"Fischia il vento e infuria la bufera,
scarpe rotte e pur bisogna andar
a conquistare la rossa primavera
dove sorge il sol dell'avvenir.
A conquistare la rossa primavera
dove sorge il sol dell'avvenir.
Ogni contrada è patria del ribelle,
ogni donna a lui dona un sospir,
nella notte lo guidano le stelle
forte il cuore e il braccio nel colpir.
Se ci coglie la crudele morte,
dura vendetta farà dal partigian;
ormai sicura è la dura sorte
del fascista vile traditor.
Cessa il vento, calma è la bufera,
torna a casa il fiero partigian,
sventolando la rossa sua bandiera;
vittoriosi e alfin liberi siam."
scarpe rotte e pur bisogna andar
a conquistare la rossa primavera
dove sorge il sol dell'avvenir.
A conquistare la rossa primavera
dove sorge il sol dell'avvenir.
Ogni contrada è patria del ribelle,
ogni donna a lui dona un sospir,
nella notte lo guidano le stelle
forte il cuore e il braccio nel colpir.
Se ci coglie la crudele morte,
dura vendetta farà dal partigian;
ormai sicura è la dura sorte
del fascista vile traditor.
Cessa il vento, calma è la bufera,
torna a casa il fiero partigian,
sventolando la rossa sua bandiera;
vittoriosi e alfin liberi siam."
Lagu perjuangan untuk para anggota Resistenza pada saat itu, namun tak ada satupun di sekitar sana yang mengerti karena dinyanyikan dalam bahasa Italia. Sebuah keuntungan. Tiba-tiba, Felicia menangkap sesuatu di ekor matanya. Sesosok lelaki Jerman berseragam tentara yang tinggi, dengan rambut pirang yang tersisir rapih dan mata berwarna biru kobalt yang bening. Sosok yang Felicia kenal.
"Ciao, Jürgen!" sapa Felicia dengan ceria. Lelaki yang dipanggil namanya pun berbalik ke arah suara yang memanggilnya, mendapati Felicia berdiri di sana dan melambaikan tangannya. Ia pun membalas dengan gugup, "Ciao, Italien, um, Felicia," meskipun wajahnya tidak tersenyum, terpancar keramahan dari pandangan matanya yang tenang tapi tegas.
Felicia menghampiri Jürgen yang berdiri tak jauh darinya. Diberikannya senyum cerahnya pada Jürgen. "Kebetulan sekali! Danke sekali lagi untuk beberapa hari lalu. Apa kabar, Jürgen?" tanyanya dengan semangat. Felicia benar-benar tak mengira akan bertemu lagi dengan Jürgen di tempat yang sama. Suatu kebetulan yang menguntungkan! "Um, gut, danke. Kau sedang apa, Felicia?" tanya Jürgen sambil memalingkan mukanya yang memerah. Dia pemalu? Manis sekali, pikir Felicia.
"Ah ya, aku mau membeli bahan makanan lagi. Kalau boleh, bisa tolong temani aku ke pasar? Yaaah, untuk mencegah kejadian seperti beberapa hari lalu. Aku belum mahir berbahasa Jerman,"
"Uh, ya..." jawab Jürgen pelan, sepertinya tidak terlalu yakin. "Aku baru saja ingin kembali..." saat dilihat Jürgen wajah Felicia yang siap meminta maaf, ia langsung memotongnya, "Tak apa! Jalannya searah dengan pasar," Jürgen tersenyum kecil. Mata Felicia berbinar dan bersemangat. "Danke, Jürgen! Akhirnya kau tersenyum juga! Ja, lasst uns gehen!" Felicia langsung meraih tangan Jürgen, dan berjalan ke arah pasar. Ini pertama kalinya aku berjalan bersama tentara Jerman! Felicia sedikit terkikik membayangkan reaksi ayahnya jika ia sampai dilihat ayahnya seperti ini. Bisa jadi sebuah lubang peluru menganga di antara kedua matanya.
Felicia memperhatikan seragam Jürgen. Kemeja putih dan dasi hitam dibalik jaket biru keabu-abuan dengan kerah terbuka, lengkap dengan salib besi yang tergantung di dada kirinya. Celana panjang yang dipakainya berwarna senada. Berbeda dengan seragam tentara Jerman yang biasa dilihatnya. Karena pernasaran, Felicia memutuskan untuk menanyakannya langsung pada Jürgen. "Um, kalau aku boleh tahu, seragammu ini seragam apa, Jürgen?"
"Ini? seragam luftwaffe," jawab Jürgen sambil menarik kerah jaketnya. "He~ begitu. Aku belum pernah melihatnya sebelumnya," Jürgen hanya tersenyum menanggapi jawaban Felicia. Melihat senyum Jürgen, Felicia menyadari jantungnya berdebar lebih cepat. Tunggu, kenapa ini?
Selama di jalan, mereka memulai obrolan-obrolan ringan. Ternyata Jürgen mempunyai seorang kakak laki-laki yang seorang tentara juga. Berbeda dengan Jürgen, kakaknya adalah seorang sniper handal andalan Jerman. Namun sepertinya Jürgen memilih menghindari topik soal keluarga, begitu juga dengan Felicia. Jelas ia tak ingin rahasianya sebagai seorang Resistenza terbongkar.
Sesampainya di pasar, Felicia membeli telur dan tepung. Pasta lagi, untuk besok. "Kau sering berbelanja seperti ini? ... Di tempatmu yang dulu juga?" tanya Jürgen penasaran. Felicia tertawa. "Iya. Ayahku tak pernah mau menapakkan selangkah kaki pun ke luar rumah untuk berbelanja. Apalagi waktu perang seperti ini. Persediaan makanan hanya sedikit, bahkan kami belum menyiapkan cadangan untuk musim dingin. Susah sekali bisa mendapatkan bahan makanan seperti ini," mendengar itu, Jürgen hanya terdiam beberapa saat. Ia mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan memberikannya pada Felicia.
"... Cokelat? Untukku? Hebat! Darimana kau mendapatkan yang seperti ini?" Felicia kagum.
"Semalam lumayan sulit untuk Jerman. Biasanya ada sedikit jatah lebih untuk luftwaffe. Aku tak terlalu suka manis, jadi..." Semalam? Ah ya, serangan udara dan pendaratan Mustang, pesawat Amerika.
"Danke! Aku suka cokelat!" seru Felicia semangat. Senyum lega terpancar di wajah Jürgen.
"Bitte."
Kehadiran Jürgen benar-benar membantu. Ia tak perlu bingung lagi menanyakan sesuatu kepada penjualnya, Jürgen bisa menerjemahkannya.
Terpikir juga Felicia untuk melancarkan bahasa Jermannya, untuk 'bertahan hidup' di Berlin. Tiba-tiba, sebuah ide terlintas di kepala Felicia. Ya, pasti bisa! "Jürgen, aku punya ide!" Jürgen menoleh ke arah Felicia yang menenteng belanjaan di tangan kanannya.
"Bagaimana jika kita bertemu secara rutin agar aku bisa belajar bahasa Jerman? Sebagai gantinya, aku akan mengajarimu bahasa Italia juga!" seru Felicia bersemangat.
Wajah Jürgen tampak khawatir sesaat. "Tapi... aku bahkan belum tahu tentang dirimu. Maksudku --- kita baru saja bertemu beberapa hari lalu!" Felicia tersenyum sekilas, lalu menggenggam tangan Jürgen. "Karena itulah, kita bisa saling mengenal sedikit demi sedikit kan? Kita bisa berteman!"
"... Teman, ya..." mereka terdiam beberapa lama. Setelah beberapa saat akhirnya, Jürgen menjawabnya. "Hm. Aku juga ingin belajar bahasa Italia,"
Mendengar jawaban Jürgen, Felicia senang. "Kalau begitu, pohon Oak dekat sungai ya! Kau tahu kan?" Jürgen mengangguk.
Langit sore musim gugur hari itu berwarna jingga, dengan daun-daun kering yang menghiasi tiap sudut kota Berlin. Mungkin bagi Felicia lebih indah dari biasanya. Menunda niatnya kembali ke markas, Jürgen mengantar Felicia pulang. Digenggamnya tangan gadis Italia itu erat-erat.
Awal dari persahabatan mereka.
***
"Felicia! Kemana saja kau! Sudah gelap begini!" Benar saja dugaan Felicia. Ayahnya pasti marah jika ia pulang terlalu larut. Masih terhitung beruntung ayahnya tak melihat Jürgen.
Kenapa bisa terjadi seperti itu? Beberapa meter sebelum sampai rumah, Felicia sudah jelas khawatir jika ayahnya sampai melihat Jürgen. Demi keselamatan Jürgen, akhirnya Felicia memutuskan menghentikan langkahnya.
"Danke für ihre hilfe, Jürgen. Kau harus kembali ke markasmu sekarang, 'kan?"
Jürgen yang tadinya khawatir, sebenarnya tetap mau mengantar Felicia hingga benar-benar sampai rumah. Namun setelah beberapa kali dibujuk, akhirnya Jürgen pun kembali ke markasnya. Syukurlah.
"Maafkan aku, ayah. Pasarnya sedikit ramai tadi," Felicia membuat alasan asal-asalan dan tak diduga, ayahnya percaya. "Cepat masuk. Hari ini kita makan paella," jawab ayahnya sambil membalikkan badannya dan berjalan menuju meja makan. Paella? Mewah sekali. Mood ayah sedang bagus? Gumam Felicia sambil menyusul ayahnya menuju meja makan.
"Kau tahu, papa... Paella selalu mengingatkanku pada madre..." ujar Felicia sambil menyuapkan sesendok paella ke mulutnya. Simone tertegun. Dilihatnya putri tunggalnya itu sedih. Sudah pasti ia merindukan ibunya.
"Feli..."
"Tapi, dia sudah bahagia di sisi Tuhan sekarang. Mengingat itu selalu membuatku tenang," Felicia langsung memotong kata-kata ayahnya. Ia tak mau makan malam ini berubah suasana menjadi tidak enak.
Masih diingatnya saat kecil dulu, ibunya sering sekali membuatkan paella untuknya. Fiori Caridad Lombardi, ibu Felicia yang berdarah Spanyol-Italia, itu sebabnya Felicia memanggilnya madre. Sayangnya, ibunya meninggal 12 tahun lalu karena kecelakaan. Simone dan Felicia pun memilih untuk tidak membicarakannya, karena hanya semakin membuat mereka sedih.
"Kau dapat informasi tadi, Feli?" tanya ayahnya dengan lembut, mengalihkan topik pembicaraan. Felicia menaruh sendoknya di piring, berhenti makan untuk berbicara sebentar.
"Kabari keluarga Vargas. Mungkin mereka bisa memberi informasi soal ini," sahut Feli.
"Kakak beradik Schultz, seorang sniper dan seorang luftwaffe. Aku butuh informasi tentang mereka,"
To be continued.
***
Italiano
Fischia il vento e infuria la bufera, : Angin berhembus, badai berkecamuk,
scarpe rotte e pur bisogna andar : Meskipun sepatu kita rusak kita harus berjuang
a conquistare la rossa primavera : Untuk meraih musim semi
dove sorge il sol dell'avvenir. : Dimana matahari masa depan cerah terbit.
A conquistare la rossa primavera : Untuk meraih musim semi
dove sorge il sol dell'avvenir. : Dimana matahari masa depan cerah terbit.
Ogni contrada è patria del ribelle, : Setiap negara adalah sebuah rumah untuk pemberontak,
ogni donna a lui dona un sospir, : Setiap wanita punya keluhan untuknya,
nella notte lo guidano le stelle : Bintang-bintang membimbingnya melewati malam
forte il cuore e il braccio nel colpir : Menguatkan hati dan tangannya saat ada serangan.
Se ci coglie la crudele morte, : Jika kematian yang kejam menghampiri kami,
dura vendetta farà dal partigian; : Balas dendam akan datang dari para partisan;
ormai sicura è la dura sorte : Nasib yang kejam adalah hal yang pasti
del fascista vile traditor. : Untuk para fasis, pengkhianat yang keji.
Cessa il vento, calma è la bufera, : Angin berhenti berhembus, badai pun tenang,
torna a casa il fiero partigian, : Para partisan pulang dengan kebanggaan,
sventolando la rossa sua bandiera; : Bendera merahnya berkibar tertiup angin,
vittoriosi e alfin liberi siam. : Sebuah kemenangan, akhirnya kita bebas.
Deutsche
Um, gut, danke. : Um, baik, terima kasih.
Ja, lasst uns gehen! : Nah, ayo pergi sekarang!
luftwaffe : angkatan udara
Bitte : sama-sama
Danke für ihre hilfe : Terima kasih atas bantuanmu
Española
madre : ibu
No comments:
Post a Comment