu yang berat itu. Mengetahui tak ada lagi yang bisa ia lakukan, Felicia tersungkur lemas di depan pintu tersebut. Tangan kanannya tetap melekat di handel pintu berwarna hitam legam.

Simone, yang akhirnya tidak tega melihat putrinya seperti itu, menghampiri Felicia. Ia merendahkan posisi berdirinya dan mengelus rambut Felicia. "Sebenarnya kau ini kenapa, Feli..." Ucapnya pelan dengan nada penuh khawatir. Felicia hanya menggelengkan kepalanya. Badannya masih bergetar hebat, isak tangisnya terdengar pelan.

"Jadi, kau belum mampu menceritakan semuanya, Lombardi? Haruskah aku lagi yang menjelaskannya?" Sahut Antonio dari kejauhan. Simone mengalihkan pandangannya ke arah Antonio, menatapnya dingin. "Jangan ikut campur, Vargas. Aku yang paling tahu soal putriku sendiri, dan ia ingin kau mengunci mulutmu itu sekarang," balas Simone.

"Begitukah, tuan Lombardi? Tunangan macam apakah aku jika aku tak mengetahui apa-apa soal calon istriku sendiri?"

"Dan itukah yang kau katakan pada calon mertuamu sendiri? KAU PIKIR ITU SOPAN, HAH?!" Nada bicara Simone mulai meninggi. Emosinya benar-benar diuji hari ini.

"Dan apa anda tahu, bahwa ada laki-laki lain di sisinya selain tunangannya? Bahkan ia lebih mencintai laki-laki itu daripada tunangannya sendiri? Anda tahu itu, 'ayah'?" Jawab Antonio dengan santai, menekankan bagian 'ayah'.

Simone terbelalak kaget, tak mempercayai kata-kata Antonio. Apa benar putrinya seperti itu? Ia kembali berbalik, melihat Felicia yang masih tak bergeming dari posisinya. "Apa itu benar, Feli?" Tanyanya dengan lembut. Namun, tak ada jawaban dari Felicia. "Feli, jawab papa. Apa benar yang dikatakan Antonio?" Kali ini ia bertanya sedikit keras. Masih belum ada respon dari Felicia. Sama sekali.

"FELICIA LOMBARDI! JAWAB! KAU HANYA PERLU JAWAB 'YA' ATAU 'TIDAK'! KAU TAK MENGERTI JUGA, HAH? CEPAT!" Simone, yang sudah benar-benar frustasi, akhirnya berteriak dengan murka. Teriakannya berhasil mengagetkan seluruh anggota Resistenza di meja makan, menciptakan kesunyian di seluruh penjuru ruangan.

Kata-kata Simone benar-benar menusuk bagi Felicia. Sudah cukup kenyataan yang kejam dihadapkan padanya, yang bahkan belum bisa ia terima sepenuhnya. Jangan lagi ayahnya sampai kehilangan kepercayaan padanya. Jangan.

Haruskah ia jujur? Sepertinya menyembunyikan semuanya pun percuma sekarang, Antonio yang sudah tahu segalanya akan bercerita nantinya. Lebih baik mereka mendengarnya dari mulut Felicia sendiri. Mungkin memang sudah saatnya mereka tahu.

"Leutnant... Schultz," Ujarnya di tengah isak tangisnya.

***

Kamus Sejarah :
Blok Poros / Axis Powers 
( GER : Achsenmächte, ITA : Potenze dell'Asse,  JAP : Shujikukoku)

Sebuah blok yang melawan pihak sekutu saat PD II. Terdiri dari tiga anggota utama (Tripartite) : Nazi Jerman, Republik Italia, serta Kekaisaran Jepang. PD II pun berakhir dengan kemenangan sekutu, yang berarti juga membebaskan negara-negara jajahan anggota Blok Poros, termasuk Indonesia.

Italiano
Fate attenzione : Hati-hati

Deutsche
Landstreitkräfte : Angkatan darat Jerman