Di selang tidurnya, secercah cahaya mulai menerobos masuk ke mata Felicia. Sebentuk tangan dingin yang memegang pipinya membangunkan Felicia perlahan dari tidurnya. Felicia membuka matanya dan mengerjapkannya beberapa kali, sampai akhirnya dapat dilihatnya dengan jelas; sepasang bola mata kobalt dan rambut pirang yang berkilau keemasan, serta wajah yang baik dan tampan dengan langit keabu-abuan yang luas terbentang di belakangnya. Wajahnya terlihat sedikit kaget.
"Maaf, aku mengganggumu?" tanya Jürgen pelan. Perasaan Felicia yang tadinya kusut kini menjadi lebih ringan, penuh kebahagiaan dan kehangatan. Felicia tersenyum kecil, perlahan, dan terlihat begitu lelah. "Aku bermimpi," jawabnya singkat.
Perkataanya kembali dibalas senyuman ramah dari Jürgen. "Apa itu mimpi buruk?" tanyanya iseng, untuk mengganggu Felicia seperti biasa. Ya, seperti biasa.
Sesaat, kata-kata beserta emosi Felicia tercekat di tenggorokannya. Felicia terlarut dalam tatapan Jürgen yang begitu tak bersalah. "Hm, karena ada kau di dalamnya," ujar Felicia. Jürgen hanya menutup mulutnya, menahan tawa. Felicia masih tersenyum di sana, mencoba bersabar. Memang itu semua mimpi buruk. Dan memang, mimpi itu melibatkan Jürgen. Tentang nasibnya di tangan Resistenza kelak.
Musim dingin Berlin yang jauh lebih dingin daripada di Italia, membuat Felicia yang belum terbiasa dengannya menggigil kedinginan. Hawa dingin yang berhembus melewati lehernya membuat Felicia melilitkan syalnya semakin erat. Jürgen yang sepertinya menyadarinya, langsung berinisiatif membuka jaket biru keabu-abuannya yang besar, lalu menyelimuti Felicia dengan jaketnya. Hangat.
"Jürgen, ini... Tak usah, aku baik-baik saja..." balas Felicia. Jürgen menggeleng. Ia tahu jelas, Felicia hanya berbohong. "Masih kurang hangat?"
"Um, sedikit..."
Tiba-tiba, dirasakannya tangan Jürgen yang besar dan kuat memegang pundaknya, merangkulnya, sedang tangan kanannya diselipkan di antara helai rambut coklat tua milik Felicia. Dipeluknya Felicia dengan begitu perlahan dan hati-hati. Felicia membenamkan kepalanya ke pundak Jürgen. Mencium harum kemeja putihnya, merasakan kehangatan dari dekapannya.
"Kupikir kau tak akan datang hari ini," Felicia tersentak, seakan-akan baru saja dihujam sebilah pisau tajam. "Ada apa kemarin?" tanya Jürgen. Felicia hanya membenamkan kepalanya semakin dalam ke pundak Jürgen, menyembunyikan mimiknya yang sedih sebisa mungkin.
"Lupakan saja..." bisik Felicia pelan. "Yang penting, aku ada di sini... Sekarang,"
Senyum kecil terpulas di wajah Jürgen. Jürgen mencium rambut Felicia yang sedikit basah karena salju.
"Setidaknya begitu," balasnya.
________________________________________________________________
FLASHBACK
_______________________________________________________________________________
"Dasar tidak berguna!"
PLAK!
Tamparan keras didaratkan di pipinya, meninggalkan bekas merah yang terlihat begitu menyakitkan.
"Tak ingat pernah kubesarkan anak seperti ini! Memalukan!"
Kali ini sebuah tendangan telak mengena di perutnya, membuat korbannya jatuh tersungkur di lantai.
"Kau tak pantas lahir ke dunia ini! Tidak sedikitpun!"
Korbannya yang tersungkur dan merintih kesakitan, perlahan mulai meneteskan bulir-bulir air mata, membasahi lantai kayu dingin yang mengilap di bawahnya. Tiba-tiba terasa rambut coklat gelapnya yang panjang diinjak.
"Untuk apa aku merawatmu jika hasilnya seperti ini? Sampah!"
Kata-kata yang menusuk ditujukan padanya. Hatinya terasa begitu perih dan sesak menahan hinaan bertubi-tubi yang memang ditujukan padanya seorang.
Sedari tadi, ia hanya terdiam mendengarkan kata per kata tiap caci maki yang dilontarkan ayahnya. Tamparan, tendangan, serta pukulan yang diberikan diterimanya tanpa perlawanan, sebagai bentuk penyesalannya yang dalam. Karena dari awal ini semua memang salahnya.
"... Untuk pertama kalinya, aku bersyukur istriku sudah meninggal. Daripada ia harus tersakiti lagi melihat anaknya tumbuh seperti ini,"
Punggungnya langsung bergetar, sebisa mungkin menahan tangis ketika mendengar ibunya disebut.
"Aku tak sudi mengakuimu sebagai anak. Kau dengar itu? Kau bukan anakku lagi. Seharusnya kau mati saja. Mati. Lebih baik lagi kalau kau tak pernah lahir di dunia ini," ujar sang ayah sambil membalikkan badannya.
Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, sebenarnya ia setuju dengan ayahnya. Lebih baik ia mati. Bahkan tak usah pernah lahir di dunia, jika keberadaannya memang tak berarti bagi siapapun.
Seharusnya aku mati saja.
_______________________________________________________________________________
Ingatan-ingatan tersebut memaksa memenuhi kepalanya, membuka dan membawa kembali rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuhnya. Semuanya --- meski hanya dalam bentuk kilas balik saja --- rasa sakitnya terasa begitu nyata. Baik di badannya, maupun jauh di dalam hatinya.
Felicia mengadahkan kepalanya, seakan-akan berharap ingatan-ingatan menyakitkan yang memenuhi kepalanya akan memudar saat ia membuka matanya, bertatapan dengan sepasang mata kobalt Jürgen.
Memang ingatan-ingatan tersebut perlahan mulai memudar, tetapi rasa sakit di hatinya malah semakin menjadi-jadi. Dadanya terasa sesak menahan luapan emosinya, sementara kenyataan yang pahit disediakan untuknya. Harus selalu berbohong seperti ini, sebenarnya bukanlah sebuah hal yang mudah untuknya --- bahkan untuk siapapun.
Sebuah bisikan pelan yang terbawa angin terdengar di telinganya, dibisikkan dengan suara yang rendah. "Aku harus pergi," begitulah bisikannya. "Sebenarnya aku hanya punya sedikit waktu untuk hari ini, tapi..." Rasa sakit di dada Felicia dengan cepat berubah menjadi kepanikan, takut --- begitu cepatnya Jürgen akan meninggalkannya, untuk selamanya. "Apa? Jangan ---"
"Feli," tangannya menyibakkan poni panjang yang menutupi kening Felicia, lalu mengecupnya sekilas. "Besok, ja? Aku akan datang besok, janji,"
Besok. Ya, besok. Hanya sehari. Apa bedanya dengan hari-hari sebelumnya? Aku bisa menunggu seperti biasa. Meskipun aku tahu, dia... Tak akan bisa datang lagi. Setelah menahan air mataku sekuat tenaga, akhirnya aku berhasil mengatakan sebuah jawaban --- "Ya, tak apa," jawabku datar.
Wajah Jürgen tetap terlihat khawatir, sepertinya ia menyadari sesuatu yang aneh padaku. "Kau sedikit aneh hari ini, Feli. Ada sesuatu?" Tanyanya dengan polos. Dia memang tidak tahu apapun. Sama sekali.
Aku menenangkan diriku, mencoba untuk menjawab pertanyaannya dengan rasional. "Hm, bukankah biasanya aku memang aneh?" jawabku tak karuan. Malah terdengar irrasional.
"Feli," ujar Jürgen singkat, seperti siap memarahiku jika aku berbohong.
Aku menunduk, menatap hamparan salju putih di bawahku. "Ne--- nein... Yah, mungkin..." tak kuasa lagi kulanjutkan kalimatku. Tanpa kusadari dan tanpa bisa kutahan, sedikit demi sedikit air mata tumpah menuruni wajahku. "Fel--- Felicia?!" Jürgen yang panik segera mengusap air mataku. Tidak --- aku tidak ingin menunjukkan wajah seperti ini ke Jürgen --- ia tak boleh tahu apapun.
Harus kujawab seperti apa lagi pertanyaan Jürgen? Sesuatu? Tentu ada. Pertanyaan yang menyakitkan. Aku yakin, reaksi yang kuberikan tadi hanya akan menambah kecurigaan padaku. Aku belum siap mengatakan semuanya sekarang.
Sebentar lagi. Kumohon, Tuhan, beri aku waktu sebentar lagi. Masih ada sesuatu yang ingin kusampaikan padanya. Kalau aku...
"... Küss mich," terucap --- akhirnya dapat kuucapkan juga. Perasaanku yang sebenarnya, apa yang kuinginkan darinya.
Kalau aku benar-benar mencintainya.
Kutunggu sebuah jawaban darinya. Apapun itu, aku siap menerimanya. Namun, tak perlu kutunggu terlalu lama, pandangan matanya mulai melembut.
Tangan kirinya dengan perlahan dan berhati-hati menggenggam tanganku; genggaman kuatnya yang tak pernah sedikitpun melukai tanganku. Dari tanganku yang terbungkus rapat oleh tangannya yang besar, kurasakan sedikit demi sedikit kehangatan mulai menjalar mulai dari ujung jariku hingga ke seluruh tubuhku, mencairkan perasaanku yang membeku, perlahan menjadikan suhu tubuh kami sama.
Mata biru kobaltnya yang bening seakan-akan menghisap; tatapan yang lebih dalam dari biasanya. Sedikitpun tak bisa kualihkan pandanganku darinya. Ujung jari-jemarinya yang dingin dan kurus mengangkat daguku. Kurasakan wajahnya yang putih pucat mendekat, napasnya yang terasa panas menderu wajahku.
Bersamaan dengan kututup rapat mataku, dengan lembut Jürgen menciumku. Bibirnya yang hangat terasa kontras dengan dinginnya angin yang berhembus.
Aku tak pernah mengira memang --- ciuman pertamaku akan seperti ini. Dengan seorang Jerman yang bahkan sebenarnya musuhku. Dalam kondisi seperti ini --- dimana keloyalanku pada Resistenza, pada Italia, tanah airku; bersamaan dengan perasaanku sendiri, kemauan hati kecilku; diuji hingga pada batasnya. Tak pernah terlintas dalam pikiranku, bahkan dalam kurun waktu dua bulan lalu. Manis sekaligus menyakitkan, ciuman pertamaku --- begitu mirip dengan kenyataan.
Kubuka mataku; mendapatkan mata kobalt Jürgen yang menatapku. Kutempelkan dahiku ke dahinya, bibir kami hampir bersentuhan. "Ich liebe dich, Feli," ucapnya. Ia menciumku lagi sekilas.
"Ich liebe dich zu,"
_______________________________________________________________________________
FLASHBACK
_______________________________________________________________________________
Hening.
Ruangan itu telah kosong sekarang --- Semuanya telah pergi. Tidak semua mungkin, hanya sesosok bayangan dengan setia tetap berada disana --- Felix Anzio. Meskipun masih terkejut dan tak percaya akan apa yang didengarnya tentang Jürgen --- apalagi jelas-jelas dari mulut Felicia sendiri, ia tetap tak tega meninggalkan Felicia sendirian.
Pengkhianatan sebesar apapun yang dilakukannya --- Felicia hanyalah seorang manusia biasa. Mempunyai perasaan, melakukan kesalahan. Ia bukanlah seseorang yang bisa menanggung semuanya. Setidaknya, itulah kepercayaan yang ia pegang selama ini.
Kini, gilirannya untuk melindungi Felicia, berada di sisinya, seperti yang sudah dilakukan Felicia untuk dirinya dulu. Sebuah pilihan yang sulit --- bukan untuk Felicia, namun untuk Felix. Ia harus tahu jalan mana yang terbaik untuk Italia, untuk Resistenza, bahkan untuk Jürgen, khususnya untuk Felicia, tanpap harus melukai fisik ataupun perasaan siapapun. Tapi, itu semua memang tidak mungkin. Hanya ada satu cara.
Felix beranjak dari tempat duduknya. Dengan perlahan ia melangkah mendekati Felicia yang masih tersandar di depan pintu, lemas. Ia menghentikan langkahnya, tepat di depan gadis Italia berambut coklat gelap tersebut. Dilihatnya Felicia meringkuk, menutupi wajahnya dengan lututnya, tangannya yang penuh luka masih memeluk erat lututnya. Meski sangat pelan sekalipun --- masih dapat didengarnya suara bisikan Felicia.
"Tidak... Ma-maafkan... Maafkan aku..." berkali-kali kata-kata itu digumamkannya.
"... Tolong... Seseorang, percayalah..." Masih dapat didengar olehnya dari dalam kepalanya, suara-suara yang membentaknya --- menumpuk semua kesalahan padanya. Tangannya yang bergetar menutupi telinganya, seakan-akan tak ingin mendengar apapun lagi, sama sekali.
Felix duduk di depan Felicia. Dengan penuh perhatian Felix menatap teman masa kecilnya itu. "Feli..." dipanggilnya Felicia dengan perlahan. Sementara orang yang dipanggil namanya mengangkat wajahnya, untuk melihat sesosok lelaki yang ia kenal baik berada tepat di depannya.
Sontak gadis Italia itu langsung menjatuhkan tubuhnya yang kurus ke arah teman masa kecilnya tersebut. Tangannya yang basah karena air matanya sendiri mencengkeram erat pundak lawannya, mengeratkan genggamannya pada rompi hitam yang dikenakan Felix. Balas diusapnya rambut coklat tua Felicia, berusaha menenangkannya.
"Felix... Fel, tolong!" ucapnya dengan suaranya yang parau, disertai isak tangisnya yang memang tidak berhenti sejak tadi.
Felix menutup matanya, menghela napas panjang. Sebenarnya ini bukanlah jalan keluar yang sangat baik. Ini adalah satu-satunya jalan keluar. Sebenarnya bukan seperti ini yang ingin ia berikan untuk membalas budi. Bukan. Namun, hanya ini yang Tuhan berikan kepadanya.
"Siang ini juga, temuilah dia lagi, Feli,"
"... Temuilah Jürgen untuk terakhir kalinya,"
***
No comments:
Post a Comment