Monday, August 20, 2012

Fröhliche Weihnachten, pt. 1


Di atas lembaran kain linen putih, terbaring lemah seorang remaja laki-laki berumur sekitar 19 tahun. Matanya yang berwarna biru kobalt buram dan terlihat lelah, menerawang ke luar jendela lewat lapisan tipis gorden putih. Di tangannya terdapat beberapa lembar kertas bertuliskan kata-kata dalam bahasa Jerman. Beberapa bagian sudah dicoret.

Jürgen Schultz, namanya. Kulitnya yang berwarna putih pucat dan mulus terbalut kaus biru muda kebesaran. Rambutnya yang pirang seperti gandum tersisir rapih ke belakang.

Ia menghela nafas panjang. "... Natal, ya..." ujarnya lelah. Ia mengalihkan pandangannya dari jendela, dan membaca lembaran-lembaran surat yang sudah kumal yang sejak tadi dipegangnya. Tinta hitam di atas kertas lusuh itu pun sudah mulai memudar. Mulailah Jürgen membaca kata per kata dalam bahasa Jerman itu.

'Jürgen, wie wollen sie tun?'
Jürgen, bagaimana kabarmu?

'Mir geht es gut. Ich bin sicher, Sie können sich selbst kümmern.'
Aku baik-baik saja. Aku yakin, kau bisa mengurus dirimu sendiri.

'Es ist fast Weihnachten! Es ist irgendwie kalt hier in Italien. Wie ist Berlin? Ich glaube immer noch kalt wie immer.'
Natal sebentar lagi! Di Italia pun sudah mulai dingin. Bagaimana di Berlin? Pasti dingin seperti biasanya.

'Und, um, Jürgen? Wie geht es ihrem Italiano lernen hin? Wage es nicht faul, und kann nicht verstehen, was ich sage, wenn ich wieder nach hausse kommen.'
Dan, uh, Jürgen? Sudah sejauh mana kau belajar bahasa Italia? Jangan coba-coba malas, dan kau tak mengerti apa yang kukatakan saat pulang nanti.

'Est ist zu früh aber, froh Weihnachten! Mit liebe, Felicia.'
Masih terlalu cepat, tapi Selamat Natal! Salam, Felicia.

Senyum tipis terpulas di wajah Jürgen, bersamaan dengan sebulir air mata yang tanpa sadar perlahan menuruni pipinya. Surat dari Felicia Lombardi, seorang gadis Italia sekaligus teman Jürgen.

***

Perang Dunia II-lah yang mempertemukan keduanya. Saat keluarga Lombardi baru pindah ke Berlin, sepulang dari berbelanja bahan makanan Felicia pernah dicegat oleh seorang tentara Jerman. Tentara bermuka garang itu terus berteriak dalam bahasa Jerman, Felicia yang hari itu belum bisa berbahasa Jerman hanya bisa kebingungan dengan ekspresi ketakutan. Felicia mencoba memakai bahasa Jerman yang diingatnya jika sewaktu-waktu diperlukan, dengan harapan tentara Jerman tersebut akan mengerti.

"Um, sir? Ke-kein Deutsche! Sprechen sie Englisch? Italienisch?"

Sang tentara Jerman malah berteriak semakin keras --- dan lagi-lagi dalam bahasa Jerman, sementara Felicia  makin bingung. Rasanya ia ingin kabur dari tempat itu secepatnya.  Akhirnya Felicia memutuskan untuk memakai bahasa Inggris, daripada terperangkap dalam situasi seperti ini lama-lama.

"I'm sorry! I don't understand what are you sa---"

Kata-kata itu tercekat di tenggorokannya, saat sebuah senapan diarahkan ke kepala Felicia. Felicia gemetar ketakutan, tapi ia tak bisa melangkah sedikit pun dari tempat itu. Ia hanya diam, pasrah menunggu sang tentara menarik pelatuknya.

Saat itulah, seorang tentara lain yang berada tak terlalu jauh dari mereka berteriak. Sepertinya memanggil tentara yang membentak Felicia. Tentara itu tinggi dan berambut pirang gandum yang tersisir rapi ke belakang. Ia membentak tentara yang sebelumnya membentak Felicia. Sepertinya marah sekali. Felicia tercengang melihat kedua tentara itu saling berteriak bersahutan dalam bahasa Jerman. Setelah selesai dibentak, tentara yang membentak Felicia tadi pergi.

Tentara berambut pirang gandum itu menghampiri Felicia yang masih berdiri terpaku. Ia mencoba menenangkan Felicia.

"Anda bisa berbahasa Jerman, nona?" Felicia menggeleng. Mendengar sang tentara berbicara dalam bahasa Inggris, Felicia menghela nafas lega. "Saya bisa berbicara dalam bahasa Inggris," Tentara itu mengangguk. "Maafkan dia tadi. Ia hanya minta anda memperlihatkan kartu identitas anda,"

"... Begitu..." Felicia mengeluarkan sebuah berkas berisi identitasnya., lalu menyodorkannya pada sang tentara. "Felicia Lombardi, 19 tahun, Italien. Aku baru pindah ke Berlin beberapa hari lalu. Dan, um, jika aku boleh tahu, dengan siapa aku berbicara?" Senyum cerah terpulas di wajah Felicia.

"Ah, maaf. Jürgen Schultz, 18 tahun," balasnya. Ia mengembalikan kertas identitas Felicia. "Senang bertemu denganmu,  Jürgen!" Felicia menjabat tangan Jürgen. Jürgen mengangguk. "Ng... aku juga. Kau tak apa... Felicia?" Wajah Jürgen sedikit memerah.

Felicia menjawab dengan ceria, "Aku baik-baik saja, danke!" kembali Felicia tersenyum. Jürgen benar-benar tentara Jerman paling baik yang pernah ia temui, meskipun ia tak tersenyum sedikit pun. Khas orang Jerman. "Kalau begitu, boleh aku pulang sekarang? Aku tak mau membuat orangtuaku khawatir," setelah beberapa saat, Jürgen mempersilahkan Felicia pulang. "Ah, iya. Silahkan. Berhati-hatilah," jawab Jürgen sambil mengangkat topinya.

Felicia melangkahkan kakinya dari tempat itu dengan senang. Ia membuka pintu kayu di depannya yang sedikit berdecit keras. "Aku pulang, ayah!" Felicia menutup pintu rumahnya dan menguncinya. "Hm, bienvenuto, Felicia. Kau dapat tepungnya?" Sahut seorang laki-laki paruh baya berambut coklat gelap dari dapur. Simone Lombardi, ayah Felicia. "Si, si! Bahkan aku bisa membeli gula juga!" Felicia menaruh kantung belanjaannya di meja makan. Bagi mereka, bisa membeli gula saja adalah hal yang luar biasa, apalagi karena kelangkaannya saat Perang Dunia II pecah.

Tak berapa lama, ayah Felicia keluar dari dapur, membawa dua piring pasta yang baru saja matang. Ia menaruhnya di meja makan.

"Selamat makan, ayah!" ujar Felicia setelah berdoa. Untuk beberapa waktu ruang makan tenggelam dalam keheningan, kecuali suara dentingan garpu. Setelah beberapa saat, akhirnya ayah Felicia mulai berbicara, "Ada kabar bagus dari Italia," ia meletakkan garpunya di piringnya yang sudah kosong. "Beberapa tentara Jerman berhasil dipukul mundur siang tadi,"

"Kemenangan lagi untuk La Resistenza Italiana!" seru ayah Felicia dengan semangat.

Simone Lombardi dan Felicia Lombardi, ayah-anak berkebangsaan Italia anggota La Resistenza Italiana. Resistenza, gerakan orang Italia yang pro-sekutu saat zaman Perang Dunia II. Tujuan mereka pindah ke Berlin pun tak lain untuk memata-matai pergerakan tentara Jerman dan mencuri informasi vital Jerman. Tentu saja dengan sedemikian rupa mereka menutupi identitas mereka dari warga sekitar.

Felicia merenung. Selama ini, ia menganggap kematian tentara Jerman adalah hal biasa, yang malah terhitung bagus untuk Resistenza. Tapi, sekarang ia berpikir juga bagaimana mudahnya Jürgen terbunuh kapan pun seperti tentara-tentara Jerman tadi.

Mungkin lebih baik untuknya jika ia merahasiakan pertemuannya dengan Jürgen pada ayahnya. Mungkin...

***

Malam semakin larut. Felicia naik ke atas ranjangnya, menatap langit-langit kayu kamarnya. Kejadian sore tadi tak bisa dilupakannya. Masih terbayang sosok tinggi Jürgen yang menolongnya. "Aku ingin tahu lebih banyak tentang dia..." Perlahan Felicia menutup matanya untuk tidur.



To be continued

***

Italiano
bienvenuto : Selamat datang
Si, si : Ya, ya
La Resistenza Italiana   : An Italian Resistance

Deutsche
danke : terima kasih 
Frohliche Weihnachten : Selamat Natal
Um, sir? Ke-kein Deutsche! Sprechen sie Englisch? Italienisch? :
Uh, tuan? Saya bukan orang Jerman! Anda bisa berbicara dalam bahasa Inggris? Italia?




No comments:

Post a Comment